
Az dan Sidney tiba di kamp dan langsung disambut oleh seorang pemuda yang diutus langsung oleh kapten John karena beliau tidak sedang berada di kamp saat itu untuk menyambut mereka langsung.
"Axel.... Ternyata orang yang harus aku sambut itu memang benar kamu." ucap ramah pemuda itu dengan senyum.
"Hai Luth, apa kabar?" ucap Axel tak kalah ramah.
"Baik kawan. Kapten John menghubungi aku sebelumnya meminta aku menyambut seseorang dan menunjukkan tempat yang sebelumnya menjadi kamar tempat kau tidur. Aku tebak orang yang aku harus sambut itu kamu dan ternyata benar." ucap penuh semangat Luth.
"Senang bisa kembali bertemu dan berlatih bersama denganmu." tambahnya.
"Terima kasih kawan. Ah ya, aku kali ini membawa sepupuku kemari. Kau panggil saja dia Sid." ucap Axel memperkenalkan Sid pada rekan berlatihnya.
Usai acara perkenalan mereka akhirnya memasuki kamp. Axel dan Sid diantar menuju kamar mereka untuk menyimpan barang bawaan lalu segera bergabung dengan yang lainnya di lapangan.
"Wah wah wah, hai semua lihat siapa yang datang!" seru seseorang saat melihat Axel berjalan mendekat.
Mereka kebetulan sedang istirahat latihan saat Axel tiba sehingga mereka semua dapat menyambut kedatangan Axel yang menjadi teman mereka selama beberapa hari di kamp itu.
Axel tak lupa memperkenalkan Sid pada yang lainnya. Tidak lama setelah itu pelatihan kembali dimulai dan Axel juga Sid langsung ikut dalam pelatihan itu.
Sid yang memang sudah terbiasa dengan pelatihan fisik tidak canggung saat mengikuti pelatihan. Mereka berlatih dengan penuh semangat.
"Sebenarnya mereka dari keluarga besar mana?" tanya seorang pria tua pada rekannya sambil menatap ke arah para anak muda yang tengah berlatih.
"Aku juga tidak tahu dari keluarga mana mereka berasal. Jika ingin tahu, kau bisa tanya langsung pada kapten John karena dia yang membawa mereka." jawab rekannya.
"Ada apa, tampaknya kau sangat tertarik dengan pemuda itu?" tanya rekannya yang lain.
"Siapa yang tidak tertarik ingin tahu lebih banyak tentang mereka yang di hari pertama latihan sudah sangat mampu menjalani tanpa canggung dan bahkan mereka jauh lebih baik dari mereka yang sudah lama berlatih di tempat ini." jawab si pria tua.
"Aku tahu pemuda yang bertubuh kecil itu. Dia sebelumnya pernah berlatih selama beberapa hari dan berhasil menjalankan misi latihan penyelamatan dengan sangat baik." ucap seorang pria membuat 3 orang rekannya menatap ke arahnya.
"Mengapa kami tidak pernah melihat pemuda itu dan tidak mengenali dia jika dia memiliki bakat sehebat itu?" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Kalau tidak salah waktu itu kalian sedang keluar kota selama seminggu." jawab pria itu.
"Siapa nama pemuda itu?" tanya pria tua itu.
"Axel, dan jika kau bertanya karena ingin merekrut dirinya untuk kau latih secara langsung, sebaiknya kau singkirkan niat itu. Karena menurut kapten John, pemuda itu hanya ingin berlatih tapi tidak untuk bergabung dengan militer." jawab rekannya sambil menatap ke arah Axel dan lainnya berlatih.
"Sayang sekali. Siapa nama keluarga pemuda itu?" tanya pria tua itu.
"Aku juga tidak tahu." jawab rekannya.
...****************...
Di lain tempat seseorang sedang mengamuk di dalam ruangannya. Semua benda di sekitarnya habis dihancurkan olehnya demi menyalurkan amarahnya.
Dia segera menghubungi seseorang setelah puas mengamuk.
"Bagaimanapun caranya kalian harus menemukan keberadaan tua bangka itu. Jika tidak, aku tidak akan segan menjadikan kalian makan siang para buaya kelaparan itu." ucapnya penuh emosi di sambungan telepon tanpa menunggu sapaan dari si penerima panggilan.
"Prang...." benda pipih itu terlempar mengenai sebuah cermin menimbulkan suara pecahan yang sangat besar.
"Istriku, istriku, istriku, apakah kau tidak malu mengatakan itu? Kau harus ingat bahwa status kalian adalah MANTAN suami dan istri yang sama halnya dengan orang asing." ucap bayangan yang selalu berdebat dengannya setiap kali dia dikuasai emosi.
"Status perceraian kami tidak sah karena yang menggugat aku bukanlah Az. Dia sedang koma saat itu jadi, Az tetap istriku." bantah Elliot.
"Kau lupa? Surat itu ada bubuhan tanda tangan kalian berdua. Surat itu adalah surat cerai yang kau berikan padanya sebelumnya. Tuan Samuel hanya membantu mengabulkan keinginan kau untuk bercerai. Mungkin sebelum kecelakaan dan koma karena sakit hati melihat kelakuan bejat kau dan si ja*ang itu, Az menandatangani surat itu dan membawanya." ucap bayangan itu sambil tersenyum mengejek ke arah Elliot.
"Bukankah tuan Samuel Berza itu sangat baik hati karena mewujudkan impian mu untuk segera bercerai dan dapat bersatu dengan jal*angmu itu?" tambahnya.
"TIDAK.... Bruk...." ucap murka Elliot sambil menghantam bayangan itu dengan kursi.
Bayangan itu hanya tersenyum mengejek dirinya membuat Elliot meluruhkan tubuhnya ke lantai. Air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Maafkan aku Az, maafkan aku." hanya ucapan lirih itu yang keluar dari mulutnya setelah itu.
__ADS_1
Pria kaya, arogan, dan bermartabat itu kini tampak mengenaskan. Dia terlihat sebagai pria yang sangat kasihan, lemah dan putus asa.
"Menyesal hem? Jika menyesal, seharusnya kau tebus kesalahan yang kau perbuat dengan membiarkan dia memilih jalannya untuk bahagia." ucap bayangan itu lalu menghilang.
Perlahan mata Elliot menutup dan tubuhnya ambruk ke lantai. Karena berhari-hari tidak tidur dan terlalu sering mengkonsumsi alkohol akhirnya tubuhnya ambruk.
...****************...
"Ada apa?" tanya seorang pemuda pada anak buahnya yang masuk ke dalam ruangan miliknya.
"Tuan Samuel Berza meninggalkan mansionnya dan kami kehilangan jejak dia bos." jawab anak buahnya.
"Apakah pak tua itu sedang menghindari musuhnya?" gumam pemuda itu.
"Apakah cucunya ikut dengan dia?" tanya pemuda itu.
"Sepertinya nona muda Berza kembali menjadi Axel dan kembali ke kamp pelatihan militer bos. Kali ini seorang pemuda ikut bersamanya." jawab anak buahnya.
"Seorang pemuda?" beo pemuda itu dengan kening berkerut.
"Ya, dari yang kami dapat, pemuda itu bernama Sid dan mereka tinggal dalam satu kamar yang sama di dalam kamp itu." jawab anak buahnya dengan ragu takut bosnya emosi.
"Tinggal satu kamar hm?" berbeda dari dugaannya, bosnya malah tersenyum mendapatkan laporan itu.
"Berarti salah satu dari dua pelayan pribadinya ikut dengan dia." gumam pemuda itu.
"Aku akan pergi selama beberapa hari atau mungkin bulan. Segala urusan di sini menjadi tanggung jawab mu selama aku pergi." ucapnya tanpa bantahan.
"Ah, tetap cari tahu keberadaan tuan Samuel Berza dan pastikan keselamatannya. Aku tidak ingin gadis eh wanitaku bersedih karena orang tua itu terluka." ucap pemuda itu.
Dia meralat kata gadis mengingat status Az adalah wanita yang pernah menikah. Walaupun begitu, dia tidak perduli dan tetap menginginkan Az menjadi miliknya.
Terima kasih banyak atas banyak doa dari para readers yang mendoakan kesembuhan author. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ jadi terharu karena ternyata banyak yang sayang author.
__ADS_1
semoga author dapat terus menulis cerita yang menarik kedepannya sebagai ucapan terima kasih.
Selamat membaca 😊