
Sang dokter hanya menghela nafas sejenak sambil menatap wajah terpejam Elliot. Kemudian menatap wajah pria tua yang setia menjaga Elliot yang masih setia memejamkan matanya.
"Untuk beberapa kasus pada pasien, tidak hanya kondisi tubuhnya saja yang menjadi faktor utama agar dia segera membuka matanya. Tekad untuk bertahan hidup dan segera bangkit yang tidak kuat adalah salah satu alasan pasien belum bangun dari tidur panjangnya." jelas sang dokter.
"Maksudnya adalah Elliot belum sadar karena dia tidak memiliki keinginan untuk bertahan hidup?" tanya pria tua itu.
"Bisa dikatakan seperti itu tuan Heron." jawab dokter.
"Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat Elliot kembali sadar dok?" tanya tuan Heron atau Elliot memanggil dia dengan panggilan paman Ron.
"Beberapa kali tuan Elliot menggumamkan nama seseorang. Orang bernama Az. Bisa jadi orang itu adalah orang yang sangat ingin dia temui. Apakah anda mengenal orang bernama Az ini?" tanya dokter.
"Dia adalah mantan istri dari Elliot." jawab tuan Heron.
"Kalau bisa anda meminta mantan istri dari tuan Elliot hadir memberikan semangat untuknya. Yang dibutuhkan tuan Elliot saat ini adalah dukungan dari orang yang dia anggap spesial." jelas sang dokter.
Setelah menjelaskan beberapa hal dokter beserta perawat yang mendampinginya meninggalkan ruangan itu. Tinggallah tuan Heron menatap sendu wajah tertidur Elliot.
"Sungguh malangnya dirimu. Kehilangan ibu diusia dini dan mendapatkan tekanan untuk menjadi penerus perusahaan. Tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang ataupun sekedar menikmati masa kanak-kanak dan remaja. Kini, kau juga harus kehilangan orang yang kau kasihi karena salah paham yang berkepanjangan dan terlambat menyadari betapa pentingnya dia bagi dirimu." gumamnya sambil menyeka air matanya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membantu putramu Mili?" gumamnya lagi sambil menatap keluar jendela.
"Az maafkan aku. Az Az maaf." sesekali Elliot akan membisikkan kalimat itu.
"Dimana aku bisa menemukan wanita yang sangat dirindukan Elliot? Sedangkan Elliot dengan segala sarana yang dia miliki saja tidak bisa menemukan wanita itu." gumamnya tertunduk lesu.
Pria tua itu adalah saksi bagaimana Elliot tumbuh tanpa kasih sayang. Dia tumbuh dengan beban tanggung jawab sebagai calon pewaris tunggal perusahaan milik ayahnya.
Elliot kehilangan sang ibu yang menyayangi dirinya karena keserakahan ayah kandungnya. Sehingga, Elliot tumbuh menjadi anak pendendam. Saat berhasil memimpin perusahaan dan membentuk sebuah Genk mafia yang cukup besar, hal pertama yang dia lakukan adalah memusnahkan sang ayah beserta keluarganya yang telah membuat dirinya kehilangan sang ibu yang telah menyayangi dan menjaga dirinya.
__ADS_1
Tuan Heron yang sudah berjanji pada saudarinya akan mendampingi dan melindungi Elliot, terpaksa harus menyamar menjadi karyawan biasa yang selalu berada di sekitar Elliot.
Semenjak itu, Elliot yang tahu identitas asli dirinya selalu memperlakukan dia dengan baik dan kadang mengungkapkan banyak keluhan di depannya saat hanya ada mereka berdua saja.
Heron menganggap Elliot bukan sekedar tanggung jawab atas janjinya pada sang adik, dia bahkan menganggap Elliot seperti anak kandungnya sendiri.
"Elliot, sadarlah nak. Jika kau sungguh merindukan dia, kau harus segera bangun untuk mencarinya." ucap tuan Heron sambil menggenggam tangan Elliot.
"Paman yakin, kau akan bisa menjalani hidup yang lebih baik. Mereka sudah tidak ada lagi untuk menentang kebahagiaan mu. Kau harus bahagia demi membuat pengorbanan ibumu tidak sia-sia." gumamnya lirih.
...----------------...
"Di mana istriku bibi Meg?" tanya Alex sambil melangkah menuruni tangga saat melihat bibi Meg.
"Nyonya muda sedang berjalan-jalan di halaman, tuan muda." jawab bibi Meg.
Alex yang memang sudah sangat lapar karena tidak sempat mengisi perutnya dari kemarin siang, segera berjalan menuju ruang makan untuk mengisi perutnya agar dapat menyusul Az.
"Jangan biasakan makan dan istirahat tidak teratur saat sibuk sekalipun tuan muda. Kesehatan tuan muda sangat penting terlebih sekarang sudah ada nyonya muda yang butuh perhatian, perlindungan dan kasih sayang anda." ucap bibi Meg saat Alex selesai sarapan.
"Bibi Meg benar. Aku akan lebih memperhatikan kesehatan mulai sekarang. Aku harus lebih kuat untuk bisa menjaga orang terkasihku. Terima kasih bibi Meg." ucap Alex lalu segera beranjak dari tempatnya.
"Kau dari mana sayang?" tanya Alex melihat Az berjalan memasuki rumah.
"Kau pasti sudah bertanya pada orang lain di mana keberadaanku." Jawab Az.
" Untuk apa bertanya lagi jika sudah tahu jawabannya." ucapnya lagi setelah mendapat anggukan kepala dari Alex.
"Aku hanya ingin mendengar suaramu sayang." ucap Alex.
__ADS_1
"Kau masih lelah bukan? Mengapa tidak istirahat saja?" tanya Az melihat wajah Alex yang masih terlihat lelah dengan lingkar hitam di sekitar matanya.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak jika kau tidak menemaniku." ucap Alex.
"Bukankah lebih dari dua puluh tahun hidupmu kau lalui tanpa mengenal aku dan kau masih bisa tidur nyenyak?" ucap Az.
"Itu kasus yang berbeda sayang. Saat itu aku tidak mengalami candu akan kehadiran dirimu. Sekarang, beberapa hari berada jauh darimu aku bahkan hanya bisa tidur selama 3 jam saja." jelas Alex.
"Lalu, apa mau mu?" tanya Az mulai melunak melihat wajah lelah Alex.
"Kau hanya perlu menemani aku di kamar agar aku dapat tidur." jawab Alex.
"Baiklah, tapi hanya sekedar berada di dalam kamar yang sama saja." ucap Az.
"Terima kasih sayang." ucap Alex lalu meraih tangan Az.
Mereka berjalan beriringan menuju lantai atas tempat kamar Alex.
"Kau tidurlah, aku ingin membersihkan diri karena gerah sehabis olah raga ringan tadi di taman." ucap Az lalu segera mengambil pakaian di lemari kemudian melangkah menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban Alex.
Az keluar kamar mandi sudah menggunakan pakaian santai yang tadi dia bawa. Sementara Alex masih duduk dengan mata yang sudah agak redup tapi tetap dipaksakan terbuka.
"Tidurlah, aku akan tetap di sini hingga kau bangun." ucap Az yang sudah duduk di sebelah Alex.
Karena tidak tega melihat Alex yang sangat mengantuk dan lelah, Az memutuskan menemani Alex. Hitung-hitung membalas kebaikan Alex terhadapnya yang selalu pria itu lakukan tanpa Az minta sekalipun.
Dalam waktu singkat Alex sudah terlelap dengan tangan memeluk pinggang Az. Sedangkan Az memutuskan untuk membaca beberapa buku tentang bisnis dan segala hal berurusan dengan perusahaan mengingat dia akan kembali ke perusahaan saat masalah musuh yang misterius itu terungkap.
"Mengapa dia bisa se-pulas itu tidur di dekatku? Apakah dia tidak memiliki kewaspadaan sama sekali terhadap aku, orang yang baru sebentar dia kenal?" gumam Az setelah mendengar dengkuran halus dari pria yang sedang lelap sambil melingkarkan tangan di perutnya itu.
__ADS_1