
Az duduk di sofa kamar sambil membuka beberapa pesan yang masuk ke benda pipih miliknya. Ada beberapa pesan dari sang kakek juga 2 pesan dari Sid.
Ada juga beberapa panggilan dari keluarga Devan. Az memilih membaca pesan dari sang kakek.
[Apakah kau baik-baik saja di sana, Az sayang?]
[Kakek merasa tidak tenang. Apakah kau bisa menyusul kakek ke sini saja? Kakek khawatir dengan keadaanmu jika kau tidak ada di sisi kakek saat ini.]
[Mengapa kau tidak membalas pesan dari kakek? Bahkan kakek tidak bisa menghubungi nomor mu.]
Ada banyak pesan dari sang kakek. Dari tanggal pesan itu dikirim, Az merasa terharu. Ternyata walaupun tidak melihat langsung, kakeknya tahu kalau terjadi hal buruk padanya.
Ya, hari dikirim pesan itu bertepatan dengan hari dia mengalami serangan di hutan yang menyebabkan dirinya harus dirawat di rumah sakit. Az lalu membuka pesan dari Sidney setelah itu.
[Aku kembali ke perusahaan mengurus masalah cabang perusahaan yang tiba-tiba muncul. Aku harap saat nona sudah lebih baik nona dapat membaca pesan ini dan segera menghubungi aku agar aku lebih tenang.]
[Semoga aku tidak salah dengan mempercayakan keselamatan nona pada pria itu. Aku tidak memiliki kemampuan menentang dan melawannya sehingga nona harus bersamanya untuk dirawat. ]
__ADS_1
[Aku baik-baik saja. Dia menjagaku dengan sangat baik. Kau urus saja yang harus kau urus lebih dulu. Aku aman di sini.]
Az memilih membalas pesan Sidney terlebih dahulu agar pengawal sekaligus asisten pribadinya itu tidak khawatir lagi.
"Tut tut tut." Az lalu menghubungi nomor sang Kakek.
"Halo Az sayang." tuan samuel langsung mengangkat panggilan Az.
"Ya kakek, apakah kakek baik-baik saja?" tanya Az.
"Kakek baik sayang. Mengapa kau tidak ada kabar selama ini? Bahkan Sid yang turun tangan mengurus masalah cabang perusahaan hanya memberikan kabar bahwa kau sedang sibuk dengan sesuatu." tanya tuan Samuel.
"Kau masih di kamp?" tanya tuan Samuel.
"Aku sedang berlatih di luar kamp saat ini. Aku akan menghubungi Kakek lagi nanti ya." ucap Az.
"Baiklah sayang. Kau jangan terlalu lelah dan ingat jangan terlambat makan. Kau bisa sakit nanti." ucap tuan Samuel.
__ADS_1
"Walaupun aku mau, aku tidak akan bisa melewatkan waktu makan. Jika tidak, orang itu akan semakin menjadi." gumam Az setelah panggilan dengan sang kakek terputus.
"Tok tok tok." setelah itu pintu kamar diketuk dari luar.
"Masuk." ucap Az.
"Tuan muda mengatakan sebentar lagi makan siang akan siap. Sebaiknya nyonya muda membersihkan diri lalu segera turun untuk makan bersama." ucap bibi Meg setelah membuka pintu.
"Baiklah." ucap Az.
Az memutuskan untuk mandi dulu. Setelah mandi dan menggunakan pakaian santai, Az segera ke bawah.
"Di mana Alex?" tanya Az saat di ruang makan hanya melihat bibi Meg.
"Tuan sedang mandi nyonya muda." jawab bibi Meg sambil menyusun makanan yang sudah Alex siapkan untuk Az.
Az duduk di kursi dan tiba-tiba Alex muncul lalu dengan segera mengambil piring. Pria itu dengan telaten menyendok makanan ke dalam piring lalu memberikan piring itu pada Az.
__ADS_1
Az memperhatikan Alex yang ternyata baru selesai mandi. Rambut yang masih agak basah dan aroma sabun yang menguar dari tubuhnya menegaskan hal itu. Pria itu tampak semakin memukau dengan baju kaos yang mencetak tubuh kekarnya.