
Sementara tuan Zenith ketakutan karena ulah Az yang mengacungkan belati ke arah adik kesayangannya yang selalu dia carikan kepuasan, Derri berdiri di depan pintu ruangan itu yang tertutup dengan kening berkerut.
"Mengapa begitu hening di dalam sana?" gumamnya.
"Apakah tuan Zenith sudah kehilangan kemampuannya dalam menangani seorang wanita karena terlalu sering melakukan hal itu?" gumamnya lagi.
"Ah itu bukan urusanku. Aku hanya bertugas untuk mencegah siapapun mengganggu waktu tuan Zenith untuk menikmati surga bersama wanita itu malam ini." ucapnya lagi.
Sementara di dalam kamar, Az tersenyum sinis melihat wajah pucat yang dibanjiri keringat dengan mata terbelalak dari lawannya.
"Tahu takut juga kau ba*ci?" ucap Az lalu mulai menggores dada si pria itu membuat darah mengalir dari luka gores itu.
Tuan Zenith hanya bisa mengernyit kesakitan tanpa bisa mengeluarkan keluhan. Tubuhnya bergetar air mata sudah membasahi pipinya karena dia semakin ketakutan melihat Az sungguh berani menggunakan belati untuk melukai dirinya.
"Bukankah kau sangat menyukai melihat orang tidak berdaya di bawah kendali dirimu?" tanya Az mengarahkan belati ke leher tuan Zenith.
"Sekarang kau harus merasakan bagaimana rasanya tidak berdaya di bawah ancaman dari orang lain." ucap Az lalu menggores leher tuan Zenith namun goresannya tidak dalam sehingga tidak melukai pembuluh darahnya.
"Tenang, itu tidak akan membuat dirimu kehilangan nyawa karena kematian terlalu ringan untuk dirimu." ucap Az lagi.
"Sekarang, aku ingin menjadi seorang pahlawan yang menyelamatkan para gadis baik-baik dengan mengurangi jumlah lelaki breng*ek yang bersiap menghancurkan impian masa depan mereka." ucap Az lagi lalu memotong benda kesayangan dari tubuh tuan Zenith.
"Brak...." bertepatan Az selesai memotong benda itu, pintu ruangan itu dibuka paksa dari luar.
"Az......!" seru Alex yang baru memasuki ruangan itu.
Melihat Az berdiri di ruangan itu Alex segera memeluk tubuh wanita yang membuat napas dan detak jantungnya hampir berhenti hanya karena mendengar bahwa wanita itu menghilang.
"Maafkan aku, aku terlambat." ucapnya.
" Kau tidak terlambat dan aku baik-baik saja." ucap Az.
Az membalas pelukan Alex karena tubuh pria itu bergetar. Az terkejut setelah mengurai pelukannya, dia melihat Alex mengeluarkan air mata.
"Aku tidak terluka." ucap Az lalu menghapus air mata di pipi Alex.
Alex kembali memeluk erat tubuh Az seolah takut wanita yang dia peluk akan kembali hilang.
__ADS_1
"Aku ingin kau menyelamatkan nyawa pria itu." ucap Az melihat wajah tuan Zenith yang semakin pucat.
"Kenapa? Dia pantas untuk.....
"Aku tidak ingin dia mati dengan mudah. Aku ingin dia menderita agar dia menyesal karena memiliki niat busuk terhadapku." potong Az membuat Alex mengangguk paham.
Alex segera membuka jas yang dia kenakan lalu memakaikan pada Az.
"Panggil dr. Andrew segera." ucap Alex pada bawahannya yang berdiri di luar ruangan.
Alex sudah menyertakan seorang dokter kepercayaannya dalam perjalanan setelah mengetahui posisi Az karena takut terjadi sesuatu terhadap Az. Tanpa banyak bicara dokter itu membantu menghentikan pendarahan pada luka tuan Zenith.
"Mengapa dia tidak bergerak ataupun bersuara?" tanya dokter Andrew.
"Aku lupa untuk melepaskan totok kunci pergerakan pada tubuhnya." ucap Az.
Az tiba-tiba merasa tidak nyaman pada tubuhnya. Rasa panas di tubuhnya kembali terasa membuat dirinya gelisah.
"Ada apa sayang?" tanya Alex.
"Tidak ada apa-apa." jawab Az.
"Bantu aku ke kamar mandi." ucap Az yang semakin merasa tidak nyaman.
"Sayang....." seru kaget Alex karena Az tiba-tiba pingsan.
"Andrew periksa istriku." ucapnya.
"Kita bawa ke kamar lain dulu." ucap dr. Andrew setelah memeriksa sesaat keadaan Az.
"Ada apa dengan istriku?" tanya Alex.
"Sepertinya di dalam tubuhnya ada obat perang*ang yang cukup kuat." ucap dr. Andrew.
"Apakah itu berbahaya?" tanya Alex.
"Karena kau suaminya, maka obat itu tidak akan berbahaya. Itu hanya butuh melakukan hubungan intim untuk menetralkan nya." jawab dr. Andrew.
__ADS_1
"Apakah tidak ada cara lain?" tanya Alex.
"Mengapa kau butuh cara lain jika dia benar-benar istrimu? Atau jangan-jangan kalian belum pernah melakukan hal itu?" tanya dr Andrew menatap penuh selidik ke arah Alex.
"Pernikahan kami belum sah dan aku tidak ingin membuat dia kecewa karena terkesan memanfaatkan keadaan." ucap Alex.
"Oh, tapi dia harus segera ditolong jika tidak, dia bisa menderita kelumpuhan." ucap dr. Andrew.
"Apa yang kau khawatirkan? Dia tidak akan marah karena tahu itu demi dirinya." ucap dr. Andrew sambil tersenyum.
"Atau jangan-jangan, kau tidak tahu caranya? Biar aku ajarkan kalau begitu." ucap dr. Andrew semakin menggoda Alex.
"Berhenti mengucapkan kalimat sampah dan berikan cara lainnya." ucap Alex.
"Dia harus direndam dalam air dingin dan aku akan menyuntikkan sedikit obat untuk sedikit membantu menetralkan efeknya." ucap dr Andrew berhenti membujuk Alex.
"Tidak menyenangkan, bagaimana bisa si kaku itu memilih membiarkan istrinya berendam air dingin semalaman dari pada melakukan hal menyenangkan untuk dilakukan. Bukankah itu juga membantu mereka untuk cepat mendapatkan anak yang menggemaskan?" gerutu dr. Andrew saat Alex mengangkat tubuh Az menuju kamar mandi.
Mereka masih tetap di gedung itu namun semua anak buah tuan Zenith sudah berhasil dilumpuhkan semua.
"Panas...." gumam Az.
Tubuhnya sudah penuh keringat dia masih belum membuka matanya.
"Ah, sayang jangan memancing aku." ucap Alex karena Az tiba-tiba memeluknya dan menempelkan bibirnya ke leher Alex.
Alex segera meletakkan tubuh Az ke bak mandi lalu mengucurkan air dingin ke dalamnya. Sementara Alex sibuk mengurus Az, anak buahnya di luar membawa tubuh tuan Zenith menuju markas. Sedangkan untuk bawahannya, mereka segera dibereskan hingga tidak meninggalkan jejak sedikitpun.
"Bagaimana dengan nyonya muda?" tanya Helen pada dr. Andrew saat melihat dokter muda itu keluar dari ruangan.
"Jangan tanya itu dulu. Sebaliknya aku tanya dulu. Apakah bos kalian itu masih normal?" tanya balik dokter Andrew.
"Mengapa anda menanyakan pertanyaan konyol?" tanya Helen menatap heran dokter Andrew.
"Bukankah seharusnya dia cukup melakukan tugas suami istri di ranjang saat istrinya menderita obat bius yang kuat? Kenapa juga dia harus membuat tugas yang lebih merepotkan dengan merendam tubuh istrinya di dalam air dingin?" tanya dokter Andrew.
"Bos bukan pria mesum yang berotak kotor seperti dirimu." tiba-tiba Jo datang dari belakang mengejek dr. Andrew.
__ADS_1
"Dari mananya disebut mesum jika dia melakukannya dengan istrinya sendiri?" protes si dokter muda.
"Situasi mereka sedikit berbeda dari pasangan pada umumnya." jelas Jo.