
Jiwa ingin tahu dari dokter nyentrik itu seketika muncul mendengar ucapan Jo.
"Situasi seperti apa yang terjadi antara keduanya?" tanya dokter Andrew mendekati Jo.
"Bukan apa-apa, kau salah dengar." ucap Jo lalu berusaha mencari celah agar dapat pergi dari hadapan dokter Andrew.
"Aku masih muda dan pendengaran milikku ini sangat baik tuan Jo." ucap dokter Andrew.
"Ceritakan apa yang kau tahu yang aku belum tahu tentang istri baru bos kaku mu itu." ucap dokter Andrew.
"Tidak ada yang bisa diceritakan dokter Andrew Garfield." ucap Jo.
"Jangan menyebutkan nama keluarga brang*ek itu dibelakang namaku Jonan Adrikson." ucap dokter Andrew terlihat marah.
Sangking kesalnya dokter itu meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apapun lagi. Melihat itu Helen terlihat sedih.
"Kau tahu jika dia sangat membenci keluarga ayahnya dan tidak ingin menggunakan nama belakang keluarga itu. Kau tidak seharusnya menyinggung titik terlemahnya Jo." ucap Helen.
"Aku tahu aku sudah keterlaluan. Tapi, kau tahu sendiri di saat dokter konyol itu ingin tahu sesuatu dariku, dia tidak akan berhenti mengganggu aku hingga aku memberi tahu apa yang ingin dia tahu." ucap Jo.
Sementara itu di dalam kamar mandi Alex sedang menemani Az di samping bak mandi. Dia menjaga agar Az tidak menenggelamkan kepalanya ke dalam air karena saat ini Az sedang tidak sadarkan diri.
"Sepertinya efek obatnya sudah hilang." gumam Alex melihat Az yang sudah tidak lagi gelisah.
Dia segera mengangkat tubuh Az keluar dari bak mandi. Tidak lama ketukan pintu terdengar dari luar.
"Sepertinya pakaian yang aku suruh siapkan untuk Az sudah siap." gumamnya.
Alex meletakkan Az ke atas ranjang dalam kondisi masih menggunakan pakaian basah. Dia bergegas membuka pintu lalu mengambil paper bag yang dibawa anak buahnya. Tak lupa dia memanggil Helen untuk masuk ke dalam kamar.
"Bantu aku gantikan pakaian istriku." ucap Alex.
"Hah?" Helen bingung mendengar ucapan Alex. Dia pikir kalau dia sedang salah dengar.
"Hah apa lagi? Cepat ganti baju istriku dengan baju dari paper bag yang dibawa Monta." ucap Alex lagi.
"Bukankah bos bisa?" tanya Helen.
"Kalau aku bisa, apakah aku akan menyuruh dirimu Helen? Apakah kau sudah mulai bodoh?" geram Alex.
"Maaf bos." Helen segera menggantikan pakaian Az sedangkan Alex berusaha memalingkan pandangannya agar tidak melihat tubuh Az saat Helen melakukan tugasnya.
"Mengapa bos harus menjaga pandangan pada tubuh istrinya sendiri?" gumam Helen melihat tingkah bos-nya.
"Karena aku menghargai orang yang aku sayangi. Aku tidak akan memanfaatkan saat dia tidak berdaya walaupun hanya sekedar melihat sepintas saja." ucap Alex.
__ADS_1
"Bos mendengar apa yang aku ucapkan dengan sangat pelan." batin Helen.
"Sudah bos." ucap Helen.
"Kau sudah bisa keluar." ucap Alex.
"Helen."
"Ya bos?" tanya Helen.
"Bawakan aku kotak obat. Aku harus mengganti perban istriku." ucap Alex.
"Baik bos." ucap Helen.
Dengan hati-hati Alex membuka perban basah yang membungkus luka di lengan Az. Dia sangat serius membersihkan, memberikan obat lalu kembali membalut luka itu.
"Aku tidak ingin lukamu semakin parah karena terendam air tapi, aku juga tidak ingin kau kecewa karena aku melakukan itu saat kau tidak sadar dengan apa yang terjadi." gumamnya lalu mengecup kening Az.
Alex segera mengambil selimut yang berada di paper bag lain lalu membungkus tubuh Az. Dia lalu mengangkat tubuh Az keluar dari kamar itu. Mereka kembali ke mansion milik Alex yang selama ini ditempati oleh Az.
"Ada apa dengan nyonya muda?" tanya bibi Meg khawatir melihat Az dalam gendongan Alex.
"Dia hanya tertidur bibi Meg. Tolong bantu aku buka pintu kamar." ucap Alex.
Alex meletakkan tubuh Az perlahan ke atas ranjang. Dia merapikan selimut lalu duduk di lantai tepat sebelah Az terbaring.
Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. Sebelum sambungan telepon tersambung Alex sedikit menjauh agar suaranya tidak menggangu tidur Az.
"Aku tidak mau tahu. Bagaimana pun caranya, orang dibalik semua yang terjadi malam ini harus segera kalian dapatkan semua informasi tentangnya dan serahkan padaku besok pagi." ucapnya langsung saat si penerima telepon mengangkat panggilannya.
"Baik bos." saut si penerima panggilan.
"Satu lagi. Si ja*ang itu harus menerima hukuman yang berat tapi, jangan biarkan dia ma*i terlalu cepat." ucapnya lagi lalu memutuskan panggilan telepon.
Alex melangkah menuju ranjang lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Az tertidur. Dia memposisikan sebelah tangannya agar menjadi bantal untuk kepala Az lalu memeluknya. Dia lalu mengecup kening Az kemudian ikut memejamkan matanya.
"Dor..... Akh...." peluru menembus dada Az.
Az tidak bisa mengeluarkan suara apapun. Darah keluar dari mulutnya lalu tubuhnya tumbang ke tanah.
"Tidak.........." Alex berteriak lalu berlari ke arah Az.
"Alex bangun......" seseorang menepuk pipinya membuat Alex membuka matanya.
Melihat Az menatapnya heran, membuat air mata yang membasahi pipinya semakin deras.
__ADS_1
"Syukurlah." ucapnya lalu memeluk tubuh Az.
"Au sakit." ucap Az karena lengannya yang terluka terkena.
"Maaf, syukurlah kau baik-baik saja." ucap Alex sembari tersenyum walaupun air mata masih mengalir.
"Kau kenapa?" tanya Az.
"Aku cuma mimpi buruk. Maaf sayang, aku ......
"Kau tidak salah, kau sudah melakukan semua yang terbaik." ucap Az.
"Tetap saja, aku tidak becus sehingga.....
"Ini bukan salahmu. Kau tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri." ucap Az memotong ucapan Alex.
"Tapi....
"Kau berhenti menangis dan menyalahkan diri. Aku tidak ingin memiliki calon suami yang lemah dan cengeng." ucap Az sembari menghapus air mata di pipi Alex.
"Calon suami?" beo Alex.
"Ya, apakah kau bukan?"
"Tentu saja aku adalah calon suamimu. Aku adalah satu-satunya suami dan calon suamimu." ucap Alex.
"Konyol, bagaimana bisa suami sekaligus calon suami?" ucap Az.
"Suami tidak sah merangkap jadi calon suami yang asli." ucap Alex lalu mengecup kening Az.
"Terima kasih sayang." ucapnya penuh haru.
"Krukyuk krukyuk krukyuk." suara nyaring perut Az yang mulai demo karena kosong membuyarkan suasana haru keduanya.
"Aku akan menyiapkan sarapan dan obat untukmu." ucap Alex lalu segera turun dari ranjang.
"Kau tidak diijinkan keluar dari kamar ini sampai lukamu sembuh sayang." ucap Alex saat Az hendak turun dari ranjang.
"Aku bosan jika harus di kamar seharian." ucap Az membuat Alex menghela nafas tidak tega.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Az karena Alex mengangkat tubuhnya.
"Membawamu ke luar." jawab Alex.
"Yang luka itu tanganku bukan kaki." ucap Az.
__ADS_1
"Apa salahnya aku ingin memanjangkan calon istriku?" ucap Alex sambil melangkah membawa Az keluar dari kamar.