
Tit tit tit
Seorang gadis saat ini sedang terbaring lemah di dalam sebuah ruangan. Wajah cantiknya tampak pucat. Sudah lebih dari 2 minggu dia terus menutup matanya dalam ruangan dengan dinding serba putih itu.
Seorang pria tengah tertidur dalam posisi duduk membungkuk di sebelah sang gadis sambil tangannya menggenggam tangan dari sang gadis. Selama 2 minggu pula pemuda itu tidak pernah meninggalkan ruangan tempat sang gadis terbaring lemah.
Bahkan untuk keperluan pribadinya pun dia lakukan di dalam ruangan itu. Segala keperluan akan di sediakan oleh asisten kepercayaannya.
Suara monitor yang menunjukkan kinerja jantung juga seluruh orang lain dalam tubuhnya menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan dalam ruangan itu.
Sang wanita sepertinya sudah akan membuka matanya, terlihat dari bulu mata yang mulai bergetar.
"Ught...." keluhnya setelah membuka lalu kembali menutup mata karena merasakan pusing dan silau.
"Dimana ini?" gumamnya sambil melihat sekitarnya dengan kening berkerut. Dia masih belum menyadari keberadaan orang di sebelahnya sampai saat dia ingin memegang kepalanya ternyata tangannya tertahan sesuatu.
Perlahan dia menarik tangan yang digenggam sang pemuda. Matanya fokus menatap wajah tertidur itu.
"Bukankah dia salah satu dari penghuni kamp?" gumamnya melihat wajah pulas itu.
Dia menatap wajah dengan mata terpejam itu penuh tanya hingga membuat dia tidak menyadari saat mata itu perlahan terbuka.
"Kau sudah bangun? Syukurlah, aku akan memanggil dokter." ucap pria itu lalu segera bangkit dari posisi duduknya dan berlalu keluar dari ruangan tanpa menunggu jawaban dari si wanita yang masih bingung.
"Bukankah tombol di sana berfungsi untuk memanggil petugas kesehatan yang bertugas? Untuk apa dia berlari keluar dengan terburu-buru seperti itu? " gumamnya lagi sambil menatap benda yang dimaksud lalu menatap pintu di mana pria itu menghilang.
"Apakah ini rumah sakit? Siapa yang menyelamatkan aku dan membawa aku keluar dari hutan itu? Apakah pemuda aneh tadi?" gumamnya sambil memperhatikan sekeliling ruangan itu.
Tap tap tap tap
Suara langkah kaki yang terdengar terburu-buru mulai terdengar mendekat ke ruangan itu. Tak lama setelahnya pintu ruangan itu terbuka menampakkan beberapa orang yang segera menghampirinya.
Dokter segera memeriksa keadaannya sedangkan sang pria tadi terus memperhatikan perubahan mimik wajah sang dokter karena khawatir akan ada yang salah dengan kondisi sang gadis.
Melihat dokter tersenyum dan memerintahkan suster untuk melepaskan beberapa kabel yang menempel pada tubuh sang gadis, pria itu menghela napas lega.
"Istri anda baik-baik saja sekarang." ucap dokter sebelum sang pria bertanya.
"Syukurlah, terima kasih dok." ucap pria itu.
__ADS_1
Dokter menyarankan agar sang gadis tinggal di rumah sakit itu untuk memantau kondisi tubuhnya. Setidaknya untuk memastikan bahwa tidak ada masalah kesehatan lain yang akan terjadi mengingat sang gadis sempat kritis sebelumnya.
"Mengapa dokter itu menyebut aku sebagai istri dari pemuda itu?" batin si gadis.
"Tunggu dulu, sepertinya ada yang salah." gumamnya saat dokter dan yang lainnya keluar dari ruangan termasuk si pemuda menyisakan dia sendiri.
"Astaga......" pekiknya sambil membulatkan matanya karena teringat sesuatu.
"Bukankah aku sekarang menjadi sosok Az? Artinya kamp sudah tahu kalau aku bukan laki-laki karena pemuda tadi adalah salah satu anggota kamp?" gumamnya.
"Kamp tidak tahu, hanya aku dan wanita yang juga menyamar menjadi laki-laki itu yang tahu keadaan dirimu dan status dirimu sebagai wanita." saut pemuda itu yang tiba-tiba muncul.
"Maksudmu Sid? Dimana dia?" tanya Az.
"Dia ada di tempat seharusnya dia berada, kamp." jawab sang pemuda.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Az.
"Ya, dia baik." jawab si pemuda.
"Aku membawamu ke tempat ini dalam keadaan kritis. Pihak kamp tidak ada yang tahu keberadaan dirimu saat ini. Hanya rekanmu itu yang tahu dan aku memaksa agar dia tetap bungkam tentang keadaan dirimu saat ini." jelas sang pemuda yang seolah paham apa yang ingin Az tanya padanya.
"Dua minggu." jawab pemuda itu yang sekarang sudah duduk kembali di kursi samping tempat tidur Az.
"Selama itu? Jangan katakan kalau keluargaku tahu keadaanku." ucap Az dengan wajah terkejut.
"Sid awalnya ingin mengabari keluarga mu namun aku mencegahnya. Aku tahu, kau tidak akan bisa kembali ke kamp jika kakekmu tahu kondisi mu saat ini." jawab sang pria membuat Az menatap penuh selidik ke arahnya.
"Dari ucapanmu, kau seolah sangat mengenal segala hal tentang diriku." ucap Az.
"Katakanlah seperti itu." saut sang pemuda.
"Sejak kapan?" tanya Az.
"Apanya yang sejak kapan?" tanya balik sang pemuda.
"Kau tahu penyamaran yang aku lakukan." jawab Az ketus.
"Sejak pertama kau berada di kamp." jawab pemuda itu sukses membuat Az menatap horor ke arahnya.
__ADS_1
"Jangan-jangan kau itu penguntit?" tuduh Az.
"Aku bukan penguntit, buktinya aku selalu melindungi kau juga keluarga." ucap pemuda itu.
"Maksudnya?" tanya Az.
"Nanti saja kita berbincang lagi. Kau butuh banyak istirahat agar kembali pulih." ucap pemuda itu saat perawat mengetuk pintu.
Perawat datang membawa peralatan untuk mengganti perban juga obat yang harus Az minum. Pemuda itu baru akan membalikkan tubuh untuk keluar dari ruangan karena perawat harus membuka pakaian Az untuk mengganti perban.
Tapi, langkahnya terhenti karena melihat ada yang janggal dari si perawat itu. Dengan tergesa-gesa dia melangkah menghampiri si perawat lalu menodong pistol di kepala si perawat.
"Sebaiknya kau angkat tangan lalu berbalik tanpa ada banyak pergerakan lain jika tidak ingin ada lubang di kepalamu." ucap pemuda itu.
Az yang masih belum tahu alasan sang pemuda melakukan itu hanya menatap bingung keduanya. Si perawat tampak bergetar ketakutan lalu mengangkat tangan.
"A...ampun tu an. Ja jangan tembak." ucapnya terbata.
"Buk.... plak." ternyata si perawat dengan lincah dapat memukul lengan pemuda itu membuat pistol lepas dari genggamannya.
Pemuda itu segera menyerang si perawat dengan sebuah tendangan namun berhasil dihindari oleh si perawat.
Az yang masih lemah hanya mampu menyaksikan perkelahian dua orang itu tanpa suara.
"Bak buk bak buk." suara saling hantam semakin riuh terdengar sangking lincahnya gerakan keduanya saling serang dan tangkis.
Setelah cukup lama bertarung si perawat berhasil mendarat ke lantai dengan tendangan yang mengenai perutnya. Tapi, dia jatuh dekat dengan posisi pistol pemuda itu tergeletak saat itu.
Perawat palsu itu ingin segera meraih benda bermoncong panjang yang dapat merenggut nyawa siapa saja itu. Namun, gerakan Az melempar pisau lebih cepat dan pas mengenai tangan si perawat palsu.
"Akh....." pekik si perawat palsu itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Main tebak-tebakan yuk
kira-kira siapa si pemuda dan apa tujuan si perawat palsu?
Ramein di kolom komentar ya biar author semangat nih nulis kembali.
__ADS_1