
Perawat palsu itu memegang pergelangan tangannya yang terluka sambil menatap tajam Az.
"Dasar wanita ja*ang....!" pekiknya hendak menyerang Az.
"Duak....Akh....Bruk...." sebelum dia mencapai tubuh Az, pemuda tadi lebih dulu menendang hingga tubuhnya menghantam dinding lalu jatuh tersungkur di lantai.
Pemuda itu segera menghampiri si perawat palsu lalu mengamankannya dengan mengikat tangannya ke belakang.
Pemuda itu tampak mengeluarkan HP lalu menghubungi seseorang sambil terus menahan agar perawat palsu itu tetap dalam posisi tiarap dengan menginjak punggungnya.
"Segera ke sini." ucap pemuda itu lalu segera memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari si penerima telepon.
Tidak lama setelah itu terdengar derap langkah diikuti suara ketukan pintu setelahnya.
"Tok tok tok."
"Masuk.....!"
"Bawa wanita ini ke ruang interogasi dan pastikan dia tetap hidup untuk dapat bertemu denganku di sana." ucapnya langsung pada orang yang masuk kedalam ruangan itu.
"Baik bos." ucap pemuda itu lalu segera membawa paksa si perawat palsu.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa dia bukan seorang perawat?" tanya Az.
"Dia satu-satunya perawat dengan tubuh kekar dan tidak ada perawat menggunakan sepatu jenis boots di tempat ini. Bukankah itu sudah cukup untuk mencurigainya?" jawab si pemuda.
" Dari pada terlambat, lebih baik aku bertindak cepat dan jika kecurigaan ku salah, maka aku cukup meminta maaf saja." tambahnya lagi.
"Sebenarnya kau siapa? Apa tujuanmu menyelamatkan aku?" tanya Az.
"Setelah kau pulih aku akan menjawab pertanyaan dari mu. Sekarang, biarkan aku memanggil perawat yang asli untuk mengganti perban agar kau dapat istirahat." jawab si pemuda lalu keluar dari ruangan itu tanpa menunggu tanggapan Az.
...****************...
Di tempat lain beberapa orang sedang menunduk takut di depan meja seseorang yang tengah duduk santai di kursinya. Walaupun tampak santai, aura mencekam yang menyesakkan dada terpancar dari tatapan matanya yang tajam.
"Jadi...." baru satu kata yang terjeda berhasil membuat beberapa orang itu mengeluarkan banyak keringat dengan degub jantung yang semakin berpacu kuat.
__ADS_1
"Maaf tuan besar kam........ Dor......!" sebuah lubang peluru di kepalanya menghentikan kalimatnya.
Melihat rekannya ma*i Dalam sekali tembakan, keempat rekannya yang lain tubuhnya kini gemetar keringat semakin mengucur deras.
"Hanya beberapa calon tentara yang baru memasuki pelatihan sudah berhasil menggagalkan misi kalian. Sungguh tidak berguna." ucapnya penuh emosi.
"Satu dari mereka memiliki kemampuan layaknya tentara terlatih. Saat dia berhasil dilumpuhkan tiba-tiba sekelompok orang entah dari kelompok mana menyerang dan berhasil mengalahkan kelompok Mer dan Troi." ucap seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Kau melihat itu dan tidak berusaha mengamankan chip itu?" tanya pria itu.
"Mereka yang datang menyerang kelompok Troi dan Mer adalah orang-orang terlatih. Jumlah mereka cukup untuk menyudutkan bahkan menghancurkan kami jika kami tidak segera menyingkir dari tempat kami. Kau ingin kami ma*i konyol? Jangankan mengamankan chip, bahkan mengamankan nyawa kamipun tidak akan bisa." ucap pria yang baru masuk itu.
"****..... Sebenarnya siapa orang-orang itu?" umpatnya kesal.
"Entahlah, aku sudah menyebar beberapa orang yang handal untuk mencari data setiap organisasi ataupun genk yang berkuasa dan kuat di seluruh negara ini. Setelah semua data terkumpul, pasti kita akan mendapatkan dari mana asal orang-orang itu." ucap rekannya.
"Kalian boleh kembali ke tugas masing-masing dan sebelum itu, singkirkan sampah itu dari ruangan ini." ucap orang yang sedang berbincang dengan pria yang disebut tuan besar itu.
Dengan segera empat orang itu membopong tubuh rekannya yang sudah tidak bernyawa itu. Mereka terselamatkan dari amukan tuan besar yang pemarah itu.
"Apakah sudah ada kabar dari Sintia, Seph?" tanya tuan besar.
"Terakhir menghubungiku dia mengatakan bahwa telah menemukan target dan segera akan mengeksekusi ditempat. Setelah itu, bahkan alat pelacak di tubuhnya sudah tidak aktif lagi." sambungnya.
"Oh ****, siapa yang sudah mengacaukan semua rencana yang aku buat?" tanya si tuan besar murka.
"Mungkin orang yang sama." tebak Joseph.
"Alasannya?" tanya si tuan besar.
"Hanya orang-orang seperti mereka yang memiliki kemampuan menemukan alat pelacak di tubuh anggota kita dan menghancurkan dengan mudah." jawab Joseph.
"Segera ke tempat terakhir Sintia berada dan cari gadis itu. Aku ingin gadis itu dalam keadaan hidup agar bermanfaat." ucap si tuan besar.
"Baik bos." ucap Joseph lalu segera keluar dari ruangan itu.
...****************...
__ADS_1
Di tempat lainnya, seorang pria sedang terlihat frustasi. Semua barang di ruangannya sudah hancur berantakan.
"Si*l si*l si*l, kenapa tidak seorangpun dari kalian bisa berguna? Menemukan seorang wanita saja tidak becus." umpatnya pada beberapa orang di depannya.
"Segera temukan keberadaan istriku. Jika tidak, aku tidak keberatan mengubur kalian hidup-hidup." ancamnya.
"Tunggu apa lagi? KELUAR.....!" ucapnya dan dengan segera anak buahnya keluar dari ruangan itu tanpa suara.
Satupun dari mereka tidak ada yang berani mengeluarkan suara apapun walaupun cuma mengutarakan pendapat ataupun alasan tanpa disuruh berbicara. Karena, jika itu terjadi maka mereka akan bersiap menyambut kedatangan malaikat maut.
"Dimana kamu bersembunyi sayang?" tanya Elliot pada bingkai foto yang menampilkan gambar pernikahan dirinya dengan Az.
"Tenang, aku akan segera menemukan dirimu. Lalu, kita akan kembali bersama menjadi sepasang suami istri yang bahagia dan romantis. Aku berjanji, tidak akan ada lagi siapapun yang akan mengganggu hubungan kita nantinya." ucapnya lagi lalu mengecup lama foto Az.
...****************...
Az baru membuka matanya dan menatap heran sekitarnya. Pasalnya, ruangan yang dia tempati sangat berbeda dengan ruangan sebelum dia tertidur akibat efek obat yang dia minum.
"Kau sudah bangun?" tanya pemuda yang sebelumnya selalu menjaga dirinya saat tidak sadarkan diri di rumah sakit.
"Ini di mana?" tanya Az tanpa perlu menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah bisa dilihat sendiri.
"Ini rumahku." jawab si pemuda.
"Perawat palsu yang menyerang di rumah sakit itu memiliki sebuah pelacak di tubuhnya, tidak aman bagimu yang masih lemah tetap di sana." tambahnya.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Az.
"Namaku Alex, aku hanya....
"Jangan pernah mengatakan kalau kau hanya seorang calon tentara. Karena aku tidak akan percaya." sela Az.
"Susah juga menghadapi gadis yang pintar." gumam Alex.
"Aku belum bisa menjelaskan dengan rinci siapa diriku. Kau hanya perlu tahu apapun yang terjadi aku akan melindungi dirimu juga orang-orang penting dalam hidupmu." ucap Alex.
"Aku....
__ADS_1
"Aku akan cerita nanti jika saatnya tiba." sela Alex.
"Baiklah, terima kasih karena telah menyelamatkan aku. " ucap Az akhirnya pasrah menahan rasa penasarannya pada sosok Alex.