
"Apakah aku tidak sengaja mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Az melihat setetes air mata sudah jatuh dari mata teduh milik Mona.
"Tidak, kau tidak melakukan kesalahan. Maaf, aku sebelumnya tidak pernah diperlakukan dengan sangat baik. Tapi, semenjak menginjakkan kaki di sini, semua orang bahkan kamu yang baru saja aku temui begitu baik padaku. Membuat aku sungguh merasa sangat bahagia sehingga air mata ini tidak bisa tertahan." ucap Mona dengan senyum di bibirnya beserta air mata yang sudah beranak sungai.
Mendengar penuturan Mona, Renata ikut menitikkan air mata. Dia segera berjalan menuju calon menantunya itu duduk di sisinya lalu memeluk tubuh kurus itu. Devan dan tuan Gerald juga merasa sedih melihat itu.
"Kau harus mulai terbiasa dengan kehangatan keluarga mulai sekarang. Mama tidak akan membiarkan menantu mama merasa tersisih ataupun bersedih." ucapnya sambil mengusap punggung yang bergetar karena tangis haru itu.
"Kau harus memperlakukan istri dan anakmu kelak dengan baik. Aku yang pertama kali akan menghajar mu jika kau membuat mereka menderita." ucap Az menatap Devan.
"Tenang, aku tidak bisa menjanjikan banyak hal. Tapi, aku akan melakukan yang terbaik untuk keluarga kecilku seperti ayah dan kakek memperlakukan kami dengan kasih sayang dan penuh tanggung jawab." ucap Devan.
"Aku akan pegang janjimu." ucap Az.
"Kakek juga akan mengingat janji itu dan akan menangihnya jika kau melanggar itu kelak." ucap tuan Gerald.
__ADS_1
"Baik." saut Devan.
"Kau jangan terlalu banyak menangis Mona sayang. Kau harus memikirkan calon bayi yang ada di dalam perutmu. Mulai sekarang, kau hanya boleh tersenyum." ucap Renata sambil menghapus air mata di pipi tirus Mona.
"Terima kasih ma, terima kasih semuanya." ucap Mona.
"Ya, itu adalah tugasku selanjutnya. Aku harus benar-benar melepaskan harapan untuk bersama Az. Ada Mona dan calon anak kami yang lebih membutuhkan aku. Aku sudah berjanji akan belajar mencintai dirinya dan sebagai pria, aku harus menepati janji yang aku buat." batin Devan sambil menatap Mona yang sudah mulai tenang.
"Bibi, bisa aku minta tolong?" tanya Az tiba-tiba pada pelayan yang baru memasuki ruangan itu membuat semua orang beralih menatap ke arahnya.
"Kau butuh apa Az sayang?" tanya tuan Gerald.
"Di depan ada 2 orang yang bertugas menjaga aku. Mereka belum sempat sarapan karena harus mengawal aku pagi ini. Jadi, bisakah bibi memberikan mereka makanan?" ucap Az sopan.
"Baik nona." saut si pelayan dengan sopan lalu segera beranjak untuk melaksanakan tugas yang Az berikan.
__ADS_1
"Dia sungguh gadis yang istimewa. Di tengah kemewahan, dia tidak angkuh seperti anak orang kaya pada umumnya. Dia bahkan berlaku sopan pada pelayan. Wajar saja kalau Devan memiliki perasaan yang istimewa terhadapnya." batin Mona sambil menatap kagum pada Az.
"Jika mereka tidak sempat sarapan, apa kau juga belum.....
"Aku sudah sarapan mama." potong Az.
"Oh, baguslah. Sekarang, kita harus segera mengurus pernikahan Mona dan Devan." ucap Renata.
"Um ma." ucap Az ragu.
"Ada apa sayang?" tanya Renata.
"Untuk sekarang ini aku......
"Ada apa? Katakan saja apa yang ingin kau katakan sayang." ucap Renata.
__ADS_1
"Karena ada masalah, untuk sementara aku tidak bisa menghadiri sebuah pesta. Bukan hanya masalah keselamatan aku saja. Kalian juga bisa celaka jika mereka menargetkan aku saat acara berlangsung." ucap Az.