
Beberapa orang bawahan Alex sudah sibuk mencari keberadaan Az sementara sisanya mencari salah satu dari orang-orang yang sudah berhasil dilumpuhkan yang masih bernafas untuk diinterogasi.
"Sebaiknya aku segera mengabari bos soal nyonya muda." gumam seorang wanita yang bertugas mencari keberadaan Az.
"Tut tut tut." suara sambung telepon terdengar dan tidak menunggu lama orang diseberang sambungan telepon mengangkatnya.
"Halo Helen ada apa?" tanya si penerima panggilan.
"Halo Jo gawat. Nyonya muda diserang dan....
[Dan apa Helen?]
"Nyonya muda diculik oleh penyerang itu dan kami kehilangan jejak."
[Oh s*it]
Jo langsung memutuskan panggilan dan Helen kembali mencari keberadaan Az. Dia yakin kalau Jo buru-buru melaporkan masalah itu pada Alex.
"Semoga nyonya muda baik-baik saja atau tuan akan marah besar." gumamnya.
"Ini salahku karena mengikuti saran si ja*ang Gres. Seharusnya aku langsung membantu malam itu kalau tidak mendengarkan ucapan si ja*ang itu, nyonya muda akan baik-baik saja." gumamnya.
Flashback on
Helen, Gres adalah 2 dari 10 orang yang diutus Alex untuk menjaga Az tanpa diketahui Az. Dari 10 orang itu hanya ada dua orang wanita bahkan dari seluruh pasukan yang Alex punya, hanya ada Helen dan gres saja wanita di sana.
Malam itu mereka berada tidak terlalu jauh dari posisi Az karena mereka memang selalu berada di sekitar As. Mereka harus menjaga jarak dengan pas agar tidak ketahuan Az tapi dapat segera membantu saat Az dalam bahaya.
"Sepertinya kita harus turun tangan karena mereka tidak akan bisa menangani orang sebanyak itu." saran Helen melihat Aldi dan Gibran sudah dikepung puluhan orang.
"Tunggu...." saat mereka ingin maju, Gres tiba-tiba menghentikan mereka.
"Kenapa Gres?" tanya kesal Helen.
"Bukankah bos sudah mengatakan kalau sebisa mungkin agar wanita itu tidak tahu keberadaan kita?" tanya Gres balik.
"Memang tapi, saat keadaan genting seperti ini keselamatan nyonya muda lebih utama." jawab Seorang pria yang berdiri di depan Helen.
"Lihat.... Wanita itu masih mampu melawan mereka. Kita lihat dulu kemampuan wanita itu sebelum turun tangan." saran Gres.
"Boleh juga." ucap yang lainnya mulai tertarik melihat Az lincah melawan mereka yang mengepungnya.
__ADS_1
"Tidak kita harus mengutamakan keselamatan nyo......
"Ayolah, dia adalah orang yang berdiri di sebelah bos selama ini. Jika kita tidak melihat kemampuannya dalam bertahan, kita bagaimana bisa yakin bos memilih dia sebagai pendamping." bujuk Gres.
"Hanya wanita lemah, paling sebentar lagi dia akan kalah dan aku cukup membuat dia mati dengan menggunakan tangan para brandal itu. Hanya wanita lemah yang mengutamakan penampilan seperti dia, bos tidak akan lama melupakan dia saat dia tiada." batin Gres sambil tersenyum licik.
"Dor....." mereka tersentak ketika melihat Az tertembak.
Flashback off
...****************...
Az terbaring di atas sebuah ranjang besar. Lengannya yang tertembak sudah dibalut perban sedang tubuhnya berbalut pakaian tipis.
"Ugh..." lenguh Az saat dia membuka mata.
Kepalanya masih terasa pening dan lengannya terasa nyeri.
"Ada dimana aku?" gumam Az sambil melihat sekitar.
"Apakah kalian sudah mengurus wanita itu?" suara seorang pria terdengar dari arah pintu yang tertutup.
"Sudah tuan." jawab seorang wanita.
"Sudah tuan." jawab si wanita.
"Apakah kalian sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang seksi?" tanya si pria.
Az segera memperhatikan pakaian yang membalut tubuhnya setelah mendengar ucapan pria itu.
"Sudah tuan." jawab si wanita.
"Dupa pembangkit gairah apakah sudah kalian nyalakan?" tanya si pria lagi.
"Sudah juga tuan. Tidak lama lagi akan membuat wanita itu bereaksi." jawab si wanita.
"Baguslah. Tuan Zenith akan segera datang untuk menikmati waktu yang menyenangkan dengan wanita itu. Kalian sudah bisa pergi." ucap si pria.
"Baik tuan, terima kasih." ucap si wanita lalu terdengar suara langkah menjauh.
"Sepertinya aku sedang berurusan dengan laki-laki breng*ek yang ingin melakukan sesuatu yang menjijikkan padaku." gumam Az.
__ADS_1
Az segera menahan nafas lalu mematikan dupa yang diletakkan tepat di atas nakas sebelah ranjang.
"Aku harus baik-baik memberikan hadiah pada pria itu agar tidak menambah banyak masalah bagi para gadis dan para orang tua yang memiliki anak gadis." gumam Az sambil mer*mas seprai tempat tidur yang dia tempati.
"Si*l, sepertinya efek dupa itu terlalu kuat." umpat Az setelah merasakan napasnya semakin memburu dan tubuhnya terasa panas.
Az segera menekan beberapa titik pada tubuhnya untuk menetralkan efek dupa yang asapnya berhasil terhirup olehnya sebelum dia menyadari keberadaannya.
"Tap tap tap." terdengar suara langkah kaki mendekat.
Az segera masuk ke dalam selimut berpura-pura masih belum sadarkan diri.
"Selamat malam tuan." terdengar suara si pria tadi menyapa orang yang baru datang.
"Apakah semua sudah siap seperti yang aku inginkan Derri?" tanya pria lain.
"Sudah tuan, wanita itu sudah ada di dalam." jawab Derri.
"Kerja bagus, aku akan melakukan sesuatu yang penting yang sangat menyenangkan malam ini. Jangan biarkan siapapun mengganggu waktuku." ucap si tuan itu.
"Baik tuan." jawab Derri.
"Kriet." pintu dibuka dan tuan Zenith sudah melangkah masuk ke dalam kamar.
Matanya berbinar dengan senyum mesum melihat wajah tertidur Az. Pria itu tampak sudah tidak sabaran air liur sudah menetes melihat wanita cantik yang dia inginkan tertidur di depannya.
"Bersabarlah sayangku, malam ini aku akan membuat dirimu puas dan akan selalu mengingat malam indah ini." ucapnya sambil mengunci pintu kamar itu.
Dia mulai melangkah mendekati ranjang besar tempat Az berbaring sambil melepaskan satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhnya hingga menyisakan celana pendek saja.
"Mengapa mereka tidak menyalakan dupanya?" ucapnya geram melihat ke arah dupa yang tidak mengeluarkan asap.
"Dasar tidak becus." ucapnya sambil berjalan menuju dupa.
Tuan Zenith yang tidak tahu bahwa Az sudah sadar, begitu santai duduk membelakangi Az untuk menyalakan dupa itu.
"Tidak akan menyenangkan kalau tidak membuat lawan malam penuh gairah menjadi bergairah ju....." Az menekan dengan lincah beberapa titik pada tubuh tuan Zenith membuat pria itu tidak dapat bergerak.
"Mengapa menatap seperti itu?" tanya Az saat dia sudah berdiri di depan tuan Zenith yang sudah tidak berdaya.
"Ingin bersenang-senang denganku?" tanya Az lagi sambil memegang sebuah belati yang berhasil dia dapatkan di tumpukan pakaian tuan Zenith.
__ADS_1
Mata pria mesum itu terbelalak dan keringat sudah membasahi pipinya melihat Az mengacungkan belati itu ke arahnya. Pria itu sudah sangat ketakutan karena tubuhnya tidak bisa bergerak bahkan untuk berteriak pun dia tidak bisa.