
Liam dan orang-orang yang dia pekerjakan mencari keberadaan Azkaela namun tidak menemukan jejaknya sedikitpun.
"Si*l, bagaimana bisa ja*ang itu tidak bisa ditemukan di manapun? Dia seolah hilang di telan bumi setelah acara pemakaman itu selesai." ucap kesal Liam setelah mendapatkan laporan anak buahnya yang tidak menemukan jejak keberadaan Az.
"Bukankah kakak bilang kalau Az bersama dengan seorang pria waktu itu? Kenapa kakak tidak mencari tahu keberadaan pria itu, siapa tahu dia bersamanya?" Saran Neli adik Liam.
"Kau pikir aku tidak pernah mencari tahu tentang pria itu?" tanya balik Liam kesal.
Semua pencarian mengenai Alex memang sengaja ditutup sehingga, tidak sembarang orang bisa mengakses data tentang dirinya.
"Sebentar lagi akan ada acara besar yang melibatkan banyak pengusaha ternama di negara ini. Jika pria itu memang seorang dengan latar belakang yang luar biasa, dia pasti akan muncul di sana. Kemungkinan besar ja*ang kecil itu juga akan hadir melihat bagaimana mereka dekat saat itu." tiba-tiba Joan datang dan memberikan informasi.
"Itu adalah acara besar yang tidak sembarang orang bisa masuk paman. Bagaimana bisa kita mendekati mereka jika kita tidak bisa masuk ke dalam acara itu?" tanya Neli.
"Kalian tenang saja kalau masalah itu. Paman memiliki kenalan seorang keturunan keluarga yang cukup besar. Paman membuat janji temu dengannya besok malam. Asal Neli dapat menarik perhatiannya besok malam, kita akan memiliki akses untuk ikut serta dalam acara itu. Sebenarnya, walaupun penampilan dia tidak terlalu menarik, setidaknya kita masih bisa memanfaatkan koneksinya untuk kembali bangkit." jelas Joan.
"Kalau soal menggoda pria, paman serahkan saja padaku. Belum ada yang bisa menolak pesonaku selama ini." ucap Neli bangga.
...****************...
Pagi itu Alex harus ke kantornya karena ada rapat penting yang harus dia hadiri sendiri.
"Sayang, kau harus mengabari aku jika terjadi sesuatu atau ada yang mencurigakan di sekitar sini." ucap Alex entah yang ke berapa kali.
Ini pertama kalinya Alex akan meninggalkan Violetta di rumah setelah insiden penculikan Violetta. Selama beberapa hari dia selalu bekerja dari rumah karena masih belum bisa tenang meninggalkan Violetta.
"Aku sudah ingat Alex. Pergilah sebelum kau terlambat karena mengulang terus menerus kalimat yang sama." ucap Violetta.
"Apakah kau yakin tidak ingin dijemput?" tanya Alex lagi.
__ADS_1
"Kau sebaiknya menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu. Aku akan langsung ke sana kau tidak perlu khawatir." ucap Violetta.
"Tapi.... Cup." Violetta terpaksa mengecup singkat bibir Alex agar pria itu berhenti mengoceh.
"Sekarang kau harus pergi." ucap Violetta membuat Alex berhenti tertegun.
"Aku akan lebih sering mengulang kata-kata kalau dapat hukuman yang semanis ini." gumam Alex.
"Kau segera berangkat karena aku harus melanjutkan beberapa babak permainan sebelum bersiap ke kantormu." ucap Violetta mendorong tubuh Alex keluar dari rumah.
"kau harus hati-hati selama aku tidak di sisimu." ucap Alex lalu mengecup kening Violetta.
"Pergilah." ucap Violetta lalu menutup pintu agar Alex segera berangkat.
Violetta yakin Alex akan melakukan banyak hal konyol jika dia tidak segera meninggalkan nya. Itulah sebabnya Violetta tidak berniat mengantar keberangkatan Alex hingga ke mobilnya siap terparkir.
"Tidak biasanya bos kita tidak memancarkan aura yang mengintimidasi. Malah sekarang dia seperti sedang sangat bahagia." bisik pria bernama Rio yang menggantikan tugas Aldi dan Gibran yang masih dirawat.
"Jangan banyak bicara apa lagi mengomentari bos kita. Kau lupa kalau bos kita itu orang yang sangat tegas dalam menghukum anggota yang tidak menjalankan sesuai tugas?" tegur pemuda bernama Rai yang menjadi rekan Rio bertugas.
Sementara itu, Violetta kembali meneruskan permainan yang dia sebutkan. Itu hanya game biasa namun membuat Violetta yang baru mengenal permainan seperti itu tertarik.
"Aku harus menyelesaikan 2 level terakhir sebelum pukul 11 karena aku harus berangkat ke kantor Alex tepat waktu sebelum dia mengomel." gumamnya.
Violetta setuju pergi ke kantor Alex karena setelah itu mereka akan berbelanja kebutuhan dan pakaian yang akan mereka bawa ke tempat pelatihan yang Alex janjikan.
Sebenarnya walaupun mereka tidak pergi, Alex bisa saja memerintahkan kepada anak buahnya untuk mencari semua yang dibutuhkan tapi, Alex tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berjalan-jalan santai dengan Violetta sebelum mereka pergi ke tempat latihan.
Alex yakin sekali kalau Violetta akan lebih sering mengabaikan dirinya saat mulai berlatih nanti. Sedangkan di mansion saja Alex sering diabaikan karena game yang dia berikan pada Violetta itu.
__ADS_1
"Kring kring kring." nada dering ponselnya tiba-tiba berbunyi membuat Violetta yang tengah serius dengan permainannya kesal.
"Siapa yang menelepon sepagi ini?" gumam Violetta turun dari tempat duduknya karena dia melupakan benda pipih itu di meja samping tempat tidur.
"Tidak sabaran sekali." gumamnya karena itu sudah dering yang ketiga kalinya.
"Apakah terjadi sesuatu?" gumam Violetta setelah melihat ternyata yang memanggilnya adalah tuan Gerald kakek dari Devan.
"Kring kring kring." ponsel itu kembali berdering.
"Ya halo." Violetta segera menerima panggilan dari tuan Gerald.
"Az sayang, apakah kau baik-baik saja?" tanya tuan Gerald terdengar khawatir.
"Kakek pasti mendengar soal meninggalnya tuan Zaki Harris. Aku baik-baik saja kakek." ucap Violetta.
"Kenapa kau tidak mengabari kami tentang masalah sebesar ini sayang?" sepertinya Renata merebut ponsel tuan Gerald karena dia yang kini bersuara.
"Aku tidak ingin kalian dalam masalah mama. Aku baik-baik saja dan tidak ada yang bisa menyakiti aku di sana. Kalian harus lebih berhati-hati karena kondisi Mona tidak akan baik jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selama masa kehamilannya." ucap Violetta.
"Sampaikan salam ku pada semuanya terutama Mona. Aku mungkin baru bisa mengunjungi kalian setelah beberapa bulan lagi karena ada beberapa hal yang harus diurus." ucap Violetta.
"Baiklah putriku sayang. Ingat, kau masih memiliki keluarga yang sangat menyayangi dirimu saat kau membutuhkan sandaran saat kau lelah." ucap Renata membuat Violetta merasa hangat.
"Aku tahu mama. Aku juga menyayangi kalian semua. Sampai jumpa mama." ucap Violetta lalu memutuskan panggilan.
"Aku beruntung karena dikelilingi orang-orang yang menyayangi diriku. Terimakasih karena memberikan kesempatan untuk menjalani hidup yang istimewa ini Tuhan." gumam Violetta sambil menatap layar ponselnya.
"Sebaiknya aku menyiapkan makan siang khusus untuk Alex sebagai ucapan terimakasih." gumam Violetta sambil melangkah ke luar kamar meninggalkan permainan yang sudah tidak menarik setelah menerima panggilan dari keluarga angkatnya.
__ADS_1