Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan

Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan
Eps. 36


__ADS_3

Elliot lalu masuk ke dalam ruangan pribadinya sambil membuka dan melempar jas nya ke sembarangan tempat. Dia meraih sebotol minuman keras yang selalu menjadi pelariannya kala mendapatkan masalah.


Dia berdiri di depan jendela kaca ruangan itu sambil menenggak minuman itu tanpa menuangkannya lagi ke dalam gelas.


"Mengapa aku bisa begitu bodoh sehingga bisa diperdaya oleh wanita murahan seperti dia?" gumamnya sambil tersenyum sinis menatap pantulan wajahnya dari kaca di depannya.


Dia berjalan menuju meja kerja yang di atasnya sudah tergeletak sebuah map berwarna coklat hasil laporan asisten yang baru saja siuman dan kembali dari rumah sakit.


"Akh...... Bodoh.... Buk buk buk." peliknya sambil terus meninju dinding hingga bercak darah tercetak di dinding berwarna abu-abu itu.


"Mengapa aku begitu bodoh mempercayai ucapan seorang ja*ang sehingga mengabaikan seorang gadis yang selalu berada di sisiku dengan tulus? Mengapa aku harus menyakiti hati gadis setulus Az?" tanyanya entah pada siapa.


Beberapa botol minuman itu sudah kosong berserakan di lantai ruangan itu beserta beberapa puntung rokok yang telah Elliot hisap. Elliot masih setia memegang sebuah botol yang masih terisi setengahnya dengan sebelah tangan mengapit sebatang rokok yang juga tinggal setengah.


Dia menutup matanya lalu bayangan tentang segala hal yang dia lakukan terhadap mantan istrinya dan bagaimana wajah sendu Az kala dia menolak segala bentuk kebaikan Az berputar bagaikan video dalam ingatannya. Hal yang paling dia sesali adalah saat pertama kalinya Az benar-benar mengeluarkan air mata di depannya karena syok dengan apa yang dia saksikan saat terakhir kali Az menginjakkan kaki di kediaman mereka.


"Sekarang kau baru menyesal hm?" tiba-tiba sebuah suara mengusik Elliot yang menutup matanya.


Perlahan dia membuka mata lalu seorang dengan penampilan sama persis seperti dirinya berdiri sambil menatap remeh ke arahnya.


"Kau menyesal pun tidak ada gunanya. Dia telah lama pergi dari sisimu dan memilih pria lain walaupun lebih tua tapi setidaknya pria itu menghargai dirinya." ucap bayangan itu.


"Tidak....! Dia wanita milikku dan akan selalu begitu. Aku akan merebutnya kembali ke sisiku dan akan memastikan bahwa dia akan selalu berada di sisiku bagaimanapun caranya." ucap tegas Elliot.


"Kau ingin bersaing dengan pengusaha paling sukses di kota ini yang bahkan harta dan kekuasaan milikmu tidak sampai se persepuluh dari yang dia miliki? Jangan bermimpi di siang bolong." ucap bayangan itu sambil tersenyum meremehkan dia.


"Lalu apa? Orang tua itu hanya memiliki bisnis bersih tidak akan bisa dibandingkan dengan aku yang memiliki sebuah geng mafia terbesar di negara ini." ucap Elliot.


"Geng mafia terbesar heh? Sebuah geng mafia sekecil itu kau akui geng mafia terbesar? Jangan membodohi dirimu sendiri." ucap sarkas bayangan itu.


"Kecil atau besar geng mafia milikku tidak dapat diremehkan." ucap Elliot lalu melempar semua benda yang dapat dia raih ke arah bayangan itu.


"Ha ha ha ha ha ha ha." bayangan itu menghilang diiringi suara tawa keras yang membuat Elliot semakin tersulut emosinya.

__ADS_1


...****************...


Keesokan harinya Elliot mengerjapkan matanya lalu memgernyit sambil memegang kepalanya yang terasa pening.


"Akh..." pekiknya.


"Berapa banyak minuman keras yang kau minum semalam sehingga kau kesakitan seperti itu?" tanya seorang pria tua sambil membersihkan seluruh ruangan dari kekacauan yang Elliot buat semalam.


"Entahlah paman Ron." jawab Elliot yang berusaha untuk bangkit karena harus kembali ke kantor.


"Kau mau kemana? Makan sarapan dan minum obat pereda sakit di meja lalu kembali tidur setelahnya." ucap pria bernama Ron itu.


"Aku harus membersihkan diri lalu kembali ke kantor karena harus menghadiri rapat pemegang saham." jawab Elliot lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Masalah seperti apa lagi yang kau hadapi kali ini sehingga kau minum sampai mabuk seperti itu?" gumam Ron sambil menatap nanar pada pintu kamar mandi di mana Elliot berada.


"Maafkan kakak yang tidak dapat menjaga dan mendidik putramu dengan baik. Kakak tetap tidak mampu melindungi dia dari pengaruh keluarga suamimu yang haus akan kekuasaan dan harta." gumamnya sambil memejamkan mata.


...----------------...


"Sempurna." ucapnya sambil tersenyum memandang dirinya.


Dia segera keluar dari kamarnya setelah cukup yakin bahwa tidak ada yang kurang dari penampilannya saat ini.


"Selamat pagi nona muda." sapa Yuki.


"Apakah perubahan penampilanku tidak terlalu baik, mengapa kau mengenali aku, Yuki?" tanya Az sambil cemberut.


"Anda keluar dari kamar yang hanya anda satu-satunya yang dapat bebas berada di dalam sana. Jadi, wajar jika saya mengenali anda nona muda." jawab Yuki.


"Sepertinya kau ingin ke kamarku? Apakah mencari aku untuk sesuatu?" tanya Az.


"Di bawah sudah ada tuan Devan menunggu anda nono muda." jawab Yuki.

__ADS_1


"Ayo kita temui dia." ajak Az.


Mereka segera berjalan menuruni tangga dan di bawah sudah ada Devan yang sedang menunggu gadis pujaannya turun.


"Wah, kau sungguh pandai dalam merubah penampilan Az." puji Devan takjub melihat penampilan baru Az.


"Apakah itu pujian atau sindiran?" tanya Az dengan wajah kesal.


"Maksudnya apa? Tentu saja aku memujimu." jawab Devan.


"Lalu bagaimana bisa baik kau juga Yuki dapat mengenaliku sebelum aku berbicara apapun dalam sekali lihat pula?" tanya Az lagi.


"Apakah kau sudah lupa dengan siapa kau memilih semua benda yang sedang kau kenakan sekarang?" tanya Devan balik.


"Oh, aku lupa kalau pakaian dan seluruh yang aku kenakan sekarang aku pilih dengan kamu. Aku pikir kau tidak akan mengingat tentang semua itu." ucap Az.


"Semua tentang kamu bagaimana aku bisa lupa?" gumam Devan.


"Kau sedang menggumamkan apa?" tanya Az.


"Bukan apa-apa. Segeralah makan sarapanmu karena kita harus segera berangkat. Tidak akan lucu jika karyawan baru datang terlambat bukan?" ucap Devan.


"Kau memang benar. Ayo..." ajak Az penuh semangat.


Mereka segera menyelesaikan sarapannya lalu segera berangkat. Mereka pergi menggunakan sebuah sekuter tua. Karena tidak ingin ada yang curiga tentang jati dirinya jika menggunakan mobil, Az meminta Sidney dan Yuki menyediakan sekuter tua untuknya.


Saat Yuki bertanya untuk apa, Az langsung menjawab "Bukankah aneh jika karyawan biasa datang menggunakan kendaraan roda 4?"


Devan tentunya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk duduk lebih dekat dengan Az di atas sekuter tua itu. Dia langsung menawarkan diri untuk menjadi orang yang mengendarai sekuter tua itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mohon maaf jika up novel ini masih jarang untuk beberapa hari ini. Kesehatan author yang masih menurun membuat author jadi harus lebih banyak istirahat. Terima kasih bagi yang mau mengerti.

__ADS_1


Selamat membaca.


__ADS_2