
"Apakah kita akan terus seperti baby sitter yang bertugas menjaga dan mengawal wanita kesayangan bos kita itu?" keluh Gibran pada Aldi.
Mereka sedang menunggu Az di depan rumah untuk mengawal Az pergi berbelanja sesuai perintah Alex.
"Bukankah baby sitter tugasnya menjaga bayi?" tanya Aldi balik.
"Apa bedanya? Bayi manja dan menyusahkan. Wanita bos itu juga pasti manja dan menyusahkan. Bahkan berbelanja saja harus dikawal." gerutu Gibran.
"Berhenti menggerutu, itu adalah tugas dari bos. Kita belum mengenal baik nyonya muda jadi bukan tugas kita menilai dirinya. Yah, walaupun sejujurnya aku lebih suka ditugaskan untuk bertarung di medan perang dari pada menjadi pengawal seorang wanita." ucap Aldi.
"Mengapa wajah kalian terlihat sangat muram?" tanya Az yang tanpa mereka sadari sudah berdiri menghadap ke arah mereka.
"Wajah Gibran memang sudah seperti itu dari lahir nyonya muda tidak perlu dipertanyakan." ucap asal Aldi membuat Gibran mendelik ke arahnya.
"Silahkan masuk nyonya muda." ucap Aldi sambil membukakan pintu mobil untuk Az.
"Anda mau kami antar ke mana nyonya muda?" tanya Aldi yang sudah duduk di samping Gibran yang sudah siap mengemudikan mobil.
"Ke pusat perbelanjaan terdekat saja." ucap Az.
"Aku belikan apa ya untuk Mona sebagai hadiah selamat datang di keluarga?" gumam Az setelah mereka sampai di tujuan.
"Selamat datang nona. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang wanita dengan sopan.
"Aku ingin memberikan hadiah kepada calon keluarga baru di keluarga. Sebaiknya aku memberikan apa ya?" tanya Az.
"Apakah dia seorang gadis atau laki-laki?" tanya wanita itu.
"Dia wanita dan sedang mengandung." jawab Az.
"Bagaimana kalau memberikan pakaian yang sesuai untuk ibu hamil?" saran wanita itu.
"Ya, tolong pilihkan beberapa pakaian yang cocok." ucap Az.
Setelah Az memberitahu perkiraan ukuran tubuh Mona, wanita itu segera mengambil beberapa pakaian untuk dilihat Az.
__ADS_1
"Nona Azkaela....!" seru seorang pria tua saat Az berjalan keluar dari toko pakaian wanita.
"Selamat siang nona." ucap pria tua itu setelah Az berhenti melangkah.
"Ada urusan apa anda memanggil saya tuan? Saya tidak ingat kalau pernah mengenal anda." tanya Az.
"Nona mungkin sudah lupa sama orang tua ini karena kita hanya pernah bertemu beberapa kali dulu. Tapi, bisakah kita berbicara berdua sebentar saja." pinta orang tua itu.
"Kita berbicara di kafe depan sana saja. Tapi, mereka tidak bisa jauh dariku." ucap Az.
"Aku tidak ingin Alex mengomel jika tahu aku lepas dari pengawasan dua orang ini dan menambah pengawal yang akan menjaga aku kemanapun." batin Az.
"Tidak masalah, kita cukup duduk di meja terpisah namun tetap dalam ruangan yang sama." ucap pria tua itu.
"Saya Hero paman dari Elliot, mantan suami anda nona." ucap tuan Heron memperkenalkan diri saat mereka sudah duduk satu meja di sebuah kafe.
"Aku sudah tidak memiliki urusan apapun dengan tuan Elliot. Kami sudah lama berpisah." ucap Az dingin.
"Aku tahu itu nona. Tapi, kondisi kesehatan Elliot sangat memprihatinkan. Beliau...
"Dia memiliki calon istri yang sudah seharusnya mengurus dirinya saat dia sakit. Bukan urusanku yang sudah bukan siapa-siapa untuk mengetahui apakah dia sehat atau tidak." potong Az.
"Tolong jangan seperti ini tuan Heron." ucap Az karena orang tua itu sudah berlutut di depannya.
"Orang tua ini hanya memiliki 1 orang keluarga dan dia sedang kehilangan harapan untuk hidup. Orang tua ini akan sangat berterima kasih dan berhutang budi pada anda jika anda memenuhi permintaan orang tua ini." ucap tuan Heron sambil tertunduk.
"Anda bangun dulu. Aku tidak nyaman menjadi pusat perhatian orang disekitar." ucap Az.
"Maaf." ucap tuan Heron lalu kembali duduk di bangkunya.
"Saya akan menemui tuan Elliot. Tapi, setelah ini apapun yang terjadi jangan pernah cari saya lagi. Karena, hubungan antara kami sudah lama berakhir." ucap Az.
"Terima kasih." ucap tuan Heron sambil tersenyum.
...****************...
__ADS_1
Elliot sudah sadar dari beberapa hari lalu namun dia masih berbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Tok tok tok." suara ketukan pintu tak merubah tatapan kosongnya.
"Elliot, coba lihat siapa yang datang menjenguk mu." ucap tuan Heron membuat Elliot yang menatap kosong ke arah dinding mengalihkan pandangan ke arah pamannya itu.
"Az sayang." ucap Elliot menatap seolah tak percaya bahwa Az berdiri di pintu ruangan rawatnya.
"Tetaplah berbaring." ucap Az saat Elliot berusaha bangkit untuk menghampiri dirinya.
Elliot mendengarkan ucapan Az dan tetap berbaring sambil tersenyum haru menatap Az yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Terimakasih Tuhan, kau telah kembali sayang." ucap Elliot dengan air mata haru membasahi pipinya.
"Aku tidak kembali dan tidak akan pernah kembali tuan Elliot." ucap Az.
"Az sayang tolong maafkan aku." ucap Elliot hendak meraih tangan Az yang kini sudah berdiri di samping ranjang tempatnya berbaring namun Az mengelak.
"Aku memaafkan dirimu." ucap Az menerbitkan senyum di bibir Elliot.
"Terima kasih sayang. Kita akan kembali ber....
"Tunggu dulu, aku memaafkan dirimu tapi, aku tidak akan pernah kembali bersama dirimu. Apapun alasannya kau telah mengabaikan dan mengkhianati kepercayaan yang aku berikan. Aku bisa memaafkan tapi, untuk melupakan semua yang telah terjadi itu tidak akan pernah bisa." ucap Az.
"Tapi, aku sangat mencintaimu dan kita adalah suami is....
"Kau salah, kita sekarang hanya orang asing yang tidak memiliki ikatan apapun. Kau dulu bukankah sangat ingin aku pergi agar kau bebas berhubungan dengan kekasih hatimu? Aku sudah memberikan jalan itu dan aku tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadap dirimu." ucap Az.
"Nona, tolong jangan seperti ini. Kondisi Elliot sudah seperti ini. Aku meminta anda datang untuk memberikan semangat untuknya." ucap tuan Heron.
"Aku hanya setuju untuk menemui dia. Aku tidak bisa memberikan harapan palsu yang akan mempersulit diriku nanti jika dia mengharapkan lebih dariku." ucap Az.
"Bukankah Anda terlalu kejam nona?" ucap tuan Heron kesal.
"Kejam heh? Apakah aku harus bersikap baik pada orang yang menjadikan aku sebagai istri pajangan. Berhubungan dengan wanita lain dan bersenang-senang saat aku menderita. Saat aku terbaring koma di rumah sakit dia berbahagia dengan wanita pilihannya dan sekarang saat dia sakit aku harus menghibur dirinya apakah itu yang anda inginkan? Bukankah kalian sudah terlalu egois?" ucap Az.
__ADS_1
"Tapi.....
"Tidak ada kata tapi. Tolong lepaskan aku dan jangan saling mengusik kehidupan lagi satu sama lain kedepannya." ucap Az lalu berlalu meninggalkan ruangan itu menyisakan Elliot yang berteriak memanggil dirinya.