
Az juga Alex langsung pergi ke markas kelompok Alex untuk melihat langsung proses interogasi tuan Harris. Mereka juga ingin melihat langsung benda yang ditanam di dalam tubuh tuan Zenith yang mereka ketahui dari laporan yang dikirimkan oleh Jo.
"Siapa gadis yang dibawa bos?" tanya seorang pemuda pada rekannya saat Az dan Alex memasuki markas.
"Kau tidak tahu karena baru kembali dari menjalankan tugas. Itu adalah nyonya muda kita." jawab rekannya.
"Nyonya muda artinya dia istri dari bos kita?" tanya pemuda itu dengan mata terbelalak seolah tidak percaya.
"Ya, istri siapa lagi di sini yang bisa disebut nyonya muda?" jawab rekannya.
"Apakah....
"Kau jangan banyak tanya lagi. Satu hal yang harus kau ingat. Jangan melirik apa lagi menatap nyonya muda jika kau tidak ingin menerima hukuman dari bos." ucap rekannya lalu pergi menjalankan tugasnya kembali.
"Kau tunggu aku di...
"Aku ingin melihat langsung benda yang menghabisi nyawa si breng*ek itu." potong Az pada ucapan Alex.
"Tapi sayang, tubuhnya..
"Aku tidak takut melihat jasad yang terkoyak sekalipun." potong Az membuat Alex tidak bisa membuat alasan apapun lagi untuk mencegah Az memasuki ruang penyimpanan mayat di markasnya.
Bagaimana bisa Az yang sejatinya adalah Violetta sang dewi perang bisa takut pada satu mayat yang telah terkoyak? Bukankah saat dia memimpin perang, setumpuk jasad yang tidak utuh sudah menjadi pemandangan biasa baginya?
Mereka memasuki ruangan tertutup dengan suhu yang lebih rendah dari ruangan lainnya. Di dalam sana tubuh tuan Zenith sudah di keluarkan dari lemari agar Alex dan Az bisa melihatnya langsung.
"Apa yang terjadi dengan kepalanya?" tanya Az melihat kepala jasad itu sudah terbelah dengan isi yang hancur.
"Dokter Andrew mencurigai sesuatu sehingga membuka kepalanya. Ternyata isi kepalanya juga dipasangi bom kecil yang membuat isi kepalanya benar-benar hancur." jelas Jo.
"Mengapa tidak ada dalam laporan yang kami baca?" tanya Alex.
"Aku baru selesai membedah kepalanya beberapa menit yang lalu." ucap dokter Andrew yang baru memasuki ruangan.
"Salam kenal kakak ipar, aku Andrew dokter yang bertugas di markas besar ini." ucap dokter Andrew setelah menyadari keberadaan Az.
"Tidak perlu menjabat tangannya. Tangannya penuh darah dan bakteri karena terlalu sering menyentuh mayat." ucap Alex sambil menarik tangan Az yang hendak menyambut uluran tangan dokter Andrew.
__ADS_1
"Kau jangan dengarkan suami yang penuh dengan cuka lemon itu kakak ipar. Aku selalu membersihkan diri setelah melakukan pembedahan. Aku sangat bersih dan sehat." ucap dokter Andrew.
"Siapa yang kau sebut cuka lemon?" tanya Alex menatap penuh ancaman ke arah dokter muda itu.
"Aku dan yang lainnya tidak memiliki banyak sifat cemburu jadi hanya kau saja yang bisa mendapatkan julukan cuka lemon." jawab dokter Andrew jujur.
"Kau...
"Berhenti berdebat yang tidak penting. Sekarang jelaskan mengapa kau curiga dengan kondisi otak jasad itu?" tanya Az membuat Alex terdiam.
"Aku sebelumnya kurang teliti karena menyelidiki kasus lainnya. Setelah meneliti laporan kondisi tubuh jasad ini, sangat janggal jika hanya jantungnya yang hancur tapi telinga bahkan mata juga mengeluarkan darah segar. Jadi, aku mencoba membedah kembali tubuhnya bahkan kepalanya." jelas dokter Andrew.
"Itu bukan karena curiga. Pasti itu karena kau memang suka membedah tubuh manusia. Jika itu orang yang masih hidup kau pasti lebih bersemangat." ucap Alex.
"Jangan memfitnah aku Alex. Aku ini dokter yang profesional dan berjiwa bersih." ucap dokter Andrew.
"Benda seperti apa yang tertanam pada tubuhnya?" tanya Az mengabaikan perdebatan dua orang itu.
"Semacam chip yang dapat meledak. Sayangnya, komponen dari benda itu hancur tanpa sisa sehingga tidak bisa diteliti lebih lanjut." jawab dokter Andrew.
"Bagaimana dengan orang itu?" tanya Alex.
"Siapa lagi?" tanya Alex lagi.
"Tidak ada benda mencurigakan dalam tubuhnya. Sepertinya pria tua itu tidak berhubungan secara langsung dengan bos besar kelompok itu. Mungkin kita tidak akan bisa mendapatkan informasi apapun dari pria tua itu." jawab dokter Andrew.
"Tidak ada kata mungkin atau sepertinya jika menghadapi musuh seperti itu. Cari tahu langsung apakah tuan Harris memiliki informasi yang diinginkan atau tidak." ucap Az.
"Baiklah aku...
"Biar aku bertemu dengannya." ucap Az.
"Kau yakin?" tanya Alex.
"Ya, tidak ada alasan aku tidak yakin untuk bertanya langsung padanya." ucap Az.
"Baiklah, ayo." ajak Alex.
__ADS_1
"Mengapa kakak ipar seperti mengenal pria itu?" bisik dokter Andrew pada Jo.
"Tuan Harris adalah ayah kandung dari nyonya muda." jawab Jo membuat dokter Andrew terbelalak.
"Ba bagaimana bisa dia....
"Situasinya sedikit rumit dijelaskan. Singkatnya, hubungan ayah dan anak diantara mereka hanya seperti simbol saja tanpa ada saling berhubungan." ucap Jo.
"Apakah kakak ipar anak....
"Tidak seperti itu. Sudahlah, itu bukan urusan kita. Sekarang segera susul bos dan istrinya sebelum bos memanggil." ucap Jo lalu meninggalkan dokter Andrew yang masih bingung.
Tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, mereka disuguhkan dengan pemandangan seorang pria tua yang terikat pada sebuah kursi dengan mata tertutup kain hitam.
Mendengar suara langkah kaki mendekat, pria itu menggerakkan kepalanya seolah mencari arah datangnya orang yang melangkah itu.
"Siapa kalian? Kenapa kalian menangkap aku?" tanya tuan Harris.
"Tolong lepaskan aku. Jika aku tidak sengaja melakukan sesuatu yang menyinggung kalian tolong maafkan aku." ucapnya memelas.
"Kami akan membebaskan anda jika anda bersedia menjawab beberapa pertanyaan dengan jujur tuan Harris." ucap Az.
"Az, Azkaela Harris?" ucap tuan Harris mengenali suara Az.
"Anda salah menyebut nama tuan Harris. Aku Azkaela Berza bukan Harris." ucap Az.
Jo melangkah menghampiri tuan Harris lalu membuka penutup matanya agar tuan Harris melihat siapa orang di depannya.
"Maafkan ayah nak. Ayah....
"Anda tidak perlu meminta maaf kepada saya tuan Harris. Orang-orang yang kau sakiti sudah lama tiada karena dirimu dan putri kesayangan mu." ucap Az.
"Maaf, kau boleh tidak memaafkan aku. Tapi, bisakah kau biarkan ayah melihat makam ibumu?" tanya tuan Harris dengan wajah penuh air mata.
"Untuk apa kau mengunjungi makam yang hanya berisikan tubuh tanpa jiwa yang sudah terputus dengan urusan dunia? Kau sudah menyia-nyiakan kesempatan memperlakukan dia dengan baik semasa hidupnya. Tidak ada gunanya menangis di atas makamnya." ucap Az.
"Ayah minta maaf nak. Maafkan ayah yang tidak baik ini. Akan ayah lakukan apapun asal kau bersedia memaafkan ayah." ucap tuan Harris.
__ADS_1
"Kau cukup menjawab pertanyaan dengan jujur. Masalah memaafkan atau tidak, itu urusan nanti." ucap Az.