
Az dan Alex sudah tiba di tujuan mereka yang baru. Yakni, tempat dimana orang yang baru ditangkap anak buah Alex disekap.
Az mengerutkan kening melihat tempat mereka berhenti. Az awalnya berfikir mereka akan tiba di bangunan terbengkalai atau tempat yang jauh dari keramaian.
Dia jadi heran karena Alex menempatkan orang yang disekap di sebuah hotel besar yang sangat ramai karena posisinya tepat di tengah kota. Ya, mereka sekarang berada di lobi hotel besar itu.
"Tempat teraman untuk sebuah markas adalah tempat dimana orang tidak akan menyangka bahwa akan ada orang yang menempatkan markas besar di sana." ucap Alex seolah paham apa yang ingin Az tanya padanya.
Alex meraih tangan Az lalu menautkan jari-jari mereka. Az tidak ambil pusing dengan tingkah Alex kali ini karena yang ada di pikirannya hanyalah cepat bertemu dengan orang yang ingin dia interogasi.
Mereka berjalan beriringan memasuki hotel tersebut. Di dalam seorang pemuda mengenakan pakaian rapi serba hitam menunggunya. Pemuda itu mengernyit bingung melihat bosnya menggandeng seorang wanita.
"Sejak kapan bos yang dingin dan kejam itu dekat dengan wanita? Apakah aku masih belum bangun tidur sehingga mimpi melihat bos tersenyum ke arah wanita itu?" batin pemuda itu takjub melihat tingkah Alex yang berbeda.
"Akh bukan mimpi." ucapnya sembari mengelus punggung tangannya yang dia sengaja cubit.
"Jaga matamu." tegur Alex dingin membuat pemuda yang masih menatap kosong namun pandangan matanya ke arah Az itu tersentak kaget karena tidak menyadari bahwa Alex dan Az sudah berdiri di depannya.
__ADS_1
"Maaf bos." ucapnya takut lalu segera menundukkan pandangan.
Pemuda itu segera menempelkan kartu miliknya lalu menempelkan telapak tangannya ke sebuah layar yang memindai sidik jari. Tidak lama pintu lift terbuka. Alex membawa Az memasuki lift lalu saat pintu lift terbuka sebuah layar muncul.
Alex menempelkan telapak tangannya lalu menekan beberapa angka. Setelah itu lift bergerak ke bawah.
"Kami masuk tadi di lantai dasar. Jika lift bergerak ke bawah artinya kami memasuki ruang bawah tanah?" batin Az.
"Jangan melamun saat berada di sampingku sayang." ucap Alex lalu mengecup punggung tangan Az yang dia genggam.
"Jika tidak panggil sayang lalu aku akan memanggilmu istriku, ratuku, bela......
"Stop, semua itu jauh lebih menggelikan." ucap Az memotong ucapan Alex.
"Berarti kau harus terima dengan panggilan sayang jika tidak ingin menerima panggilan yang lainnya." ucap Alex seraya tersenyum.
"Terserah...." ucap Az ketus.
__ADS_1
"Jangan ketus ketus pada calon suamimu ini sayang." ucap Alex.
"Jangan berulah jika tidak ingin aku ketus terhadapmu." ucap Az masih terdengar kesal.
"Aku bukannya berulah. Aku bukannya sudah pernah meminta ijinmu agar bisa meraih hatimu? Aku hanya ingin kau tahu kalau aku tidak akan pernah bosan dan lelah memperlakukan dirimu istimewa." ucap Alex.
Az tidak sempat menanggapi ucapan Alex saat bunyi "ting" pertanda mereka tiba di lantai tujuan. Pintu lift terbuka dan di sana beberapa orang tengah berdiri menyambut kedatangan mereka. Lebih tepatnya kedatangan Alex sang bos.
Genggaman tangan Alex tidak pernah terlepas bahkan sampai mereka tiba di depan sebuah pintu tertutup. Hal itu membuat anak buah Alex menatap takjub ke arah mereka.
"Sejak kapan bos bisa dekat dengan wanita?" bisik salah satu dari mereka pada rekannya.
"Entahlah, yang jelas ini pertama kalinya aku melihat bos bersentuhan dengan wanita." ucap rekannya.
"Ya, apakah itu artinya wanita itu adalah nyonya muda kita?" tanya yang lain ikut berbisik.
"Jika kau tanya padaku, aku harus bertanya kepada siapa? Kita sama-sama baru melihat wanita itu." saut rekannya yang ditanya.
__ADS_1