
"Wanita itu memang licik!" ujar Raka.
"Tapi yang lebih bodoh pria yang ada di sampingku," sindir Felicia tersenyum.
"Kau menyindirku?" Ia menatap sekilas wanita yang ada disampingnya.
"Tidak," jawabnya tersenyum.
"Sudah lama kau tidak tersenyum?" Raka melirik Feli.
Felicia segera menarik senyumnya.
"Kau sudah sarapan?"
"Nanti saja di kantor," jawab Felicia.
"Bagaimana kalau kita sarapan?"
Felicia melihat jam di tangannya, "Baiklah!"
Raka pun mengendarai mobilnya menuju salah satu restoran.
"Kita makan di sini saja!" Raka melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil diikuti oleh Felicia.
"Seleramu dari dulu tidak pernah berubah," ujar Feli.
"Kau masih ingat saja," ucap Raka.
Pagi ini mereka menikmati sarapan yang menjadi favorit Raka yaitu soto ayam. Selesai mengisi perut, pria itu mengantar Felicia ke kantor Tio yang merupakan atasannya juga.
Sesampainya di kantor, sebelum turun Raka memegang tangan Felicia. Wanita itu menatap tangan yang menyentuh lengannya.
"Maaf!" Raka segera menarik tangannya.
"Ada apa?"
"Tidak ada!"
"Kalau tidak ada, aku akan turun!"
"Jika kau butuh bantuan, aku siap membantumu," ucap Raka.
Feli menatap wajah Raka. "Terima kasih, tapi aku bisa sendiri!" lagi-lagi ia menolaknya.
"Feli, aku khawatir dengan kamu!"
__ADS_1
"Kenapa kau harus khawatir? Kita tidak ada hubungan apa-apa," jelas Felicia.
"Feli, kenapa sikapmu dingin begini padaku?"
"Bukankah kau sendiri yang menginginkan aku seperti ini?" Felicia menatap tajam Raka.
"Feli, itu masa lalu. Aku minta maaf," ucap Raka lirih.
"Raka, aku buru-buru!" Feli membuka pintu mobil dan turun.
Raka menatap punggung Felicia memasuki halaman gedung hingga tubuh itu menghilang dari pandangannya. Ia pun segera meninggalkan gedung tersebut.
"Apa kau tidak apa-apa, Feli?" tanya Seno sesampainya wanita itu di ruangannya.
"Saya baik-baik saja, Tuan!"
"Syukurlah!"
"Apa ada sesuatu yang penting, Tuan?"
"Oh, ya. Apa kau tidak menemani Nona Agnes pergi hari ini?"
"Tadi Nona Agnes membatalkannya,"jawab Feli.
"Oh, begitu. Bisakah kau hari ini pergi temani, istriku ke dokter kandungan?"
"Saya hari ini ada rapat, jadi tak sempat menemaninya," jelas Seno.
"Baik, Tuan. Saya akan menemani Nona Tari," ujar Feli.
"Ini kunci mobil saya, kamu pakai saja!"
"Baik, Tuan!" Feli mengambil kunci tersebut lalu ia pamit pergi.
Feli berjalan ke arah parkiran gedung dan mengambil mobil milik Seno lalu ia melajukan kendaraannya ke arah rumah Tari.
Felicia selalu memantau kendaraan di belakangnya, ia berjaga-jaga agar tidak ada orang tak dikenal menyerangnya.
Sesampainya di sana, ia sudah di tunggu Tari yang menunggunya di teras rumah. Feli segera turun dan membukakan pintu untuk istri bosnya.
"Silahkan, Nona!"
"Terima kasih, Feli!"
Mobil pun berjalan menuju rumah sakit.
__ADS_1
"Aku dengar tadi pagi, kau ditabrak?"
"Benar, Nona!"
"Apa kau tidak apa-apa?"
"Saya baik-baik saja, Nona!"
"Apa pelakunya sudah tertangkap?"
"Belum, Nona!"
"Kenapa kau tidak melaporkannya?"
"Saya sudah melaporkannya pada Tuan Tio, Nona!"
"Oh, baguslah. Semoga pelakunya segera tertangkap," ucap Tari.
"Semoga saja, Nona!"
Sesampainya di rumah sakit, Feli juga ikut turun mengantarkan Tari ke ruangan dokter. Ia menunggu di kursi pengunjung. Matanya tetap memantau orang-orang yang mencurigakan.
Pintu ruangan dokter terbuka, Tari keluar dari ruangan itu dan tersenyum. "Ayo, kita pulang!" ajak Tari.
"Baik, Nona!"
"Aku dengar kau itu pernah dekat dengan Raka?"
"Saya dan Raka hanya teman, Nona!"
"Oh, begitu."
"Kita mau ke mana lagi, Nona?"
"Ke rumah saja, aku sangat lelah hari ini," jawab Tari.
Setelah mengantar Tari pulang, Feli pun kembali ke kantor untuk mengembalikan mobil Seno dan ia juga harus ke bengkel untuk menjemput mobil Satria.
Sore harinya, ia bersiap akan ke bengkel. Feli meminta temannya untuk mengantarkannya namun semuanya menolak dengan berbagai alasan. Tidak biasanya teman-temannya seperti itu.
Sebuah mobil yang dikenalnya berhenti tepat didepannya. "Ayo, masuk!" teriaknya dari kursi pengemudi.
Felicia pun masuk ke dalam mobil tanpa mengeluarkan kata-katanya.
"Pasti kau ingin ke bengkel?"
__ADS_1
"Tebakanmu tepat sekali!" jawab Felicia dingin.
"Aku akan mengantarmu, Nona!"