
"Aku antar kamu pulang!" Satria menawarkan diri saat acara sudah selesai.
"Aku naik taksi saja," tolak Agnes.
"Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri, kita tak mungkin menginap satu kamar di hotel ini," ucap Satria.
"Sudah sana pulang, biar diantar dia!" sahut Sarah yang tiba-tiba muncul.
"Benar kata Sarah. Ayo, pulang!" Satria mengajaknya sekali lagi.
"Baiklah," ujarnya.
"Ingat, ya. Setelah mengantar Agnes pulang, kamu harus kembali ke hotel," Sarah mengingatkan adiknya itu.
"Iya, Kak." Ucap Satria.
"Jangan lama-lama di sana!"
"Iya, Kakak!" ucapnya lagi. "Aku pergi dulu," pamitnya.
"Saya permisi, Nona!" ucap Agnes berpamitan.
"Sayang, kamu di sini. Aku mencarimu," Tio mendekati istrinya.
"Ada apa, Mas?"
"Kamu tidak tidur?"
"Mas, kalau mau tidur duluan saja," jawab Sarah.
"Emm.. mumpung anak-anak tidur dengan kakek dan neneknya. Bagaimana kalau kita bulan madu?" godanya.
"Mas, yang nikah itu Tari dan Seno. Kenapa kita yang bulan madu?"
Tio menggaruk tengkuknya dan tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa minggu kemudian...
__ADS_1
Hari ini kepulangan Satria dari kota S, beberapa kerabat berkumpul di rumah Papa Setya. Sarah menyambut adiknya itu dengan senyuman.
"Kakak, ada apa ini? Kenapa ramai sekali di sini?" tanyanya.
"Masuklah dulu, kita bicara di kamar saja!" jawab Sarah berbisik.
Satria mengikut kakaknya ke kamar.
"Duduklah!" ucap Sarah.
Satria pun duduk di sisi ranjang. Tampak juga kakak iparnya dan Papa Setya.
"Ada apa ini?" tanyanya heran.
"Lusa, kau akan menikah!" ucap Sarah.
"Kakak pasti bercanda," Satria tidak percaya.
"Kami tidak bercanda," sambung Setya.
"Bagaimana mungkin aku menikah sedangkan calonku saja tidak tahu siapa," tutur Satria.
"Aku tidak mau, ku mencintai seseorang," ucap Satria.
"Kau pasti suka dengan pilihan kami," sahut Tio.
"Aku tidak pernah berjumpa dan tahu dia, bagaimana bisa suka?"
"Tidak ada penolakan, kau tidak boleh ke mana-mana," ucap Setya.
"Istirahatlah, semua demi kebaikan kamu juga!" sambung Sarah.
"Papa, Kakak. Aku sudah dewasa, ku bisa memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupku," Satria mulai terlihat kesal.
"Ikutin saja mau mereka, kau tidak akan menyesal." Ujar Tio.
"Kakak ipar, tolong bantu aku bicara!" pinta Satria.
"Maaf, aku takut pada Kakakmu!" ucap Tio.
__ADS_1
"Pa, Kakak!" rengeknya. Setya tak menghiraukannya dan memilih keluar kamar.
"Satria, kali ini tolong ikutin kemauan kami,"ucap Sarah. "Jadilah, anak yang berbakti!" lanjutnya lagi. Tio dan istrinya pun keluar kamar.
"Aarrghhhhh..."
Sarah kembali masuk ke kamar adiknya. "Jangan coba berani kabur dan mempermalukan keluarga. Kamu akan tahu akibatnya!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Satria, ini pakaian yang akan kau gunakan di hari pernikahanmu," Sarah menyerahkan satu box di ikat pita.
"Kakak, aku seperti tahanan saja," ungkap Satria.
"Ini sengaja kami lakukan agar kau tidak menemui kekasihmu yang matre itu," jelas Sarah.
"Kak, aku berniat ingin memutuskannya," ucapnya.
"Kalau dia tidak mau, bagaimana?"
"Lalu, wanita yang ingin kau lamar siapa?" tanya Sarah.
"Ehmm..dia...dia sekretaris aku, Kak!"
"Maksud kamu, Agnes?"
"Iya, Kak."
Sarah tersenyum adiknya menyebut nama yang sebenarnya adalah calon istrinya. "Dia akan menikah," ucapnya.
"Menikah? Dengan siapa?" tanya Satria terkejut.
"Dia dijodohkan sama seperti kamu," jawab Sarah.
"Tidak mungkin, Kak. Dia berjanji akan menungguku," jelas Satria.
"Kakak akan menghadiri acara pernikahannya," ucap Sarah.
"Kenapa dia tidak bilang?" Satria terduduk lemas.
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis. Siapkan dirimu untuk besok," ujar Sarah.