Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
Bertemu peneror lagi


__ADS_3

"Apa kabar,Tuan Tio Mahendraya?"sapa Reno dengan senyum sinisnya.


Arina keluar dari ruangan dan meninggalkan Tio dan Reno.


"Kenapa kamu melakukan ini semua?"tanya Tio menahan amarahnya.


Reno tertawa lalu berkata dengan penuh emosi,"Kamu mau tahu alasan ku melakukan ini?"


"Aku mengenalmu dengan baik sebagai sepupu Miko tapi kamu tega meneror keluarga ku!"ucap Tio.


Sarah yang bosan menunggu di mobil pun turun menyusul Seno dan Tio ke dalam kafe.


"Nona, tidak boleh keluar mobil"ucap pengawal.


"Aku ingin bertemu dengan suamiku,apa tidak boleh?"


"Tapi kami di suruh untuk menjaga Nona di sini!"ujar pengawal.


"Di sini sangat membosankan,aku mau makan dan minum di kafe itu!"ujar Sarah pada kedua pengawalnya.


"Tapi,Nona..."


"Tenang saja ,aku akan membela kalian jika dimarahi suamiku!"ujar Sarah tersenyum manis.


Sarah pun keluar dari mobil menuju ruangan tempat bertemunya Tio dan Reno. Arina yang melihat kedatangan Sarah menahannya untuk tidak masuk.


"Kalian juga ingin melarangku juga?"ucap Sarah kesal.


"Nona, ini perintah tuan!" ujar Seno memohon


"Kalian tenang saja,dia tidak akan marah!"ucap Sarah santai.


Sarah pun membuka pintu ruangan. Reno tahu Sarah masuk ke dalam ruangan yang sama dengannya lalu berkata,"Wow ada suami istri di sini,itu lebih baik. Aku akan mengatakan langsung kepada kalian!"


Tio pun menoleh ke arah istrinya,"Kamu kenapa kesini?"


"Aku ke sini untuk memastikan kamu baik-baik saja!"ucap Sarah.


"Karena kalian berdua di sini,aku akan katakan alasan meneror kalian!"ucap Reno tersenyum jahat.


"Kamu kenal dia,Mas?"tanya Sarah pada Tio.


"Aku sepupu Miko!"jawab Reno tanpa di tanya.


"Apa!"ucap Sarah terkejut."Kenapa kamu melakukan ini pada kami?"tanya Sarah sedikit mengeraskan suaranya.


"Karena kamu yang membuat Miko meninggal!"sentak Reno.


"Kamu salah paham!"ujar Tio."Dia tidak tahu kalau Miko sakit!"lanjutnya.


"Kamu membelanya!"ujar Reno menunjuk Sarah.


"Dia memang tidak bersalah!"ucap Tio.


"Kalian munafik!"ucap Reno dengan lantang.

__ADS_1


"Reno, tenanglah!"ucap Tio melembutkan suaranya.


"Bagaimana aku bisa tenang? kalau adikku hamil anakmu!"ucap Reno menekankan kata-katanya.


"Apa!"ucap Sarah terkejut menutup mulutnya."Mas,apa benar kamu menghamili adiknya?"tanyanya melemah menahan tangis.


"Aku gak mungkin melakukan itu!"ucap Tio mencoba menjelaskan dengan tenang.


"Bohong!"teriak Sarah. "Pantas saja dia meneror kita,aku kecewa dengan kamu,Mas!"ucapnya meneteskan air mata.


"Sayang, dengarkan aku!"ucap Tio memegang pipi istrinya."Aku tidak pernah melakukan hal kotor begitu!"


lanjutnya menjelaskan.


"Mana ada pencuri mengaku salah,"sindir Reno.


"Diam kamu!"bentak Tio pada Reno.


"Aku benci kamu ,Mas!"ucap Sarah berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Brengsek!"ucap Tio memukul wajah Reno.


Reno membalas memukul bagian perut dan wajahnya.


"Kamu lelaki pecundang!"teriak Reno.


Arina dan Seno yang melihat Sarah keluar ruangan dengan menangis segera masuk ke dalam ruangan.


Mereka mencoba memisahkan Tio dan Reno yang berkelahi.


Tubuh Reno di tahan Arina lalu berkata,"Reno cukup!"


"Aku tidak pernah melakukan itu pada Rasti !"teriak Tio penuh emosi.


"Rasti sendiri yang mengatakan kalau kamu adalah ayah dari anak yang dikandungnya!"balas Reno.


"Lepaskan aku, Seno! "sentak Tio pada asisten pribadinya itu."Sampai kapan pun,aku tidak akan bertanggung jawab!"ucapnya penuh penegasan.


"Pengecut!"ucap Reno kembali ingin memukul,namun naas bagi Arina yang menahan tubuh Reno terhempas ke lantai hingga tangan dan lututnya terkena serpihan kaca dari gelas yang jatuh akibat perkelahian keduanya.


"Arina!"teriak Seno.


Tio dan Seno menoleh ke arah Arina. Seno pun berlari mengangkat tubuh Arina .


"Bawa dia ke rumah sakit!"titah Tio berlari keluar menuju mobil. "Bereskan urusan di dalam!"lanjut perintahnya pada pengawalnya.


Sarah yang masih berada di dalam mobil terkejut melihat Arina di gendong Seno masuk ke dalam mobil.


"Dia kenapa?"tanya Sarah khawatir.


"Saya tidak apa-apa,Nona!"ucap Arina sedikit lemas menahan perih.


Seno mengemudikan mobilnya dan Tio duduk disampingnya.


Arina yang tak tahan merasakan perih akhirnya pingsan, Sarah yang berada disampingnya panik.

__ADS_1


"Dia pingsan!"ujarnya ketakutan."Arina,bangun!"panggil Sarah menepuk pelan pipi Arina.


Seno pun mempercepat laju kendaraannya menuju rumah sakit.


Sementara Reno yang melihat Arina terluka segera menyusul mobil Tio walau sesekali ia masih memegang bibirnya yang luka akibat pukulan Tio.


Di rumah sakit perawat segera membawa Arina ke ruangan pemeriksaan. Mereka bertiga masih menunggu hasil pemeriksaan Arina hingga telepon Sarah berdering."Halo,Mah! Sarah di rumah sakit,Arina yang di rawat ,"jelas Sarah di telepon pada Mama Maya."Sarah akan pulang,Mah!"ucapnya lembut pada mertuanya kemudian menutup teleponnya.


Sarah pun bangkit dari kursinya lalu berkata pada Seno tanpa memperdulikan Tio,"Aku akan pulang, Rangga menunggu ku. Kamu jaga Arina!"


"Baik,Nona!"ucap Seno.


Sarah pun melangkah pergi tanpa izin dari Tio dan berlalu begitu saja.


"Sayang!"teriak Tio pelan mengikuti langkah Sarah.


Sarah tetap diam dan terus berjalan.


"Aku bisa jelaskan semuanya!"ucap Tio. "Kita pulang bareng!"ajak Tio.


"Aku naik taksi saja,"ucap Sarah dingin.


"Ini sudah malam,aku juga ingin pulang. Arina biar Seno yang mengurusnya,"ujar Tio berjalan beriringan dengan istrinya.


Sarah tetap tidak peduli dan terus melewati mobil mereka yang terparkir di halaman rumah sakit.


Tio memegang erat tangan Sarah sedikit memaksa dan berbisik ,"Ikut dengan ku pulang!"


Akhirnya Sarah mengikuti Tio pulang ke rumah daripada pertengkaran mereka jadi tontonan orang lain. Sementara Reno datang menghampiri Seno setelah melihat Tio dan Sarah pergi.


"Bagaimana kondisi Arina?"tanya Reno.


"Dokter belum keluar,"jawab Seno.


Tak lama kemudian Dokter keluar bersama Arina dan menjelaskan tentang kondisi Arina dan diperbolehkan pulang.


"Arina?"sapa Reno yang cemas.


"Seno antar aku pulang,"ucap Arina pada Seno dan tidak membalas sapaan Reno.


Seno pun mendudukkan Arina di kursi roda dan mendorongnya hingga ke parkiran. Reno menatap Arina iba di dorong Seno dari kejauhan.


"Aku akan antar kamu menggunakan taksi,kamu di sini saja. Aku akan memanggil taksi,"ujar Seno.


Arina menganggukan kepalanya. Seno pun mencari taksi . Melihat Seno pergi mencari taksi, Reno mendekati Arina.


"Maafkan aku, membuatmu jadi begini!"ucap Reno.


Arina memutar kepalanya dan mendongakkannya lalu berucap datar,"Aku bisa maklum,kamu lagi emosi."


"Aku merasa bersalah denganmu,"ungkap Reno.


"Tidak ada yang salah,aku mohon padamu dan berharap kita tidak pernah bertemu lagi!"pinta Arina dengan sendu.


"Arina, taksinya sudah datang!"ucap Seno menghampiri Arina yang menunggu di kursi roda dan ia membantunya masuk ke dalam taksi,lalu taksi pun berlalu meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2