
Dua bulan berlalu Reno selalu mengirimkan barang-barang kebutuhan Rania. Ia mengirimkan melalui kurir karena jika dia sendiri yang mengantar ibunya pasti akan mengusirnya. Pertanyaan yang ingin ia utarakan pada Marni yang lalu pun ditunda.
"Barang dari Reno lagi?"tanya Marni pada pengasuh Rania.
"Iya, Nyonya!"jawabnya.
"Letak di gudang saja,"perintah Marni.
Marni pun menelepon putranya itu,tiga detik kemudian panggilan telepon pun diangkat.
"Halo,Bu!"sapa Reno.
"Kamu tak perlu repot mengirimkan barang-barang ini ke rumah karena Ibu masih sanggup membelinya,"ucap Marni.
"Bu,Rania anakku jadi aku bertanggung jawab atas dirinya,"sahut Reno.
"Selama ini kamu ke mana saja!"ucap Marni menutup teleponnya dengan kesal.
Reno menghela nafasnya saat ibunya menutup teleponnya dengan kasar. Ia melihat arlojinya berhubung hari ini libur dan masih pagi juga ia pergi ke pemakaman tempat sang istri terbaring.
Sesampainya di pemakaman,ia meneteskan air matanya kembali. Setangkai bunga di letakkan di pusara sang istri. "Aku sekarang sendiri, semua menjauh. Ibu dan anak kandungku juga,"ucapnya lirih.
"Sekali lagi maafkan aku!"ucapnya lagi menghapus air matanya.
Setelah dari pemakaman, Reno mengendarai mobilnya ke arah rumah orang tuanya. Ia ingin melihat Rania dari kejauhan biasanya jam segini bayi itu akan berjemur.
Sesampainya di sana ia melihat anak kandungnya ditemani pengasuh dan neneknya. Namun,ia melihat sebuah mobil masuk ke halaman rumah ibunya. Rayyan turun disusul oleh istrinya.
"Mengapa mereka ke sana?"gumamnya . Reno pun segera meninggalkan rumah orang tuanya.
Sore nanti ia akan kembali dan bertanya pada ibunya.
Sementara itu, Arina menyapa bayi mungil itu. Ia menganggap Rania seperti anak kandungnya. Rayyan dan Marni masuk ke dalam rumah sedangkan Arina memilih bermain dengan bayi lucu itu.
"Bagaimana perkembangan bisnis Mischa?"tanya Marni.
"Restoran dan rental semakin maju ada peningkatan 30 persen,"ucap Rayyan.
"Baguslah, kalau bisa kita buka cabang,"ujar Marni.
"Tapi Tante,apa kita memberi tahu Reno tentang ini?"tanya Rayyan.
"Tidak,dia tak perlu tahu tentang hal ini,"ucap Marni.
"Mengapa Tante?"
"Aku tak mau jika dia menikah lagi, istri barunya menguasai harta Mischa yang menjadi hak Rania,"tutur Marni.
Rayyan tersenyum lalu bertanya,"Jika kami begitu, bagaimana?"
__ADS_1
Marni menatap pria yang sebaya dengan menantunya itu lalu berkata,"Mischa percaya dengan kamu!"
Rayyan tersenyum bangga,bila sahabatnya itu memberikan kepercayaan itu kepadanya. Tak lama mengobrol, sepasang suami istri itu pergi meninggalkan rumah Marni.
Sore harinya,Reno mendatangi rumah ibunya. Ia ingin cepat-cepat berjumpa dan bertanya pada wanita yang telah melahirkannya itu.
Sesampainya di sana satpam rumah menghentikan laju kendaraannya."Maaf,Tuan!"ucap penjaga keamanan yang sudah bekerja 3 tahun.
"Ada apa?"tanya Reno heran,mengapa ia dihentikan.
"Tuan,tunggu di sini. Saya akan memberi tahu Nyonya besar dahulu,"ujarnya.
Reno berdecak kesal mendengar perkataan penjaga keamanan rumah ibunya."Anak kandungnya sendiri pun sulit untuk masuk,"gerutunya.
Tak lama pria itu kembali menghampiri Reno."Silahkan masuk,Tuan!"ucapnya membuka gerbang dengan lebar.
"Ada apa lagi kamu ke sini?"tanya Marni.
"Aku kangen dengan Ibu,"ucap Reno.
Marni tersenyum tipis lalu berkata,"Tidak usah berbasa-basi, cepat katakan saja mau kamu apa?"
"Rania mana,Bu?"tanya Reno.
"Dia lagi tidur,"ucap Marni singkat.
"Tadi pagi Rayyan dan Arina kemari,"ujar Reno.
"Mereka bisa,mengapa aku tidak?"protesnya.
"Karena Mischa yang memintanya,"jelas Marni.
Tak lama kemudian Rania terbangun, pengasuhnya membawa bayi baru beranjak 3 bulan itu keluar kamar.
"Rania!"gumam Reno menatap bayi mungil itu dalam gendongan pengasuhnya, matanya begitu merindukan bayi perempuan itu.
Pengasuh pun memberi Rania pada Marni. Hidung dan warna kulit mirip seperti dengan Mischa.
"Boleh aku menggendongnya, Bu!"pinta Reno penuh harap.
Tak tega,Marni menyerahkan Rania pada ayahnya. Tak lama kemudian bayi itu menangis sangat kencang saat melihat wajah Reno.
Marni segera mengambil alih Rania dan menggendongnya."Kamu lihat 'kan,dia tidak mau denganmu!"ujar Marni.
"Mungkin karena kami baru jumpa,"Reno memberikan alasan.
Marni memanggil pengasuh dan memberikan cucunya padanya. Lalu dia kembali berbicara dengan anaknya,"Bukan karena itu,dia tahu kalau kamu dulu pernah tidak mengakuinya,"ungkit Marni lagi.
"Bu,jangan bahas itu lagi,"ucap Reno sedih.
__ADS_1
"Kenapa? Rania dengan siapa saja dia mau kecuali kamu,"ungkap Marni.
"Bu,beri kesempatan untuk menebus kesalahanku," pinta Reno memohon.
"Ibu tak bisa,hanya Mischa yang dapat memberikan kesempatan itu,"ucap Marni.
"Bagaimana mungkin dia sudah tiada?"
"Kamu ingat apa yang kau lakukan dulu terhadapnya?"tanya Marni.
"Aku hanya tidak mengakui calon bayinya saja,"ucap Reno.
"Bukan itu saja,kau tahu alasan dia tidak memberi tahu kehamilannya sebelum kau berangkat ke luar negeri,"ucap Marni.
Reno menggelengkan kepalanya.
"Karena dia cemburu!"ujar Marni.
"Cemburu?"Reno mengernyitkan keningnya. Selama mereka menikah dia tak memiliki kekasih atau teman dekat wanita.
"Karena kau masih menyimpan foto Arina di dompet dan ponsel,"ucap Marni.
***flashback..
Mischa melihat dompet Reno terjatuh di bawah ranjang dan ponselnya masih menyala. Ia memegang ponsel Reno saat itu terpampang wajah Arina di dalam galeri foto,ia melihat beberapa foto yang tersimpan tidak ada foto istrinya sama sekali,ia segera meletakkan ponsel itu kembali dan segera memungut dompet yang terjatuh lagi-lagi ia melihat foto wanita itu. Hatinya terasa sakit dan kecewa."Jahat kamu,Reno!"batinnya.
"Aku tidak akan memberi tahu kamu tentang kehamilan ini dan aku juga siap jika kamu meninggalkanku,"ucapnya lirih.
Flash on***..
"Jadi itu alasan dia tidak memberi tahu aku dari awal,"ucap Reno.
"Apa kamu masih mencintai Arina?"tanya Marni.
Reno hanya diam dan tak bisa menjawab.
"Pantas saja, Mischa memilih anaknya dirawat selain dengan ayahnya,"ucap Marni.
"Aku menyesal,Bu!" Reno tak bisa menahan air matanya.
"Menyesal kamu bilang?Percuma dia telah tiada,kau menginginkan anaknya tapi tidak mencintai ibunya,"ucap Marni meluapkan emosinya.
Reno memeluk wanita paruh baya."Tolong maafkan aku ,Bu!"ucapnya lirih.
"Aku seorang wanita,aku juga merasakan sakit hati yang dirasakan menantuku,"ucap Marni terisak.
"Aku salah, Bu!"
"Memang kamu salah!"hardik Marni.
__ADS_1
Reno tak dapat berkata apa-apa,ia hanya tertunduk. Penyesalan selalu datang terlambat. Ia pun segera pergi meninggalkan rumah orang tuanya.Sesampainya di rumah ia mengambil foto pernikahan mereka,ia mencium wajah istrinya itu. Baru kali ini pria itu tampak menyedihkan.
"Aku janji,aku akan jaga anak kita!"ucapnya lirih .