
"Kesya cukup nekat," ujar Agnes.
"Aku lebih mengkhawatirkan kamu!"
"Ada Felicia di dekatku!"
"Iya, tapi kamu tetap hati-hati!" nasehat Satria.
"Kamu juga harus hati-hati," ujar Agnes. "Aku akan menyiapkan makan malam," ia pun pamit turun ke dapur.
Agnes pun menghidangkan makanan yang sudah ia masak di meja makan. Satria begitu lahap menikmati masakan istrinya.
"Selama kami tinggal tidak ada masalah, kan?" tanya Setya pada menantunya.
"Tidak ada apa-apa, Pa!" jawabnya.
"Syukurlah!" ucap Setya lega.
...****************...
"Selamat pagi Tuan, Nona!" sapa Feli pada atasannya.
"Pagi juga, Feli!"
"Kenapa dia datang?" tanya Agnes.
"Bukankah kamu hari ini akan ke rumah Mayang?" Satria menatap sang istri.
"Iya, tapi aku bisa pergi bersamamu!"
"Hari ini aku dan Papa buru-buru ada rapat mendadak di kantor, jadi Feli yang akan menemanimu!" ujar Satria.
"Baiklah!"
Setelah Satria dan Papa Setya pergi ke kantor, Agnes pun berangkat ke rumah Mayang bersama pengawal pribadinya.
Sesampainya di sana temannya itu menyambutnya berserta kedua putrinya.
"Akhirnya kau datang juga, tidak ada halangan dijalankan?" tanya Mayang pada sahabatnya itu.
"Kau tahu juga?"
__ADS_1
"Ya, aku tahu. Suamiku yang mengatakannya," jawab Mayang.
"Nona, maaf saya harus kembali ke kantor!" pamit Felicia pada Agnes.
"Oh, ya sudah."
Felicia pun kembali ke kantor ditengah perjalanan mobilnya mogok, ia pun turun dan memeriksa mesin mobil.
Seorang pria menghentikan laju kendaraannya dan turun, ia menghampiri Felicia yang sedang berusaha memperbaiki mobilnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Tidak, terima kasih. Saya akan memanggil orang bengkel," jawab Agnes menatap pria itu dengan dingin.
"Apa aku tidak boleh membantumu?"
"Aku tidak butuh bantuanmu!" jawabnya lagi.
"Nona, menunggu orang bengkel cukup lama!"
"Biarkan saja!"
"Hei, Nona. Anda kenapa? Aku tahu kau adalah pengawal pribadi Agnes, biarkan ku membantumu!"
"Aku sudah paham penjelasanmu!"
"Baguslah!" ucap Feli. "Silahkan, anda pergi!" usirnya tanpa melihatnya. Ia menutup kap mesin mobilnya.
"Aku akan menunggumu di sini!" ucap pria itu.
"Aku tidak memintamu untuk menemaniku!"
"Aku akan tetap menunggu!"
"Anda tidak usah berpura baik-baik!"
"Hei, aku ikhlas membantumu!"
"Aku sudah tahu maksud dan tujuan anda!"
"Maksud dan tujuan apa?"
__ADS_1
"Anda dibayarkan untuk mendekatiku?"
Pria itu gelagapan mendengar pertanyaan Felicia. "Siapa yang membayarku?"
"Apa perlu aku beritahu namanya dan nominalnya?"
"Ternyata kau seorang detektif juga," tebaknya.
"Lebih baik anda pergi dari sini," ucap Felicia. "Satu hal lagi," ia menatap pria itu. "Katakan padanya, jangan usik kehidupan keluarga atasanku. Kalau kau tidak mau dituduh pengkhianat!" ucapnya tegas.
Pria itu menarik sudut bibirnya dan bertepuk tangan mengejek. "Kau cukup hebat juga," sindirnya.
"Aku harus hebat agar tidak menjadi pengkhianat sepertimu!"
"Jadi, setelah kau tahu aku pengkhianat. Apa dirimu akan mengadu pada mereka?" tantangnya.
"Mereka juga sudah tahu!" jawab Feli santai. Walau sebenarnya ia berbohong.
"A..apa!" ucapnya terbata.
"Kau terkejut?" Feli balas bertanya.
Pria itu tampak diam.
"Kau takut? Di campakkan bahkan hukuman akan menantimu!"
Pria itu menarik tangan Feli hingga membuat jarak keduanya berdekatan, ia menatap wajah wanita yang ada dihadapannya. "Kau dari dulu tidak pernah mau mengalah!"
"Aku mengalah darimu, jangan mimpi!" Feli menekankan kata-katanya.
Pria itu melepaskan genggamannya. "Kita lihat siapa yang akan menang!"
"Aku ingatkan kepadamu, berhentilah!"
"Tidak akan!" ucap pria itu tegas.
"Sampai kapan kau begini?"
"Sampai keluarga mereka hancur!"
"Akhiri saja, kau akan menyesal!"
__ADS_1
"Tidak ada kata menyesal!" Pria itu pun pergi meninggalkan Feli seorang diri.
Ia memasuki mobilnya dan memukul setir. "Kenapa harus Feli yang menjadi penghalangku?"