
Arina tampak cantik di hari pernikahannya,ia akhirnya menerima pria yang telah membohonginya selama ini. Dia juga kecewa kepada kedua orang tuanya yang tidak memberi tahu sebenarnya.
Dia menghela nafasnya,"Mungkin ini yang terbaik!"batinnya berucap.
Arina dan keluarganya bergegas menuju gedung pernikahan. Sepanjang jalan tidak ada senyuman di bibirnya.
Akhirnya mereka sampai di gedung pernikahan, Arina sengaja belum dipertemukan dengan Rayyan. Ikrar pernikahan diucapkan oleh Rayyan dengan lantang. Membuat Arina meneteskan air matanya."Sekarang aku menjadi istrinya,"ucapnya dalam hati.
"Nak,ayo!"ajak Nana membawa putrinya bertemu dengan suaminya.
Arina berjalan perlahan di dampingi kedua orang tuanya. Mata Rayyan tak berkedip melihat wanita yang ia kenal beberapa bulan yang lalu karena kesalahannya.
"Cantik!"bisiknya di telinga istrinya yang telah berada disampingnya.
Selesai menandatangani buku pernikahan dan sesi foto, akhirnya mereka duduk di pelaminan.
Tak ketinggalan keluarga besar Tio hadir pada acara pernikahan termasuk para teman kerja Arina. Mereka menyampaikan ucapan selamat dan berfoto bersama.
Wisnu hadir seorang diri karena Mayang baru saja melahirkan seminggu yang lalu,ia ditemani Seno .
Adik kandung Tio juga ikut menghadiri acara pernikahan teman kantornya itu.
Tari menyenggol bahu Seno dan berkata menyindir,"Ternyata dia memilih pria itu daripada kamu, kurang cepat 'sih!"
Seno menatap wanita disampingnya dan berkata,"Jodoh tidak ada yang mampu menolaknya!"
"Oh,dalam banget kata-katanya!"ucap Tari senyum-senyum.
"Saya masih punya Nona!"celetuk Seno.
"Saya? Memangnya saya mau dengan kamu?"tanya Tari.
"Kalau anda tidak mau,Tuan Tio pasti menerima saya sebagai adik iparnya,"ucap Seno berbangga diri.
"Oh,maaf! Saya menolaknya,"ujar Tari kemudian berlalu meninggalkan Seno.
Mata pria itu mengikuti arah langkah Tari kemudian tersenyum,"Saya yakin kamu memiliki perasaan yang sama!"ucapnya membatin.
"Dijodohkan dengan pria seperti dia?Aku akan katakan tidak,terlanjur sakit hati diriku!"ucap Tari membatin.
Sementara itu, Mischa masih menunggu jawaban dari suaminya yang sedang berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerja rumahnya.
"Ren,kamu izinkan aku atau tidak!"rengeknya.
Reno hanya diam dan sibuk dengan beberapa berkas di atas mejanya.
"Ini hari libur , kamu istirahatlah atau jalan-jalan?"rayu Mischa.
Namun sang suami tetap tak bergeming.
"Kalau begitu aku pergi saja sendiri!"ujar Mischa berdiri.
"Melangkah dari ruangan ini,kamu akan tahu akibatnya!"ancam Reno.
"Kamu masih tidak terima Arina menikah Rayyan?" tanyanya.
Reno tetap diam dan tak menjawab. Mischa pun kembali duduk ia membaca majalah karena ponselnya masih di tahan suaminya.
Ia pun kembali berdiri dan akan melangkah keluar ruangan."Mau ke mana kamu?"tanya suaminya menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
"Aku lapar dan haus,"jawab Mischa ketus.
__ADS_1
"Kembali duduk!"perintah Reno. "Aku akan suruh pelayan membawa makanan dan minuman,"lanjutnya lagi sembari menekan nomor telepon salah satu pelayan.
Mischa pun kembali duduk dan menunggu pelayan membawa makanan untuknya. Tak lama kemudian pelayan membawa dua porsi makanan.
"Mengapa banyak sekali?"tanya Mischa pada pelayan.
"Tuan yang suruh!"jawab pelayan kemudian keluar.
"Memangnya kamu saja yang makan?Aku juga lapar,"ucap Reno menghampiri meja Mischa.
Reno pun menikmati makan siang dengan istrinya.
Selesai makan siang Reno kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu tak bosan?"tanya Mischa.
"Tidak!"
"Tidak biasanya juga kamu kerja walau libur?"tanya Mischa kembali.
"Bisanya tidak,kamu diam!"ucap Reno mulai kesal.
Mischa menyebikkan bibirnya,ia kembali membaca majalah kemudian tertidur di sofa.
Hari menjelang sore Reno menyelesaikan tugasnya,ia melihat Mischa tertidur dan memindahkannya ke kamar.
Ia membelai tiap sudut wajah istrinya lalu tersenyum memandangnya.
"Tak usah dipandang begitu, katakan saja kalau aku cantik!"ucap Mischa membuka matanya.
Reno menarik tangannya dan berkata gugup,"Kamu sudah bangun?"
"Sudah dari tadi saat kamu membawaku ke kamar,"ucap Mischa santai dan memindahkan posisi tidurnya.
"Ngerjain suami tidak masalah 'kan?"tanya Mischa membalikkan badannya dan menatap suaminya yang merebahkan diri disampingnya.
"Kamu tuh 'ya! "Reno menggelitik pinggang Mischa.
"Geli Reno!"teriak Mischa sembari tertawa.
"Ini akibatnya suka berbohong dengan suami,"ucap Reno tak henti.
"Iya,aku ngaku salah. Tolong hentikan!"ucapnya memohon.
"Janji ?"tanya Reno.
Mischa mengangguk dan berkata,"Iya, aku janji!"
"Baiklah,kalau begitu!"
Mischa pun bangkit dari tempat tidur .
"Mau ke kamar mandi,kamu mau ikut?"tanya Mischa.
"Boleh!"jawab Reno asal.
"Tidak!"ucap Mischa berlalu ke kamar mandi dan menutup pintu.
Reno tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
Malam harinya di hotel tempat menginap Arina dan Rayyan.
__ADS_1
"Sayang!"panggil Rayyan.
"Hm..!"
"Mandi bareng, yuk!"ajak Rayyan.
"Apa? Mandi bareng?"tanya Arina terkejut.
Dijawab oleh anggukan Rayyan.
"Tidak!" tolak Arina.
"Kita sudah sah,"sahutnya.
"Kita sudah sah,tapi kita belum berdamai. Paham!" ucap Arina ketus.
"Kita damai saja!"ucap Rayyan mengajukan jari kelingkingnya.
"Tidak segampang itu,Tuan Rayyan terhormat!"ucap Arina.
Rayyan menarik pinggang istrinya hingga jarak mereka dekat. Pria itu kemudian menyusuri telinga Arina dengan bibirnya dan berbisik,"Aku mencintaimu!"
Arina berusaha mendorong tubuh suaminya itu dan berkata,"Ray lepaskan! Aku sedang datang bulan!"
Rayyan melepaskan tubuh istrinya dan tersenyum lalu berkata,"Harus berapa hari aku menunggu?"
"Mungkin seminggu,"jawab Arina.
"Hah, selama itu?"tanya Rayyan lemas.
"Anggap saja itu hukuman buat kamu,"ucap Arina menunjukkan deretan gigi putih.
...****************...
Pagi harinya masih di hotel tempat menginap,Rayyan menciumi wajah Arina hingga membuat tubuh wanita itu menggeliat.
"Aku masih ngantuk,Bu!"ucapnya tanpa membuka matanya.
"Hei,aku ini suamimu!"ucap Rayyan tersenyum.
Arina bangkit mendengar kata 'suamimu' ."Hah,aku sudah bersuami?"ucapnya.
Rayyan tergelak melihat tingkah istrinya yang baru dinikahinya kemarin.
"Maaf,Ray!"ucap Arina berdiri."Aku akan buatkan sarapan untukmu!"tawar Arina.
"Tidak perlu , sebentar lagi pegawai hotel akan membawakan makanan untuk kita!"ujar Rayyan."Mandilah ! aku menunggumu. Kita makan bersama,"lanjutnya.
"Kamu sudah mandi?"tanya Arina.
"Kamu mau kita mandi bersama?"tanya Rayyan kembali.
"Tidak juga,aku hanya bertanya saja!"ucap Arina kemudian mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Setengah jam kemudian Arina keluar kamar mandi, aroma sabun dan sampo membangkitkan jiwa lelakinya Rayyan. Ia menatap istrinya yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Jangan melihatku seperti itu!"hardik Arina dengan nada rendah.
"Kamu istriku,jika istri orang lain mana berani aku menatapnya,"ucap Rayyan.
"Awas saja kalau berani menggoda wanita lain,"gertak Arina.
__ADS_1
"Jadi ceritanya cemburu?"tanya Rayyan tersenyum.
"Tidak juga,ayo kita makan!"ajak Arina menghentikan pembicaraan mereka.