Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
Menolak Kenyataan


__ADS_3

Dua bulan kemudian..


"Bu,hari ini aku mau ke rental mobil. Mau ikut aku atau tidak?"tanya Mischa lembut.


"Sepertinya Ibu di rumah saja,"jawab Marni.


"Ibu tidak titip sesuatu?"


"Ibu titip calon cucu saja agar dijaga dengan baik,"ucap Marni.


Mischa tersenyum kemudian pamit dengan mencium punggung tangan mertuanya.


"Kamu hati-hati!"ucap Marni.


Mischa pun berangkat ke tempat usahanya selama hamil ia menolak pekerjaan sebagai bintang iklan dan model. Sekarang Mischa sibuk mengurus rental mobilnya dan restoran ia mulai buka 5 bulan yang lalu sebelum acara pernikahan, tentunya tanpa sepengetahuan suaminya.


Pagi itu Reno pulang ke rumahnya tanpa memberi tahu istrinya. Selama ia di sana mereka berkomunikasi tapi hanya sekedar telepon atau mengirim pesan. Untuk menelepon mereka hanya lakukan seminggu sekali itupun hanya dengan durasi tidak lebih dari lima menit.


Sesampainya di rumah ia mengernyitkan keningnya,mobil milik ibunya terparkir di halaman rumahnya. Ia pun bergegas masuk.


"Ibu,di sini!"sapa Reno.


"Kamu pulang juga!"sahut Marni ketus.


"Mischa mana?"tanya Reno


"Dia pergi bekerja,"jawab Marni masih ketus.


"Jadi Ibu sejak kapan di rumahku?"


"Sejak kamu pergi ke luar negeri tanpa memberi tahu Ibu,"ucap Marni menyindir.


"Maaf,Bu! Aku benar-benar buru-buru,Ku pikir Ibu tahu keberangkatanku dari kantor,"ucap Reno menjelaskan.


Reno setelah mengobrol dengan Marni,ia pun membersihkan dirinya dan beristirahat karena lelah perjalanan jauh. Sedangkan Marni pergi pulang ke rumah karena anaknya itu sudah berada di rumah jadi ia tidak mengkhawatirkan kondisi menantunya.


Sebelum sore hari Mischa pulang ke rumah,penjaga keamanan rumahnya memberitahunya bahwa Reno sudah sampai di rumah.Ia tersenyum mendengar bahwa suaminya pulang. Ada rasa senang di dalam hatinya.


Ia pun menyapa suaminya yang sedang menikmati teh di teras belakang rumah.


"Kenapa tidak mengabarkan aku jika kamu pulang?"tanya Mischa membuat lelaki itu menoleh wajahnya.


"Sengaja,"jawabnya ia kemudian melirik tubuh istrinya yang sedikit lebih gemuk.


"Oh, begitu. Ibu mana?"tanya Mischa kembali.


"Ibu pulang ke rumahnya ,"jawabnya. "Kamu hamil?"tanya Reno datar.


Mischa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Sejak kapan?"tanya Reno dingin.


"Sebelum kamu pergi ke luar negeri,"jawab Mischa.


"Mengapa kamu tidak memberi tahu aku?"


"Aku tidak mau kamu membatalkan jadwal penerbangan."


"Kamu beri tahu pun,aku tetap akan pergi!"


Ada rasa sesak di dalam hatinya mendengar ucapan suaminya.


"Kamu yakin itu anakku,"ungkap Reno.


Rasanya bagai petir di siang bolong, suaminya tidak mempercayainya.

__ADS_1


"Mengapa diam?"


"Kamu pikir aku berkhianat?"tanya Mischa kembali.


"Aku tidak menuduhmu,"ucap Reno santai.


"Aku tidak sehina itu,"ucap Mischa dengan tegas.


"Apa kamu tidak pernah tidur dengan siapapun?"tanya Reno menyelidik.


Mischa tertawa getir lalu berkata,"Harusnya kau sudah tahu dari malam pertama kita?"


Reno tersenyum tipis,"Kita cuma melakukannya dua kali,"ucapnya.


"Aku bersumpah tidak pernah mengkhianati pernikahan kita,"ujar Mischa tegas.


"Aku tidak yakin, bisa saja kamu melakukan apapun untuk memenuhi ambisimu,"ucap Reno.


Mischa mengepalkan tangannya menahan marah,ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju kamarnya. Ia meluapkan tangisannya di ranjang.


Sakit rasanya ,suaminya sendiri tidak mengakui kehamilannya.


Hari ini ia memutuskan tidur tidak sekamar dengan Reno.


"Mau ke mana?"tanyanya karena melihat istrinya itu menyusun beberapa pakaiannya ke dalam koper.


"Aku akan pindah di kamar tamu,"jawab Mischa.


"Oh,"sahut Reno singkat.


...****************...


Semenjak Reno pulang Mischa menyibukkan dirinya dengan mengambil beberapa tawaran pekerjaan sebagai bintang iklan dan bintang tamu sebuah acara baik di media elektronik atau bukan.


Marni sempat melarang menantunya itu untuk bekerja terlalu berlebihan,tapi ia menolaknya. Karena cara itu yang membuat Mischa perlahan melupakan rasa sakit hatinya kepada Reno.


"Tidak apa-apa,Bu. Ini semua juga demi calon bayiku,"ucap Mischa tersenyum.


"Reno mampu membiayaimu dan anak kalian,"ucap Marni lagi.


"Nanti setelah melahirkan,aku juga akan istirahat."Mischa berusaha menenangkan mertuanya itu.


"Kamu ingat,jangan terlalu capek kerja!"Marni kembali menasehati menantunya itu.


Mischa tersenyum dan memeluk mertuanya itu,"Terima kasih sudah menyayangiku,Bu!"ucapnya.


"Kamu sudah Ibu anggap seperti anak sendiri!"ujar Marni.


"Kita makan di luar yuk,Bu!"ajak Mischa.


"Boleh juga,kamu ajak Reno juga sana!"ujar Marni.


"Bentar aku panggil dia!"ucap Mischa.


Mischa berjalan ke kamar Reno,ia mengetuk pintu kamar suaminya itu.


"Ada apa?"tanya Reno ketus.


"Aku dan Ibu mau makan di luar,kamu mau ikut?"ajaknya.


"Aku tidak bisa,ada meeting dengan klien,"ucap Reno tanpa melihat istrinya itu.


"Oh,ya sudah!"ucap Mischa cemberut,ia kemudian turun menemui mertuanya.


"Bagaimana apa dia mau?"tanya Marni ketika menantunya menghampirinya

__ADS_1


"Reno tidak bisa menemani kita,Bu!"jawab Mischa lesu.


"Ya sudah,kita saja. Kamu ganti pakaian sana, kita berangkat sekarang!"ucap Marni.


"Baik,Bu!"sahutnya.


Tak lama kemudian mereka berangkat ke sebuah restoran. Sesampainya di sana para pelayan menyambut Mischa dengan ramah.


"Ibu mau pesan apa?"tanya Mischa menyodorkan sebuah buku menu.


Marni memilih dua jenis makanan yang tertera di buku menu. Selesai memilih mereka berdua kembali mengobrol.


"Bu,percayakan kalau ini calon cucu Ibu?"tanya Mischa.


Marni tersenyum lalu berkata,"Ibu mana tahu. Kamu yang tahu siapa Ayah kandungnya."


"Ibu mau merawatnya jika dia lahir,"ucap Mischa.


"Tentunya Ibu mau,dia cucuku!"ucap Marni.


"Sebenarnya ini restoran milikku,"ungkap Mischa.


"Apa?Mengapa Ibu baru tahu?"tanya Marni keheranan.


"Aku membukanya sebelum menikah dengan Reno,"jelasnya.


"Reno tahu?"


Mischa menggelengkan kepalanya dan berkata,"Aku tidak pernah mengatakannya."


"Mengapa?"


Mischa tersenyum dan berkata,"Aku mau jadi istri yang tidak memiliki apa-apa di depan suaminya agar ia merasa dibutuhkan."


Ibu membalas dengan senyuman.


"Selain Ibu,ada Rayyan yang tahu semua usahaku."


"Rayyan? Siapa?"Marni mengerutkan keningnya.


"Suami Arina."


"Kamu kenal suaminya?"


"Dia sahabatku,"jawab Mischa.


"Bayi yang kamu kandung bukan anaknya 'kan?"tuding Marni.


Mischa terkekeh dengan pertanyaan mertuanya itu lalu berkata,"Aku cuma mencintai anakmu,Bu!"


"Ibu percaya sama kamu,tapi mengapa Reno tidak percaya dengan kamu?"Marni tahu semua dari Mischa,ia menceritakan pada mertuanya itu jika Reno tidak menerima kehadiran calon bayinya.


"Entahlah,Bu. Jika bayi ini lahir aku serahkan semua keputusan pada Reno,"jelas Mischa.


Makanan pun sudah tersedia, mereka menikmatinya.


"Kamu pintar juga berbisnis,"ucap Marni.


"Harus,Bu. Apalagi aku cuma sendiri,jadi pintar-pintar mengolah keuangan,"ucap Mischa.


"Bangga aku memiliki menantu sepertimu,"puji Marni.


"Terima kasih,Bu. Habis dari sini temani ke toko perlengkapan bayi 'ya,Bu!"ajak Mischa.


"Baiklah, Ibu akan menemanimu belanja sampai kamu melahirkan,"ucap Marni.

__ADS_1


Mischa tersenyum senang.


__ADS_2