
Undangan pernikahan selesai di cetak, Rayyan membagikan undangan pada Mischa.
"Wah, akhirnya kamu menikah juga!"celetuknya.
Rayyan tersenyum tipis dan berkata,"Aku lihat kalian baik-baik saja,apa dia mulai menerimamu?"
"Entahlah, aku tak tahu. Akhir-akhir ini dia memang terlihat baik padaku,"ucap Mischa.
"Apa dia ingin mencari informasi dari kamu?"
"Aku sempat berpikir begitu,kemarin saat kita bertemu. Dia menyuruh seseorang mengikuti aku!"
"Jadi dia penasaran?"tanya Rayyan menyunggingkan senyumnya.
"Iya!"
"Aku rasa dia masih menyukai calon istriku,"ujar Rayyan.
"Itu pasti,'kan kamu yang merebut wanita itu!"celetuk Mischa.
"Tapi kamu juga menikmatinya!"sahut Rayyan."Aku mau menjemput Arina ,aku harap kamu datang bersama suamimu!"ucapnya lagi.
"Semoga saja dia mau!"
Mischa tidak pulang ke rumah,ia memilih ke tempat rental mobil miliknya. Sesampainya di sana, salah satu karyawannya menyampaikan bahwa Reno lagi menunggu.
"Suami saya di sini?"tanya Mischa pada karyawannya, seingatnya tadi suaminya itu izin ke luar kota."Bagaimana dia tahu aku punya usaha ini?" tanyanya membatin.
"Iya, Nyonya. Setengah jam yang lalu ia di sini,"ucap karyawannya.
"Ya, sudah. Terima kasih. Kembalilah bekerja!"ucap Mischa tersenyum.
Ia pun menaiki tangga menuju ruangan kantor miliknya.Bangunan usaha miliknya terdiri dari dua lantai yang ia beli dua tahun yang lalu dan direnovasi ulang.
"Reno, kamu di sini?"
"Iya, memangnya aku tak boleh mengunjungi tempat usaha milik istriku sendiri?"
"Boleh,tapi dari mana kamu tahu tempat ini?"
Reno menarik sudut bibirnya dan menghampiri istrinya yang berdiri dan berkata,"Apa yang tidak bisa aku lakukan?"
Wajah Mischa terlihat tegang.
"Kamu tak menawarkan suami minuman atau makanan?"sindir Reno.
"Oh,ya. Aku akan suruh karyawan membuatkan minuman untukmu,"ucap Mischa kemudian menelepon karyawannya yang di lantai bawah.
"Sudah lama kamu membangun usaha ini?"tanya Reno menyelidik.
"Baru setahun,"jawabnya.
"Hebat ! Setahun punya 20 mobil ,"ucap Reno kembali menyindir.
"Tidak semua milikku, separuhnya milik teman yang dititipkan di sini!"jelas Mischa jujur.
"Oh, begitu!"ucap Reno mengangguk.
__ADS_1
Mischa tersenyum tipis. Karyawan pun membawa minuman untuk Reno.
"Silahkan,diminum!"tawar Mischa lembut.
"Jadi mobil mana yang membuat Arina celaka?"
Glek.. Jantung Mischa sejenak berhenti berdetak.
"Maksud kamu apa?"
"Mobil kamu banyak ,mana tahu salah satu diantaranya ada yang dipakai untuk membuat dia celaka,"ucap Reno sekali lagi.
"Kamu menuduhku?"tanya Mischa mulai terpancing emosinya.
"Aku tidak menuduhmu, cuma aku tadi lihat ada yang persis dengan mobil yang menabrak Arina,"ucapnya santai.
Mischa terlihat bingung dan gugup. "Bagaimana ini ?" ucapnya membatin . Seingat dirinya,Rayyan pernah menyewa mobil di rental miliknya di hari yang sama saat Arina kecelakaan tapi ia tidak tahu jika mobil itu yang menabrak wanita itu.
"Hei,apa yang membuatmu melamun?"tanya Reno membuyarkan lamunannya.
"Tidak ada apa-apa, bukankah kamu pergi ke luar kota?"
"Rencananya aku mau ke luar kota ,cuma berubah pikiran,"ucap Reno ."Oh,ya!Aku melihat kamu bertemu dengan pria itu,kalian sangat dekat sekali 'ya?"tanyanya menyindir.
"Kamu mengikuti aku lagi?"tanya Mischa.
Reno menggelengkan kepalanya lalu berkata,"Tidak! Aku hanya ingin tahu istriku bertemu dengan siapa,cuma itu!"
"Reno ini salah paham,aku bertemu dengan dia karena ia ingin memberikan undangan!"ucap Mischa .
"Iya, mereka akan menikah!"
"Kamu masih utang penjelasan denganku,"ucap Reno berbisik.
"Penjelasan apa lagi?"tanya Mischa heran.
"Tentang mobil,"jawab Reno dingin.
Reno pun pergi meninggalkan rental mobil milik istrinya, begitu juga dengan Mischa yang ikut menyusul menggunakan mobilnya sendiri.
Sesampainya di rumah, Mischa berusaha mempercepat langkahnya.
"Reno! Penjelasan yang mana lagi?"tanya Mischa.
Reno berjalan ke kamar dan mengganti pakaiannya. Berkali-kali Mischa memanggil namanya namun tak digubrisnya .
Karena tak digubris Mischa memilih keluar rumah dan pergi menenangkan diri.
"Aarrghhhhh..!"teriaknya memukul setir mobil."Apa 'sih mau dia?"gumamnya.
Hari larut malam,Reno masih mondar-mandir menunggu Mischa pulang.
"Ke mana dia?"gumamnya."Ponselnya tak aktif!"gerutunya.
Reno pun akhirnya memilih tidur, keesokan harinya ia terbangun tapi Mischa juga belum pulang.
"Kalian lihat Nyonya?"tanya Reno pada pelayannya.
__ADS_1
"Tidak,Tuan! "jawabnya.
Reno pun kembali ke kamar mengambil ponselnya dan menghubungi Mischa namun ponselnya juga tak aktif.
"Aku harus mencarinya?" ucapnya lirih. Reno pun pergi mencari Mischa ia tidak pernah tahu siapa saja teman Mischa kecuali Rayyan.Tempat biasa yang sering dikunjungi hanya kafe langganannya,rental mobil dan rumah milik orang tuanya.
"Apa dia ke rumah orang tuanya?"batin Reno bertanya.
Laju kendaraannya pun menuju rumah orang tuanya.
Namun,dia tidak menemukannya dan rumah itu lagi disewakan. Ia melanjutkan mencari di kafe dan rental tapi hasilnya tetap sama.
"Apa dia ke rumah Ibu?"gumamnya. Reno pun mengendarai mobilnya ke rumah Ibunya.
Sesampainya di sana,Marni menyapa putranya itu."Sudah lama kamu tidak ke sini sejak menikah,di mana Mischa?"
"Hm..itu dia lagi kerja,"jawab Reno berbohong.
"Oh,Ibu kangen dengan dia!"ucap Marni.
"Memangnya Ibu tidak kangen dengan aku?"
"Itu pasti,"ucap Marni."Ibu ingin masak kue dengan dia!"ujarnya lagi.
"Dia lagi sibuk,Bu!"ucap Reno berbohong lagi.
"Suruh dia berhenti kerja dan segera Ibu cucu,"pinta Marni.
Reno menatap Ibunya lalu berkata,"Ibu doakan saja!"
"Nanti kalau kamu pulang katakan padanya Ibu rindu dengan dia,"ucapnya."Dia sudah terlalu lelah bekerja ketika muda namun uangnya habis bayar utang pada Lidya,"ujar Marni lagi.
"Utang apa ?"
"Orang tuanya dulu punya utang dengan Lidya dan jaminannya adalah rumahnya itu. Jadi, Mischa harus mencicil utang orang tuanya juga mengganti seluruh biaya hidup yang di keluarkan Lidya untuk Mischa selama dirawat olehnya,"jelas Marni.
"Tapi kenapa Mischa tak pernah bicara tentang itu ketika kami menjalin hubungan?"
"Dia tidak mau merepotkanmu!"
"Kepergiannya ke luar negeri?"
"Lidya yang memintanya mengambil pekerjaan di luar negeri dan dia ikut juga selama di sana. Ponsel di pegang oleh Lidya dengan alasan kerjaan Mischa akan terganggu,"ujar Marni kembali menjelaskan.
"Selama ini aku salah paham,"ucapnya membatin.
"Nak,Ibu minta maaf karena menjodohkanmu dengan Mischa. Semua ini karena terpaksa, Mischa sebenarnya menolak menikah denganmu tapi Ibu yang memintanya dengan syarat Ibu harus membayar utang orang tuanya pada Lidya agar rumahnya kembali lagi,"ucap Ibu bersalah.
"Syaratnya cuma itu,Bu?"tanya Reno penasaran.
"Iya,cuma itu. Dia tidak minta apa-apa lagi,"ungkap Marni.
"Jadi dia berbohong?Dia mengatakan mencintaiku karena harta,"ucapnya membatin.
"Kenapa diam,Nak?"
"Aku pamit pulang,Bu!"ucap Reno berlalu.
__ADS_1