Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
Dia Cucuku Bukan Anakmu


__ADS_3

Suara tangisan bayi terdengar dari ruangan kamar bersalin,ada rasa bahagia di dalam dadanya. Reno tersenyum bahagia.


Namun,tak lama kemudian setelah dokter selesai melakukan tugasnya. Salah satu perawat keluar dengan panik dari ruangan tempat Mischa melahirkan,ia kembali ke ruangan bersama Dokter dengan wajah yang sulit diartikan.


Reno bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Dokter, belum sempat bertanya ibunya Marni keluar dengan berurai air mata.


"Bu,apa yang terjadi?"tanya Reno khawatir.


Marni tidak menjawab,ia hanya menangis. Reno yang melihatnya semakin frustrasi. Selang beberapa menit Dokter keluar dari ruangan.


"Bagaimana dengan menantu saya,Dok?"tanya Marni.


"Nona Mischa mengalami pendarahan hebat, nyawanya tidak dapat diselamatkan,"ujar Dokter.


"Dokter tidak salahkan?"tanya Reno semakin khawatir.


"Tidak, Tuan!"


Reno masuk kedalam ruangan, Mischa sudah ditutupi dengan kain putih. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Marni terus menjerit memanggil nama menantunya.


"Bangun,Nak! Siapa yang menjaga Rania?"tanya Marni berlinang air mata didepan tubuh kaku menantunya. Sebelum meninggal, Mischa meminta mertuanya untuk memberikan nama Rania.


Reno tidak mampu berkata-kata melihat Mischa tidak bernyawa,ada rasa sesak di dalam hatinya.


Seorang perawat membawa bayi yang baru saja dilahirkan dan dibalut dengan kain khusus bayi kepada Marni. Wanita paruh baya itu mengambil bayi tersebut kemudian mendekapnya dengan berurai air mata.


"Kamu cucu Oma. Ibumu orang yang hebat!"ucap Marni mencium pipi mulus Rania.


"Bu!"panggil Reno mendekati Marni dan cucunya.


"Jangan sentuh dia!"hardik Marni.


"Bu,aku ingin melihatnya!"ucap Reno sendu.


"Dia cucuku bukan anakmu!"ucapnya dengan tegas.


...****************...


Keesokan harinya, pemakaman Mischa dilakukan.


Ia dimakamkan berdekatan dengan kedua orang tuanya.Rayyan datang sebagai sahabat begitu terpukul mendengar wanita yang sempat ia sukai meninggal dunia.

__ADS_1


"Dia orang baik!"ucap Rayyan lirih berlinang air mata.


Arina dengan mata berkaca-kaca memeluk tubuh suaminya erat dan menghapus air mata yang jatuh di pipi suaminya dengan tisu.


Keluarga besar Tio juga hadir,Sarah terus menangis memeluk suaminya."Kasihan Rania, Mas!"ujarnya. Ia tahu nama bayi itu dari mertua Mischa.


Rania digendong oleh keluarga Marni yang lainnya, sedangkan Reno terus menangis dipusara istrinya. Mertua Mischa tak kuat hingga sempat pingsan. Rasti yang hadir menghapus sudut air matanya dan memapah tubuh ibunya.


Selesai acara pemakaman, Rayyan tetap masih belum beranjak dari tempat.Ia masih menatap tempat peristirahatan terakhir sahabatnya itu. Suaminya Mischa masih memeluk erat foto istrinya,ia berada dekat dengan kayu nisan tertulis nama wanita itu.


Ia teringat dengan kata-kata terakhir diucapkan istrinya,"Cepat atau lambat,kamu akan menyesal!"


Sekarang ia menyesalinya, istrinya telah tiada dan ibu kandungnya tidak ingin berbicara dengannya dan menyalahkan dirinya yang membuat Mischa meninggal.


Sesampainya di rumah,Reno memasuki kamar tamu yang beberapa bulan ini ditempati Mischa,ia melihat tumpukan pakaian bayi.Serta foto pernikahan mereka. Aroma parfum Mischa masih terasa di dalam kamar itu.


Sebagian keluarga masih belum pulang termasuk Rasti dan suaminya masih menemani Reno yang masih terpuruk.


Sedangkan Marni memilih pulang ke rumahnya membawa Rania,dia berjanji akan menjaga dan mengurus cucunya itu. Karena ayah kandungnya menolaknya.


...Lain tempat, Rayyan masih melamun. Di balkon rumahnya. Susah senang semasa sekolah dahulu, tidak akan ia lupakan. Mischa teman yang pertama membantunya saat kedua orang tuanya bangkrut. Ia rajin mengirimkan makanan buat dirinya. Dia selalu mendukung Rayyan ketika ragu menghadapi pekerjaan. Ia juga tak sia-sia menyisihkan uangnya untuk membelikan Rayyan pakaian saat pertama kali mendapatkan pekerjaan....


Melihat Rayyan bersedih, membuat Arina kembali meneteskan air matanya.


"Kamu benar,ada bayi mungil itu,"sahut Rayyan lembut.


...****************...


Seminggu setelah kepergian Mischa, rumah Reno begitu sepi. Hanya ada beberapa pelayan dan dua orang sepupu Reno yang masih setia menemaninya.


Sehari Mischa dimakamkan Marni membawa sebagian perlengkapan bayi dari rumah anaknya itu.


Seminggu ini juga Reno selalu mengunjungi makam istrinya. Rasa penyesalan begitu memuncak ketika ia sempat sekilas melihat bayi itu dalam gendongan salah satu anggota keluarga besarnya. Matanya dan bibirnya mirip seperti dirinya.


"Maafkan aku meragukan cintamu!"ucapnya lirih dengan berkaca-kaca, beberapa hari ini matanya sembab karena terus menangis.


Reno beranjak dari pemakaman kemudian menuju rumah ibu kandungnya. Ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah ibunya,ia melihat bayi itu digendong seorang pengasuh yang sedang memberikan susu dalam botol. Reno pun bersiap mengambil alih gendongan Rania namun suara larangan ibunya membuat ia mengurungkan niatnya. Marni menyuruh pengasuh membawa Rania ke dalam kamar.


"Bukankah aku sudah bilang kepadamu,jangan sentuh dia!"sentak Marni.


"Bu,apa salahnya aku menggendongnya?"pinta Reno memohon.

__ADS_1


"Ketika dia masih janin kamu menolaknya, bukannya kamu sendiri yang tidak mengakuinya,"jawab Ibu ketus.


"Aku mengaku salah,Bu!"


"Terlambat ! Mischa telah tiada. Coba saja kamu tidak memikirkan ego, semua ini tidak akan terjadi,"geram Marni.


Reno pun pulang dengan hati yang kosong,ingin rasanya ia memeluk bayi mungil itu tapi selalu saja dihalangi oleh ibunya. Sepulang dari tempat ibunya,ia berniat singgah di rental milik Mischa. Tanpa sengaja ia melihat dari jauh Arina dan suaminya ,baru saja keluar dari rental itu. Reno pun menanyakannya kepada karyawan Mischa.


"Mereka mengapa di sini?"tanya Reno.


"Tuan Rayyan adalah bos kami yang baru,"ucap salah satu karyawan.


"Bagaimana bisa?"tanya Reno.


"Saya kurang tahu,Tuan. Tadi mereka datang bersama dengan pengacara Nona Mischa,"jelasnya lagi.


"Mischa punya pengacara,"batin Reno berucap.


Dia pun pamit meninggalkan rental mobil,di dalam pikirannya teringat dengan perkataan ibunya kalau dirinya pernah sempat bertemu dengan Rayyan.


"Apa yang disembunyikan dariku? Apa Ibu tahu semua ini,"gumamnya."Aku akan tanyakan ini pada ibu!"batinnya berkata.


Sementara itu Rayyan dan Arina mengunjungi Rania.


Marni tidak menolak kehadiran Arina walau ia sempat tidak merestui hubungan anaknya dengan wanita itu. Karena sekarang Arina sudah menikah begitu juga dengan Reno.


"Rania mana,Tante?"tanya Rayyan.


Marni pun memanggil pengasuh dan membawa bayi mungil itu. Arina menggendong Rania dan membawanya menjauh dari suaminya dan mertua Mischa.


"Tadi Reno ke sini,"tutur Marni."Ia ingin melihat Rania,"


lanjutnya lagi.


"Tante, mengijinkannya?"


Marni menggelengkan kepalanya


"Bagaimana pun ia ayah kandung Rania,"ucap Rayyan.


"Biarkan saja, agar ia tahu arti dari kehilangan!"ucap Marni.

__ADS_1


Rania begitu nyaman digendong Arina sampai ia lupa pulang."Lain kali kita akan ketemu lagi, cantik!"ucap Arina menoel hidung Rania.


"Kami pamit ya,Tante!"ucap Rayyan begitu juga dengan Arina.


__ADS_2