Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Ayah dan Ibu Arina datang mengunjungi anaknya, mereka tidak tega melihat Arina tinggal sendiri lagi semenjak kecelakaan. Malam itu orang tuanya mengabarkan akan menjodohkan dirinya dengan anak dari teman Nana. Hal itu membuat Arina semakin bingung. Rayyan melamarnya dan kedua orang tuanya malah ingin menjodohkannya.


"Arina,akan pikir lagi rencana Ayah dan Ibu!"ucapnya lirih.


"Nak, jangan lama memikirkannya!"ingat Nana dengan lembut.


"Bu,aku menikah cukup satu kali. Jadi aku harus benar-benar memikirkan ini semua,"Arina menjelaskan.


"Nak,kami butuh menantu yang bisa menjagamu di sini!"ucap Nana.


"Ibu,selama ini aku di kota ini sendiri. Aku tidak apa-apa, kalian jangan khawatir."Jelas Arina.


"Ayah tahu alangkah baiknya jika kamu ada yang menemani,"ujar Ari.


"Arina tahu tapi dengan cara tiba-tiba begini, bagaimana bisa berpikir."Ungkapnya.


"Kami sudah bertemu dengan orang tuanya dan kami kenal dengan anaknya,kami yakin dia pilihan terbaik buat kamu!"jelas Ari.


"Beri waktu sehari untuk Arina berpikir,"ucapnya.


"Baiklah,kami akan beri waktu kamu berpikir!"ujar Ari.


Arina pun pergi ke kantor setelah obrolan dengan kedua orang tuanya yang cukup membuat kepala pusing. Di kantor, Arina lebih banyak melamun dan diam.


"Mana yang ku pilih? Aku kenal dengan Rayyan dan dia melamarku sedangkan Ayah dan Ibu menginginkan aku menikah dengan anak temannya,"batinnya.


Tari yang melintas area tempat kerja Arina, melihat sekretaris kakaknya melamun.


"Hei,kerja jangan melamun aja!"ucap Tari tersenyum menyadarkan Arina.


"Tari,ada apa?"


"Tidak ada apa-apa,aku tadi keruangan Kak Tio ingin membicarakan sesuatu tapi aku lihat kamu melamun saja!"ujar Tari.


"Aku ingin minta pendapatmu?"ucap Arina.


"Pendapat tentang apa?"tanyanya kembali dan menarik kursi di depan meja kerja Arina.


"Misalnya orang tuamu menjodohkan kamu dengan anak temannya dan di hari yang sama ada seorang pria yang melamarmu . Kamu akan memilih yang mana?"tanya Arina.


"Wah, pertanyaan yang sulit. Kalau pria yang melamar dan kau mencintainya ,maka pilihlah pria itu!"ucap Tari memberikan pendapat.


"Aku belum bisa mencintai pria itu,"sahutnya dengan wajah sendu.


"Aku pun juga bingung,"ucap Tari tersenyum nyengir.


Arina menghela nafas panjangnya.


Sore harinya sepulang kerja ia terlihat lesu,pasti kedua orang tuanya segera menginginkan jawaban darinya.


Ia hanya bermalasan di kasur, makanannya hanya di lihatnya saja.


"Nak,kamu kenapa?"tanya Nana.


"Arina masih bingung,Bu. Dia mau menerima lamaran anak teman Ibu atau tidak,"ujar Ari.


"Kami melakukan ini untuk kebaikan kamu,Nak!"ucap Nana.


"Iya ,Bu. Arina tahu. Tapi ada pria lain yang sudah melamarku!"ucap Arina .


"Siapa dia?"tanya Ari.


"Rayyan."

__ADS_1


Ari dan Nana saling pandang dan tersenyum.


"Kamu menerimanya?"tanya Ari.


Arina menggelengkan kepalanya dan berkata,"Aku belum mengatakan iya atau tidak."


"Tolak dia!"ucap Ari.


Arina mendongakkan kepalanya.


"Lelaki itu tidak cocok buat kamu,kita belum kenal keluarganya dan dia tiba-tiba saja datang di kehidupanmu,"kata Ari sembari berlalu.


Rasanya bibir Arina ingin berbicara tapi tak mampu .


"Dengarkan kata Ayahmu,Nak!"ucap Nana.


...****************...


Hari ini di kantor Arina terlihat lesu tak bersemangat. Sejak lamaran yang diucapkan Rayyan,dua hari ini pria itu tak mengirimkan pesan atau menelepon dirinya.


"Hei,lesu banget hari ini?"tanya Seno ."Kamu sakit?"tanyanya lagi.


"Tidak,Tuan!"ucap Arina.


"Lalu,mengapa?"


"Cuma masalah hati,"celetuk Tari yang entah dari mana muncul.


Arina mendengkus kesal.Seno tergelak melihat sekretaris atasannya begitu.


"Aku bingung!"ucap Arina lirih.


"Ceritakan mana tahu bisa membantu!"tutur Seno.


"Oh begitu,rumit juga!"ungkap Seno setelah mendengar penjelasan Tari.


"Semalam Ayahku menyuruh menolaknya,"ujar Arina.


"Jadi ,kamu harus ngikutin kata orang tuamu!"ucap Tari memberikan saran.


"Bagaimana lagi? Mau tidak mau,"ujar Arina lemas.


Seno menghela nafas dan berucap,"Mungkin pilihan Ayah jodoh terbaik untukmu."


"Semoga saja,"ucap Arina lirih.


Sepulang kerja Arina mendapatkan pesan dari Rayyan bahwa ia ingin mendapatkan jawaban dari wanita yang dilamarnya beberapa hari yang lalu. Arina pun menuju ke sebuah taman tempat yang dijanjikan.


"Hai!"sapa Arina kikuk.


Rayyan menoleh ke arah suara dan berucap,"Hai !"


Arina mendudukkan tubuhnya di bangku taman. Ia pun membuka suara dengan terbata dan menunduk,"Maafkan aku!"


"Kamu menolakku?"tanya Rayyan dingin tanpa menatap wanita di sampingnya itu.


"Ayah menjodohkan aku!"ucapnya lirih.


Rayyan tersenyum tipis dan menatap Arina lalu berkata,"Semoga kamu bahagia!"


"Ray!"ucapnya sendu.


"Ini hari terakhir kita bertemu,aku permisi!"ujar Rayyan berdiri dan pergi.

__ADS_1


"Ray!"panggilnya lirih.


Rayyan berjalan dan meninggalkan Arina yang bersedih di taman seorang diri. Ia pun bangkit dan kembali pulang dengan hati bersedih.


Ari dan Nana melihat wajah Arina sedih tak mau bertanya, mereka memilih diam dan membiarkan Arina untuk menenangkan diri.


"Mengapa nasibku seperti ini?"ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca menatap jendela kamar.


...****************...


Pagi harinya di rumah Rayyan,saat tengah sarapan Hanum kembali menanyakan kepada anaknya itu.


"Bagaimana? Apa dia menerimamu?"tanya Hanum meminum secangkir teh.


Rayyan menggelengkan kepalanya lalu berkata dengan lesu,"Dia menolakku karena ayahnya menjodohkannya dengan orang lain."


"Kamu 'sih kelamaan melamarnya?"celetuk Hanum.


"Bukan kelamaan,Ma. Tapi bukan jodoh,"ucap Rayyan.


"Itu artinya kamu rela tidak mendapatkan harta warisan papa,"ucap Hanum.


"Terserah Mama mau beri harta itu atau tidak,"ucapnya pasrah.


Hanum tersenyum dan berkata penuh sindiran,"Tidak biasanya kamu begini,kamu mencintai dia?"


"Sudahlah,Ma. Rayyan tidak mau memikirkan itu lagi!"ucapnya mengakhiri sarapan paginya.


"Rayyan!" panggil Hanum .


"Mau ke kantor,Ma. Ngobrol nanti sore saja kita lanjutkan!"jawab Rayyan dari jauh.


"Mama tunggu kamu nanti sore!"teriak Hanum .


"Iya ,Mama ku cantik!"sahutnya dari jauh.


Sementara itu Arina menikmati sarapan pagi sebelum pergi kerja dengan wajah murung.


"Nak,kamu baik-baik saja 'kan?"tanya Nana.


"Iya,Bu. Aku baik-baik saja!"jawab Arina tersenyum.


"Kamu setuju dengan permintaan kami 'kan?"tanya Ari.


Arina menganggukan kepalanya.


"Kamu sudah tolak dia?"tanya Ari lagi.


"Sudah,Yah. Kemarin sore Arina memutuskan menolak lamaran Rayyan,"ungkapnya menunduk.


"Baiklah,kalau begitu . Tiga hari lagi kita bertemu dengan dia,"ucap Ari.


Arina mendongakkan kepalanya dan menatap sang ayah lalu berkata,"Dia siapa?"


"Calon suamimu!"tutur Nana.


Arina kembali menunduk kepalanya dan mengaduk makanannya. Entah kenapa sarapan pagi ini ia tidak berselera , hatinya terasa hampa .


"Arina ,apa kamu dengar kami?"tanyanya Ari dengan tegas.


Arina kembali mendongakkan kepalanya dan berkata,"Iya, sekarang Arina ikuti kata Ayah dan Ibu saja!"


"Begitu dong,sayang. Ibu yakin kamu menyukai pria itu,"ucap Nana tersenyum mengusap punggung tangan putrinya.

__ADS_1


Arina hanya membalas dengan senyum tipis.


__ADS_2