
Di rumah, Iren terus memikirkan apa yang terjadi antara Rudi dengannya. Ia berpikir kalau semua begitu sangat cepat, Ia bahkan belum mengenal Rudi dengan baik. Tetapi tetap saja perasaannya tak karuan, Ia bergegas untuk berganti pakaian karena yang Ia pakai masih setengah basah.
Setelah selesai bersih-bersih, Iren berbaring di tempat tidurnya. Ia bermain ponsel dan membuka obrolan grupnya. Iren berpikir akan memberitahukan kejadian ini kepada teman-temannya, tetapi ia mengurungkan niatnya karena Ia ingat kalau Widi sepertinya tidak suka kalau Iren dekat denga Rudi.
Iren akhirnya hanya menelpon Arindi, sahabat yang sangat dekat dengannya.
“Halo Rin, kamu udah tidur?” tanya Iren pada Arindi, karena sudah jam 11 malam.
“Belum nih Ren, kenapa?” jawab Arindi.
“Rin, aku tadi habis jalan sama mas Rudi, dan dia, itu! ” kata Iren pada Arindi.
“Kenapa? Enggak jelas banget kamu ngomong!” tanya Arindi pada Iren yang bertele-tele.
“Dia nembak aku.” ucap Iren terbata-bata.
“Haaaa? Masa sih? Secepat itu? Kamu kan baru sekali bertemu sama dia.” sahut Arindi yang terkejut mendengar ucapan Iren.
“Terus? Kamu terima? Hot news banget ini mah, teman-teman harus tahu.” sambungnya.
“Jangan Rin, jangan bilang ke teman-teman. Aku baru cerita sama kamu.” ucap Iren memohon.
“Iya deh.. tapi kok mas Rudi bisa nembak kamu secepat ini sih Ren? Jangan-jangan kamu pakai pelet yah? Hehehe.” kata Arindi menggoda Iren.
__ADS_1
“Apaan sih Rin.. yasudah deh aku mau tidur dulu, besok kita ketemu di cafe kakaknya mas Rudi. Nanti aku cerita panjang lebar lagi sama kamu.” kata Iren.
“Siap bos, yaudah sampai ketemu besok.” ucap Arindi. Memutuskan sambungan telpon.
Pesan singkat masuk di ponsel Iren.
“Iren. Aku enggak telpon kamu, supaya kamu bisa istirahat. Besok kan kamu sama teman-teman kamu mau ke cafe. Aku jemput kamu jam 9 yah. Selamat istirahat, Iren.” tulis Rudi
Iren yang membaca pesan dari Rudi hanya senyum-senyum sendiri, jantungnya berdetak kencang. “apakah aku mencintai Mas Rudi?” batinnya. Tapi, ini sangat cepat. Aku baru mengenalnya dan sekarang aku jadi pacarnya? Ohh Tuhan. Ini cinta pertamaku, benar-benar cinta pertamaku. Batinnya.
Iren terus saja membayangkan apa yang terjadi antara dia dan Rudi tadi. Dia merasa berdosa karena Ibu dan Ayahnya selalu berpesan bahwa kalau berteman dengan laki-laki harus tahu batasannya. Tapi, Iren tidak mengerti mengapa ia tidak menolak kata-kata Rudi.
***
Iren bersiap-siap, ia membersihkan kamarnya lalu bergegas untuk mandi. Dia ingat kalau akan mengerjakan tugas penelitian bersama teman-temannya hari ini. Setelah ia selesai bersiap-bersiap, Iren kemudian berjalan menuju meja makan, dan ternyata disana sudah berkumpul Ibu dan kakaknya untuk sarapan bersama. Ibu Nadia, menyuruh Iren untuk duduk lalu mengambilkan roti dan segelas susu untuk Iren.
Iren yang merasa bersalah kepada Ibunya hanya memandangi ibunya dengan tatapan penuh penyesalan.
“Kamu ada kesibukan hari ini nak? Cepat banget siap-siapnya.” tanya Ibu Nadia pada Iren sambil mengoles selai diatas roti.
“Iya bu.. hari ini Iren mulai penelitiannya di cafe Mas Rudi sama teman-teman. Boleh kan bu?” jawab Iren, meminta izin.
“Iya nak.” kata Ibu Nadia.
__ADS_1
***
Pukul 9 pagi.
Rudi pun tiba di rumah Iren, karena akan berangkat bersama ke cafe. Iren berjalan menuju teras rumahnya, dimana Rudi menunggu Iren ditemani oleh Ibu Nadia. Iren dan rudi pun berpamitan kepada Ibu Nadia.
"Ibu.. Iren berangkat dulu yah." ucap Iren berpamitan sambil mencium punggung tangan Ibu Nadia.
"Saya pamit bu." ucap Rudi bergantian pamit dan mencium punggung tangan Ibu Nadia.
"Iya nak kalian hati-hati yah." jawab Ibu Nadia tersenyum.
Mereka pun berangkat menggunakan motor gede milik Rudi, diperjalanan Rudi menarik tangan Iren agar memeluk pinggangnya. Iren yang tangannya ditarik dengan tiba-tiba, merasa sangat terkejut. Tetapi tetap saja ia hanya menuruti Rudi untuk memeluknya sampai tiba di cafe.
***
CAST PEMERAN UTAMA
RUDI PRASETYA
IREN ANASTASYA
__ADS_1