
"Ini mangganya,"Wisnu menyodorkan dua buah mangga muda.
"Terima kasih sayang,"puji istrinya itu.
"Aku harus mandi lagi,"ujar Wisnu.
"Kamu gak mandi tetap ganteng kok,"puji Mayang.
"Aku risih,mana berkeringat lagi pas manjat."
"Ya sudah,sana mandi!"usir Mayang. "Aku mau makan mangga,"lanjutnya.
Lain tempat rumah Sarah , suaminya baru saja pulang kerja ia menyuguhkan teh hangat buat Tio.
"Aku ada kabar bahagia,Mas!"ucap Sarah.
"Kabar apa?"tanya Tio menyeruput tehnya.
"Mayang hamil,"ucap Sarah semangat.
"Bagus dong, berarti Wisnu jago,"jawabnya asal.
Sarah menepuk pelan lengan Tio,"Memangnya kalau tidak hamil gak jago gitu?'gerutunya.
"Ya gak gitu juga, berati mereka sudah mendapatkan amanah,"ujar Tio.
"Pasti Ayah dan Ibu senang mendengarnya,"tutur Sarah.
"Memangnya mereka tidak tahu?"
"Mayang belum siap memberitahunya."
"Kenapa?"
"Mereka mau kasih kejutan,"ucap Sarah.
"Mayang hamil,kamu kapan lagi?"goda Tio menaikkan kedua alisnya.
"Rangga masih 4 bulan,"ucapnya kesal.
"Kita tabung aja dulu mulai dari sekarang,"rayu Tio.
"Tabung apa? tabung uang buat mereka,itu ya jelas harus,"sahut Sarah.
"Bukan itu ,tapi tabung bibit,"ucap Tio.
"Ada-ada aja kamu,Mas!"
"Aku mau main dengan Rangga sajalah,"ucap Sarah berlalu mencari Rangga.
"Main denganku saja sayang,"rayu Tio lagi.
"Masih sore ,Mas!"celetuk Sarah.
Tio tertawa bahagia melihat istrinya kesal. Sarah mengambil Rangga dan membawanya ke dalam kamar .
"Mari main ! Mama kamu tak mau main dengan Papa,"sindir Tio.
"Kebiasaan deh bicara dengan anak begitu,"gerutu Sarah.
...****************...
"Pagi ,Tante!"sapa Mischa pada Marni.
"Pagi juga,kamu apa kabar?"
"Mischa baik, Tante bagaimana?"
"Tante baik,kamu sudah ke rumah Reno?"
"Sudah ,Tante,"jawabnya lesu. "Reno sudah ada penggantinya,"lanjutnya memelas.
"Dia tidak pernah cerita kalau punya kekasih,"ungkap Marni.
"Reno sendiri yang berbicara begitu,"ucap Mischa. "Tante,apa juga marah dengan Mischa?"tanyanya lagi.
__ADS_1
"Tante tidak marah,Nak!"ucap Marni. "Kamu sudah Ibu anggap seperti anak sendiri,"jelasnya lagi.
"Ibu setuju aku dengan Reno?"tanya Mischa.
"Ibu serahkan semua pada Reno,dia yang akan menjalaninya,"tutur Marni.
"Bantu Mischa dong,Bu. Biar kami bersatu!"mohon Mischa.
Ibu tersenyum lalu berkata,"Kalau kalian berjodoh mau berpisah jauh tetap akan disatukan!"
Mischa memeluk Marni.
Malam harinya,Marni mendatangi kediaman Reno.
"Ibu?"tanyanya heran tidak biasanya,ibunya itu berkunjung pada malam hari.
"Ibu ingin berbicara denganmu,"ujar Marni.
"Ada apa,Bu?"
"Mischa tadi pagi ke rumah Ibu,apa benar kamu sudah memiliki penggantinya?"
"Wanita itu bikin kesal aja,"gumamnya.
"Reno, kamu dengar Ibu atau tidak?"sentak Marni.
"Iya,Reno dengar . Wanita itu mengadu pada Ibu!"ucap Reno.
"Mischa itu anak teman Ibu,dia sudah ku anggap seperti anak sendiri dan dia juga mencintaimu!"ungkap Marni.
"Jika memang benar mencintai aku,dia tidak akan pergi meninggalkan aku tanpa kabar,Bu!"ungkap Reno jengkel.
"Siapa wanita itu?"cecar Marni.
"Wanita mana?"
"Wanita yang di maksud Mischa!"
"Dia sekretaris Tio,"ucap Reno melembut.
Reno menatap Marni lalu berkata penuh semangat,"Benar Ibu mau bertemu dengannya?"
"Sejak kapan Ibu bercanda dalam hal ini?"celetuk Marni.
"Besok malam ,Reno akan bawa dia menemui Ibu!"ungkapnya semangat.
"Ibu harap kamu bahagia dengan pilihanmu!"tutur Marni.
"Makasih,Bu!"ucap Reno terharu dan memeluknya.
...****************...
Pagi harinya Reno menjemput Arina di apartemennya sekedar mengantar ke kantor sekaligus membicarakan undangan makan malam dari Mirna.
"Ibu ingin bertemu denganmu,"ucap Reno membuka pembicaraan.
"Maksud ,Tuan?"tanyanya heran.
"Ibu aku ingin bertemu kamu nanti malam,dia mengundang kita makan malam bersama,"ucap Reno .
"Mengapa Ibu ingin bertemu denganku?"
"Aku ingin me.perkenalkanmu sebagai calon istri,"jawab Reno santai.
"Apa!" ucap Arina terkejut."Tuan, tidak salah ? apa Tuan belum sarapan? atau Tuan lagi sakit?"cecar Arina bingung dan terkejut.
"Aku serius Arina Putri dan satu lagi jangan panggil aku, Tuan!"hardik Reno.
"Kita tidak mengobrol soal ini,kenapa tiba-tiba Tuan eh kamu bicara calon istri?"protes Arina.
"Kamu tidak menerima saya,"ujarnya jengkel.
"Aduh, bagaimana ? aku juga bingung,"ujar Arina menggaruk kepalanya.
"Aku akan menjemputmu nanti malam !"ucap Reno.
__ADS_1
Arina akan menjawab tetapi Reno memotong pembicaraan mereka,"Aku tidak terima penolakan."
Arina berdengus kesal.
Lain halnya dengan Tio,pagi ini ia kedatangan adik iparnya.
"Hei,calon ayah!"sapa Tio menjabat tangan Wisnu."Selamat,ya!"lanjutnya.
"Terima kasih,"jawabnya.
"Tidak sia-sia kalian berlibur ke luar negeri, akhirnya kamu bisa menabung bibit,"kelakar Tio.
"Menabung bibit?"tanyanya heran.
"Kamu berhasil membuat Mayang hamil,"celetuk Tio.
Wisnu tersipu malu .
"Ada apa kamu ke sini?"tanya Tio.
"Papa Setya ingin Satria bekerja. Aku ingin meminta pendapatmu, lebih baik ia bekerja di perusahaan keluarga atau perusahaanmu. Perusahaan Papa Setya sekarang sudah jatuh ke tanganmu jadi kamu berhak menentukannya,"tutur Wisnu.
"Biarkan saja ia bekerja di perusahaan keluarganya, lagian juga itu akan menjadi miliknya. Beri dia jabatan di bawahmu agar ia bisa belajar dan tidak terkejut jika menjadi pemimpin,"jelas Tio.
"Baiklah,saya akan bicarakan ini pada Tuan Setya."
Tio tersenyum lalu ia bertanya lagi,"Bagaimana kondisi Mayang?"
"Dia masih lemas dan hanya tertidur, untuk sementara aku melarangnya bekerja,"ujar Wisnu.
"Apa dia ngidam?"
"Aku sempat kewalahan dibuatnya,"celetuk Wisnu.
Tio tertawa lalu berucap memberikan dukungan,"Wanita hamil begitu,ngidam suka yang aneh."
"Dia malah menyuruhku tidak usah mandi dan harus mengganti parfum,"keluh Wisnu.
"Kamu harus sabar menghadapinya,"sahut Tio tertawa bersama adik ipar angkatnya itu.
Lain tempat di malam harinya,Arina bersiap menghadiri undangan makan malam ibunya Reno.
"Apa kamu siap?"
"Saya siap,"jawab Arina sedikit gugup.
"Ibuku bukan orang jahat dan kejam,kamu tak perlu khawatir,"tuturnya mengenggam tangan Arina.
Arina memaksakan diri tersenyum .
Tak lama berselang, mereka tiba di kediaman orangtua Reno.
"Mari, masuk!"ajak Reno."Selamat malam,Bu!"sapa Reno mencium tangan ibunya disusul Arina.
"Ini calon menantuku?"tanya Marni tersenyum.
"Iya,Bu. Nama saya Arina,"ucapnya membalas senyuman Marni.
"Silahkan, duduk!"tawar Marni.
Arina tersenyum canggung, mereka pun menikmati makan malam tanpa Rasti dan suaminya.
"Kamu tinggal di mana?"tanya Marni.
"Saya tinggal di Desa Wangi di Pulau Cinta,"ujar Arina.
"Aku pernah mendengar nama desa itu,apa ini ada hubungannya dengan Mirna?"batinnya Marni berkata.
"Siapa nama orang tuamu?"tanya Marni.
"Ayah saya bernama Ari dan Ibu saya bernama Nana ,"jelas Arina lembut.
Marni menjatuhkan sendok di genggamannya,ia menatap wajah Arina."Apa benar dia putri dari mantan kekasih Mirna?"batinnya.
Jangan lupa tinggalkan jejak 😊
__ADS_1