
"Cucuku laki-laki !"Hendra tersenyum pada bayi mungil itu.
"Ganteng banget keponakanku ini!"puji Mayang menoel pipi mungil."Aduuuh ,kakak bagaimana rasanya melahirkan?"tanya Mayang.
"Nikmat sekali!"ujar Sarah tersenyum.
"Nikmat? Kakak saja menjerit tadi,"ucap Mayang.
"Memang sakit tapi mendengar tangisannya begitu bahagia!"ungkap Sarah tersenyum.
"Makanya,jangan kerja saja!"sindir Tio.
Mayang menyebikkan bibirnya.
"Sesekali liburan, kalian berdua 'kan belum pernah liburan?"ucap ibu Lena.
"Benar,Nak! kalian liburanlah, masalah pekerjaan biar Ayah yang mengatasinya!"tutur ayah Ryan.
"Iya ya,aku akan bilang pada Wisnu liburan biar kalian punya cucu,"ucap Mayang jengkel sedari tadi suaminya berada di luar ruangan.
Semua yang di ruangan tertawa .
"Mama pulang ya ,Nak! besok pagi kami kembali lagi ke sini,"pamit Maya karena hari sudah malam.
"Iya, Mah! makasih,"ucap Sarah tersenyum.
"Papa juga pamit pulang,"ucap Hendra.Lalu ia berbisik pada Tio,"Papa sudah tambah penjagaan ketat,di depan ruangan!"
"Terima kasih,Pah."
"Sama-sama."
Mereka semua berpamitan kecuali Lena dan Tio yang menemani Sarah,Papa Setya akan datang besok karena lagi di luar kota. Beberapa pengawal ditugaskan di pintu masuk dan keluar rumah sakit begitu juga di depan ruang rawat inap Sarah dan bayinya.
...****************...
"Penjagaan di rumah sakit begitu ketat!"ucap pria pada pria misterius.
"Aku yang akan bergerak sendiri,"ucap pria misterius dengan tegas.
Sementara Arina, dia harus bolak balik ke kantor dan ke rumah sakit untuk sekedar menyampaikan laporan dan menandatangani berkas karena atasannya itu menemani istrinya yang baru melahirkan.
"Permisi Tuan, Nyonya!"sapa Arina ketika memasuki ruangan."Saya mau menyerahkan laporan ini,"ucapnya memberikan berkas pada Tio.
Tio mulai memperhatikan beberapa laporan dan harus ditandatanganinya . Arina sibuk mengobrol dengan Sarah dan menyapa bayi mungil yang ada di samping istri atasannya.
Setengah jam kemudian,"Arina ,ini berkasnya sudah saya tanda tangan. Kamu bisa kembali kantor!"titah Tio.
"Baik,Tuan! jawab Arina. "Tuan muda ganteng ya, Tuan!"pujinya.
__ADS_1
"Siapa dulu papanya,"ucap Tio berbangga.
Sarah tersenyum mendengar ucapan Tio begitu juga dengan Arina . Lalu Arina pun pamit pada Tio dan Sarah kembali ke kantor,saat ingin memasuki lift ia melihat seorang pria berpakaian berwarna biru, berkaca mata hitam memakai masker terus memantau ruangan istri atasannya,ia tak jadi memasuki lift ia pun mencoba mengikuti pria itu karena semakin mengikutinya, pria tersebut mempercepat langkahnya hingga Arina kehilangan jejak.
"Kemana dia?"gumam Arina. Karena kehilangan jejak ia pun kembali memutar arah langkahnya dan menghela nafas,"Aku balik ke kantor saja."
"Wanita itu , menggagalkan rencanaku saja,"gumam pria misterius kesal.
Lain halnya dengan Mayang begitu antusias kembali ke rumah sakit melihat keponakan yang dirindukannya.
"Hello,sayang!"sapanya pada keponakannya."Kamu tau, aku berharap cepatnya datang pagi hanya untuk bertemu kamu!"ucapnya mengusap pipi bayi mungil Sarah,"Kamu juga harus tau,Tante akan membuat teman untukmu!"lanjutnya.
Sarah yang mendengarnya tertawa,"Kamu tuh anak bayi di ajak bicara begitu!"
"Tidak apa Kakak,aku begitu bahagia banget dengan kelahiran tuan muda junior!"sambung Mayang."Kakak, doakan saja,aku bisa hamil!"lanjutnya tersenyum tipis.
"Kakak,doakan kamu segera memiliki anak!"ucap Sarah menyemangati Mayang.
"Oh ya,Kak Tio kemana?"tanya Mayang sedari tadi tidak melihatnya.
"Kakak pergi sebentar karena ada urusan dengan Seno,"jelas Sarah.
"Kamu sendirian ke sini?"tanya Sarah.
"Tadi di antar Wisnu, cuma sekarang ia lagi menjemput Om Setya dan Satria di bandara,"tutur Mayang.
"Papa hari ini pulang?"
Lain tempat sebuah kafe,Tio dan Seno bertemu dengan pengacara yang mengurus masalah lahan di Kota L .
"Mereka sudah mengambil seluruh lahan tersebut,Tuan!"ucap Pak Teddy selaku pengacara perusahaan.
"Berarti kita tidak ada harapan lagi memiliki lahan itu!"ucap Tio.
"Benar, mereka yang mengambil alih lahan itu. Kita kalah cepat dengan mereka,"jelas Pak Teddy.
"Masalah harga?"tanya Tio.
"Mereka menawarkan harga lebih tinggi dari kita,"jawab Pak Teddy.
"Berarti bukan rejeki kita di lahan itu untuk membangun proyek ini,"ungkap Tio.
Pak Teddy pun pamit pada Tio dan Seno setelah mengadakan pertemuan sejam.
"Apa pria peneror itu ada hubungannya dengan lahan di Kota L,Tuan?"tanya Seno.
"Aku juga berpikiran sama,"ujar Tio menyesap kopinya."Ayo,kita ke rumah sakit ! aku begitu merindukan mereka,"ajaknya.
Mereka pun pergi menuju rumah sakit, sesampainya di sana salah satu pengawal melaporkan bahwa ada paket untuk Nona Sarah. Tio pun membukanya,"Dia ada di sini!"gumamnya. "Bagaimana ia memberikan paket ini?"tanya Tio pada pengawalnya.
__ADS_1
"Dia menitipkannya kepada salah seorang perawat,"jelas salah satu pengawal . Mereka melihat perawat membawa paket menuju arah kamar istri tuannya kemudian mereka mengambil paket tersebut lalu melaporkan kepada Tio.
"Perketat penjagaan,"perintah Tio .
"Apa perlu kita pindahkan Nona,Tuan?"usul Seno.
"Tidak perlu!"ucap Tio.
Tio pun masuk menghampiri istrinya selain Mayang mertua dan kedua orangtuanya pun telah datang.
"Hai,anak Papa!"sapa Tio pada bayi mungilnya.
"Kamu dari mana,Nak?"tanya Maya.
"Tadi bertemu dengan pengacara perusahaan."
"Jadi bagaimana dengan lahan di sana ?"tanya Papa Hendra.
"Mungkin belum rejeki kami, lahan itu sudah di ambil oleh orang lain,"jawab Tio tersenyum.
"Kalian bisa cari tempat yang lain,"ujar Papa Setya memberikan dukungan.
"Iya, Pah!"
"Kak,aku pamit pulang ya!"ujar Mayang pada Tio dan Sarah.
"Iya,terima kasih ya!"ucap Sarah.
Tak lama Mayang berpamitan pulang orang tuanya Tio dan mertuanya juga pamit pulang.
"Mas,tadi Arina ke sini mengantarkan beberapa berkas. Aku lupa memberitahumu karena keasyikan ngobrol dengan mereka!"ujar Sarah menunjuk lemari kecil di ruangan kamar inap.
Tio pun berjalan ke arah lemari lalu mengambil berkas,
membacanya kemudian menandatangani. Selesai memeriksa beberapa berkas ia menelepon Arina untuk mengambilnya .
Arina yang di telepon atasannya segera ke rumah sakit,ia pun berjalan melewati lorong yang sama menuju ruangan rawat inap istri atasannya. Ia melihat sesosok pria yang ditemuinya tadi pagi.
"Ngapain itu orang dari tadi pagi,di sini aja. Matanya ke arah ruangan nyonya,"gumamnya. Arina pun menegurnya,"Hei, kamu mau jahat ya!"ucapnya asal tebak.
"Wanita ini lagi!"batin pria itu. Seingat dia tadi pagi juga berjumpa dengan wanita yang dihadapannya itu, mereka bertabrakan."Jangan asal bicara,Nona!"sentak pria itu.
"Jangan bohong kamu!"balas Arina dengan nada tinggi. Tadi pagi ia bertabrakan dengan pria ini membawa sebuah kotak dan kotaknya hampir mirip dengan di pegang pengawal.
Pria itu kemudian pergi meninggalkan Arina,mata pengawal mengarah kepada mereka berdua. Salah satu pengawal mendekati Arina,"Nona!"
"Tidak apa,pria itu sedikit mencurigakan!"ujar Arina menunjuk seseorang.
Beberapa pengawal mencoba mengejar pria yang di tunjukkan Arina namun kehilangan jejak.
__ADS_1
"Sial !" gumam pria itu di persembunyiannya.