
Siang menjelang sore hari, Felicia menjemput Agnes di rumah Mayang.
"Apa kita langsung ke rumah, Nona?" tanya Feli saat diperjalanan.
"Kita singgah sebentar ke supermarket yang terdekat," jawab Agnes.
"Baik, Nona!" Felicia melajukan kendaraannya menuju supermarket.
Sesampainya, Feli juga ikut turun mendampingi Agnes berbelanja. Ia mendorong troli belanjaan istri atasannya itu.
"Kau tidak ingin membeli sesuatu?" tawar Agnes.
"Tidak, Nona!" tolak Felicia.
"Kalau begitu, kita langsung ke kasir saja!" titah Agnes.
Felicia mendorong troli ke meja kasir dan ia juga yang membawakannya padahal Agnes melarang membawanya. Ia memasuki barang belanjaan ke bagasi mobil.
Mobil pun melaju ke rumah tujuan, di tengah perjalanan kendaraan mereka dicegah dua sepeda motor hingga terpaksa membuat Feli menghentikan laju kendaraannya. Ketiga pria itu turun dari motornya dan menggedor kaca jendela.
Felicia segera menghubungi seseorang meminta bantuan.
"Bagaimana ini, Feli?" Agnes mulai ketakutan.
"Nona, di sini saja. Jangan keluar!" ucap Feli berusaha tenang. Ia pun keluar dari mobilnya. "Siapa kalian?" ia menatap para pria yang ada dihadapannya.
"Kami ingin bertemu dengan wanita yang ada di dalam mobil ini," salah satu pria memukul kap mobil.
"Saya yang ada di dalam mobil ini!" ucap Feli.
"Kami tidak ada urusan dengan kau!"
"Oh, ya. Tapi wanita itu menjadi urusanku!" ucap Feli tegas.
"Kau berani melawan!"
Salah satu pria mulai mengarahkan pukulan ke hadapan Feli, namun ia segera menangkisnya dan memelintir tangan pria itu ke belakang lalu mendorongnya.
"Kalian tidak malu, menyerang seorang wanita?" ejek Feli.
"Makanya serahkan wanita itu!"
__ADS_1
"Aku tidak mau, kenapa?" tantang Feli.
"Brengsek!"
Perkelahian pun tidak dapat dihindari, ketiga pria mulai menyerang Feli. Wanita itu segera memberikan perlawanan, sebuah pukulan mendarat di perut Feli hingga ia meringis kesakitan, terdorong dan hampir terjatuh.
Namun, tubuhnya berhasil di tangkap Raka. Ia membantu Feli melawan ketiga pria hingga membuat para pria yang tak dikenal itu pergi meninggalkan lokasi.
"Kamu tidak apa?" tanya Raka pada Feli.
Belum sempat menjawab Agnes keluar dari dalam mobil. "Terima kasih, Raka!" ucapnya.
"Sama-sama, Agnes!" jawabnya.
Tak lama dua mobil datang ke lokasi di mana Agnes dan Felicia dicegah ketiga pria tak dikenal.
Satria turun, ia melangkah cepat menghampiri istrinya. "Kamu tidak ada yang terluka, kan?"
"Aku tidak apa-apa, cuma Feli yang terluka!" ujar Agnes.
Satria melihat pria yang ada disamping pengawal pribadi istrinya itu. "Kenapa kau ada di sini?" tanyanya pada Raka.
"Maaf, Tuan. Tadi kebetulan lewat dan melihat mobil Agnes terparkir di tengah jalan lalu saya turun," jelas Raka.
"Aku ucapkan terima kasih," Satria berucap ketus.
"Sama-sama, Tuan!" ujar Raka.
"Aku akan pulang bersama dengan istriku," ucap Satria. "Kau bawa saja mobil ini," perintahnya pada sopir yang mengantarnya.
"Baik, Tuan!" ucap sopir.
"Kalau saya, Tuan?" tanya Feli.
"Biar saya saja yang mengantarnya," sahut Raka dengan cepat.
"Ya, kau dengan dia saja," ujar Satria. "Kalian, kembali ke kantor!" lanjutnya memerintah anak buah Tio.
"Baik, Tuan!"
Satria pun masuk kedalam mobil disusul Agnes, kendaraan mereka meninggalkan lokasi.
__ADS_1
"Maafkan kami datang terlambat, Feli!" ucap salah satu temannya.
"Tidak apa," jawabnya.
Mereka pun meninggalkan Feli dan Raka.
"Kau masih mau tetap di sini?" tanya Raka menatap Feli.
"Aku naik taksi saja," jawab Feli.
"Jangan menolak, sudah ikut saja!" Raka menarik tangan Felicia dan membuka pintu mobil. "Ayo, masuk!"
Feli pun masuk ke dalam mobil Raka.
"Apa kau perlu ke rumah sakit?" tanya Raka saat memasang sabuk pengaman.
"Antar saja aku pulang," jawab Feli.
"Minumlah!" Raka menyodorkan sebotol air mineral ukuran kecil.
Feli mengambilnya lalu menatap botol minuman itu.
"Aku belum meminumnya, itu masih baru!" Raka berusaha menjawab pertanyaan yang ada dalam pikiran Felicia.
Felicia segera membuka tutup botol dan meminumnya.
"Kalau kau tidak mampu menghadapi para pria itu, lebih baik jangan keluar dari mobil," Raka membuka percakapan mereka saat mobil melaju ke arah tempat tinggal Felicia.
"Ini adalah resiko dari pekerjaanku," ujarnya.
"Tapi tadi cukup berbahaya, untung saja aku lewat," tutur Raka.
"Kau bukan kebetulan lewat, tapi mengikuti ku!"
"Memangnya aku tidak ada pekerjaan hingga harus mengikutimu!" protes Raka.
"Bukankah kau bekerja untuk Kesya?" tanya Feli namun tatapannya ke arah jalan.
"Apa alamat kamu masih yang lama?" Raka berusaha mengalihkan pertanyaan Feli.
"Sekarang aku tinggal di apartemen Dahlia," jawab Feli.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke sana!"