
"Terima kasih," ucap Satria pada keempat pengawal yang dikirimkan Kakak iparnya itu.
"Sama-sama, Tuan. Jika butuh sesuatu, kami siap membantu anda!" ucap salah satu pengawal.
"Satria, kira-kira siapa yang mengikuti kita tadi?" tanyanya saat keempat pengawal sudah pergi.
"Aku juga tidak tahu," jawab Satria.
"Aku takut kamu dalam bahaya," ucap Agnes.
Satria tersenyum dan mengenggam tangan istrinya. "Aku juga takut kamu dalam bahaya," ujarnya.
Agnes tersenyum tipis. Masih ada rasa khawatir dalam hatinya.
"Apa perlu, aku menyuruh salah satu pengawal Kak Tio mendampingi kamu?"
"Tidak usah, aku bisa jaga diri sendiri," jawab Agnes.
"Jika terjadi sesuatu padamu, aku akan menyuruh pengawal Kak Tio menjagamu," ujar Satria.
......................
Agnes tidak lagi bekerja sebagai sekretaris Satria di kantor karena suaminya yang memintanya untuk berhenti. Sebenarnya ia merasa bosan berada di rumah, karena tak ada kegiatan yang biasanya ia lakukan.
Wanita paruh baya yang selama ini setia menjadi asisten rumah tangganya mendadak mengajukan cuti karena kondisinya yang lagi kurang sehat. Satria memberikannya izin untuk beristirahat memulihkan kesehatan.
Alhasil, sekarang di rumah ada dua orang asisten untuk membersihkan dan mengurus rumah itu pun tidak menetap karena mereka pergi pagi pulang sore.
"Nona, pekerjaan hari ini sudah selesai. Apa kami boleh pulang?" tanya salah satu asisten.
Agnes melihat di dinding jarum jam menunjukkan pukul lima sore. "Kalian boleh pulang," jawabnya.
"Kalau begitu kami pulang, Nona!" pamit keduanya.
Setelah keduanya pulang, Agnes menikmati sore dengan bersantai bermain ponsel. Ia terus melihat jam di ponselnya. "Lama sekali dia pulang," gumamnya. Ada rasa cemas di hatinya. Di tambah hari kelihatan akan turun hujan.
Terdengar suara bel berbunyi. Agnes tidak buru-buru membukanya. Ia mengintip disela-sela gorden jendela.
__ADS_1
"Siapa mereka?"
Bunyi bel terus berulang-ulang, membuat Agnes tak berani turun sekedar menyapanya. Ia menelepon petugas keamanan yang berada di lingkungan tempat tinggalnya untuk menanyakan tamu pria yang sedang menunggu di depan pagar rumahnya.
Tak lama seorang petugas keamanan datang dan menghampiri pria yang sedari tadi menunggu sang pemilik rumah keluar.
"Selamat sore, Tuan!"
"Sore!"
"Maaf, kalian siapa dan ada keperluan apa?"
"Kami ini teman pemilik rumah ini," jawabnya.
"Namanya siapa?"
"Katakan padanya, kami ini teman suaminya."
"Baiklah," petugas keamanan itu menelepon Agnes untuk mengatakan apa yang mereka bicarakan.
Agnes menolak tamu asing walau mereka berdua mengatakan teman Satria.
"Kami ini tamu, masa tidak diizinkan bertemu." Protes salah satunya.
"Saya hanya menyampaikan apa yang dikatakan pemilik rumah ini," jelas petugas keamanan.
"Ya, sudah." Kedua pria itu meninggalkan rumah Agnes.
Akhirnya, ia bisa lega karena kedua pria itu telah pergi. Ia ingin menelepon suaminya tapi takut mengganggu pekerjaannya.
Jam 8 malam, Satria pulang dari kantor. Agnes segera berlari membuka pintu pagar begitu suaminya turun dari mobil ia segera memeluknya.
"Rupanya kau kangen denganku, ya?"
"Aku bukan kangen," jawabnya. "Aku pikir tadi dua pria yang sama," lanjutnya.
"Dua pria?"
__ADS_1
"Masuklah, akan ku ceritakan," Agnes mengajak suaminya.
"Coba ceritakan!"
"Tadi sore ada dua orang pria menekan bel, aku mengintip mereka di jendela. Ku tak mengenalnya," jelas Agnes. "Lalu aku menghubungi petugas keamanan untuk menjumpainya," lanjutnya lagi.
"Lalu apa kata mereka?"
"Kata petugas keamanan, kedua pria itu adalah teman pemilik rumah ini. Padahal aku pemiliknya," jawab Agnes.
"Aku akan menghubungi Kak Tio untuk mengirimkan pengawal," Satria memegang ponselnya menekan nama kakak iparnya itu.
"Jangan, Satria!"
"Kenapa?"
"Mereka akan curiga dan membuatmu merasa terancam juga."
"Tapi mereka sudah mengawasi rumah ini," ucap Satria.
"Apa ini ada hubungannya dengan Kesya?"
"Kesya?"
"Bukankah kamu pernah bilang ia tak mau diputuskan?"
"Ku rasa tidak mungkin," jawabnya.
"Papa Setya dan Kak Sarah tidak menyukai hubunganmu dengan dia karena Ayah Kesya yang telah membuat perusahaan Kak Tio merugi," jelas Agnes.
"Kenapa aku baru tahu?"
Agnes menaikkan bahunya.
"Untuk sementara kita akan pindah," usul Satria.
"Tapi?"
__ADS_1
"Ini demi kebaikan kamu!"