
Mayang lega acara lamarannya lancar sahabatnya Agnes juga datang sekaligus ingin minta maaf dengan Sarah. Sebulan ini ia dan Wisnu begitu sibuk mengurus persiapan pernikahan. Sarah tidak bisa membantu karena Tio melarang Sarah keluar rumah tanpa dirinya.
Dikantor Tio mengganti sekretarisnya yang lama mengundurkan diri karena akan melahirkan anak kedua. Sekretarisnya Tio sekarang seorang wanita muda berusia sebaya dengan istrinya.
"Katakan pada Arina siapkan berkas berkasnya kita rapat jam 10 nanti ,"perintahnya pada Seno.
"Baik ,Tuan !"
Mereka pergi rapat berdua tanpa Seno disebuah kafe.
Selesai rapat mereka lanjut makan siang ditempat itu juga. Kebetulan Mayang dan Wisnu makan siang ditempat yang sama.
"Wisnu!"ucap lirih Arina.
Tio melihat kearah objek yang diucapkan Arina,"Kamu kenal dengan dia?"
"Kenal bos," jawab Arina.
"Mayang,Wisnu!" teriak Tio. Mereka pun menoleh kearah suara yang memanggil.
"Kakak!"sapa Mayang.
"Kalian mau makan, ayo bareng dengan kami!"ajak Tio.
Wisnu melihat wanita disamping Tio."Arina!"
"Kalian kenal?"tanya Mayang
"Kami kenal karena ia pernah magang di perusahaan Tuan Setya,"jawab Wisnu.
"Mayang ini adikku dan Wisnu adalah calon suaminya!"jelas Tio.
"Oh jadi dia mau menikah dan lelaki yang jadi bos ku saat ini kakak iparnya!"batin Arina.
Mereka saling mengobrol dan Arina hanya mendengarkannya. Ia tersenyum penuh misteri melihat keakraban bosnya dan Wisnu. Usai makan mereka kembali ke kantor .
"Arina ,apa kamu sudah menikah?"tanya Tio.
"Belum bos!"
"Menikahlah!"
Arina yang mendengarnya mengerutkan keningnya dan tersenyum tipis,"Tidak ada yang mau dengan saya bos!" ucapnya.
"Pasti ada !"
"Dia gak tau kalau aku tuh jatuh cinta sama calon adik iparnya yang dingin dan cuek itu!"Arina membatin.
Malamnya Mayang datang seorang diri diantar sopir ia akan menginap dirumah kakaknya Tio dan ingin konsultasi masalah pernikahan dengan kakak iparnya.
"Apa kabar Kakak ipar?"sapa Mayang.
"Baru aja seminggu yang lalu jumpa! pasti ada maunya?"tanya Sarah curiga.
"Hehehe aku numpang tidur disini ya kalau pulang kemalaman lagian juga sopir udah disuruh pulang!"
"Cepat katakan, mau apa?" tanya Sarah.
"Kak Tio mana?"
"Belum pulang!"jawab Sarah.
__ADS_1
Mayang melihat jam di gawainya,"Jam segini, belum pulang!"ia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan."Tadi siang ,aku lihat dia makan siang dengan wanita sepertinya sekretaris barunya!"
"Bukannya dia selalu kemana mana dengan Seno?"tanya Sarah mulai curiga.
"Gak tau sih Kak ,biasanya mereka makan bertiga Kak Tio,Seno dan sekretaris wanitanya terkadang sopir pun juga diajak makan."
Ekspresi wajah Sarah mulai berubah,"Awas kamu ya Mas!"batinnya.
"Kak! jadi tidak bantuin aku?"tanya Mayang.
"Ya jadilah , sudah cepat katakan apa yang bisa Kakak bantu!"ucap Sarah ketus.
"Idiih Kak Sarah semakin aneh aja apa begitu rasanya jadi orang hamil,"batin Mayang berbicara.
"Malah melamun !"
"Iya Kakak makin cerewet aja!"protes Mayang.
"Kamu mau Kakak bantuin, apa gak?"tanya Sarah.
"Iya loh Kak, ntar aku belikan es krim deh!"rayu Mayang."Aku cuma mau tanya desain cincin nikah dan kue pernikahan, Kakak pernah bercerita punya teman memiliki usaha itu?"
"Kakak sepertinya ada kontak teleponnya,ntar Kakak cari!"ia mencari nomor kontak di gawainya."Kakak udah kirim pesan pada mereka besok pagi majalah desain cincin dan kue besok pagi di antar!"
"Oh begitu ya, Kak?"
"Kamu mau majalahnya di antar kerumah Kakak atau ke kantor kamu?"
"Ke kantor aja Kak sepertinya aku tidak jadi menginap deh, Kak !"
"Kenapa?"
"Ya bolehlah ntar aku panggilkan!"
"Lebih baik aku pulang sepertinya bakal ada badai perang rumah tangga,"batinnya.
Tak lama berselang mobil yang mengantar Mayang pergi mobil Tio datang ia pulang diantar Seno. Seperti biasanya Sarah akan menyambut suaminya pulang tapi kali ini dengan wajah kesal dan cemberut.
"Kamu kenapa sih suaminya pulang wajahnya cemberut gitu?"
Tanpa menjawab Sarah malah meninggalkan suaminya dan memilih masuk ke kamar.
"Sayang, kamu kenapa sih? kamu mau aku belikan sesuatu? oh ya tadi Mayang kesini ada apa?"tanya Tio berderetan.
Sarah tidak bergeming dan malah memilih memejamkan matanya. Melihat istrinya tertidur ia segera membersihkan diri.
"Mas, sudah makan malam?"tanya Sarah yang mengejutkan Tio yang baru keluar kamar mandi.
"Sudah ! kamu mau makan biar aku temani?"
"Kamu pasti makan dengan sekretaris baru?"
"Mayang memberitahumu!"tebak Tio.
"Ya."
"Sayang dia hanya sekretarisku, hubungan kami antara atasan dan bawahan gak lebih!"
"Tapi aku gak suka,Mas!"
"Jadi aku harus bagaimana? ini cuma sebatas pekerjaan!"
__ADS_1
"Mas ,kan bisa rapat ditemani karyawan yang pria?"
"Bisa tapi ya gak sesuai bidangnya, sekretaris aku yang buat jadwal pertemuan dengan beberapa klien!"
"Aku tetap gak suka, Mas!" Sarah makin cemburu.
"Sayang, kamu kenapa sih? cemburu mu itu berlebihan!"bentak Tio ia pun pergi keluar kamar.
Sarah yang dibentak mulai menangis semenjak hamil dia lebih mudah emosi apalagi suaminya melarangnya keluar tanpa ada dirinya.
Tio pun kembali kekamarnya ia melihat wajah istrinya yang tertidur pulas,"Maafin, aku ya tadi bentak kamu sayang!"gumamnya membelai pipi istrinya.
...****************...
"Sayang,aku akan pergi ke kota sebelah urusan pekerjaan kemungkinan besok sore pulang. Kamu aku antar ke rumah papa ya biar ada yang menemanimu,"ujar Tio ditengah sarapan paginya.
"Kenapa tiba-tiba?"tanya Sarah curiga.
"Tadi malam baru dapat telepon."
"Tumben kamu yang ngurusin urusan luar kota biasanya nyuruh orang!"ucap Sarah ketus.
"Sayang yang ini aku harus turun tangan langsung!" ia berusaha menjelaskan pada istrinya.
"Kamu janjikan besok sore pulang?"
Tio tersenyum dan menggenggam tangan istrinya,"Aku janji!"
Pagi itu Sarah diantar Tio ke rumah papa Setya. Kehadiran Sarah membuat papa Setya senang selama Sarah kembali lagi pada Tio rasanya sepi selama ini ia tinggal dengan dua orang pelayan terkadang ditemani keponakannya lelaki.
Siang hari Seno datang mengantarkan makanan kepada Sarah sebelumnya Mayang juga sudah mengirimkan es krim tuk dirinya.
"Kamu gak ikut Tio?"tanya Sarah pada Seno.
"Tidak, Nona !"
"Jadi dia dengan siapa? sekretaris barunya?"
Seno menganggukan kepalanya.
Sarah menyebikkan bibirnya,"Terima kasih !"ia berlalu meninggalkan Seno begitu saja.
"Nona ,aneh!"batinnya.
Lain tempat, Tio telah selesai mengadakan rapat di hotel tempat mereka menginap. Arina ingin memberikan berkas pada Tio tapi saat ia ingin menghampirinya kakinya tersandung hingga membuatnya hampir terjatuh. Reflek Tio membantu memegang Arina dengan kedua tangannya hingga wajah Arina menempel di kemeja Tio.
"Maaf, Bos !"ucap Arina gugup takut dimarahin.
"Lain kali hati hati!"ucap Tio dingin.
"Sekali lagi maaf, Bos!"ucap Arina menunduk.
Tanpa menjawab Tio mengambil berkas tersebut dan berbalik arah menuju kamarnya.
"Huss..untung aja dia gak marah, bisa jadi aku di pecat!"ucapnya lirih mengelus dadanya. Selama dua minggu bekerja sudah 3 kali ia dimarahin dan hampir saja dipecat.
Sementara Sarah malas mengangkat panggilan telepon dari suaminya berkali-kali ia telepon sampai Tio harus menelepon mertuanya untuk sekedar bertanya kabar Sarah.
"Nak,ini ada telepon dari suamimu. Telepon mu gak aktif ya sampai suamimu menelepon papa,"ucap papa Setya lembut menyodorkan gawainya pada Sarah.
"Iya Pah, telepon Sarah gak aktif !"jawabnya tersenyum dan mengambil gawai ayahnya. "Sarah ke kamar dulu Pah!"ia membawa gawai papa ."Ada apa, Mas ?"tanya Sarah menjawab telepon suaminya.
__ADS_1