
Reno mengendarai kendaraannya menuju rumah, sesampainya di rumah ia menanyakan kepada pelayan.
"Apa Nyonya sudah pulang?"
"Sudah,Tuan. Dia lagi di kamar,"ucapnya.
Reno pun menuju ke kamarnya,ia membuka pintu dan melihat Mischa sedang memainkan ponselnya.
"Semalam kamu ke mana?"tanya Reno.
"Kamu mencariku?"tanyanya balik.
"Iya."
"Aku ke apartemen,"jawab Mischa tanpa menoleh.
Reno menghampiri istrinya dan memeluknya. Mischa mematung mendapatkan pelukan dari suaminya.Ia memejamkan matanya.
"Mengapa selama ini kamu tidak jujur?"tanya Reno melepaskan pelukannya.
Mischa mengerutkan keningnya.
"Maaf, selama ini membuatmu terluka!"ujar Reno.
"Aku tak mengerti,"ucap Mischa.
"Aku mencintaimu!"ucap Reno kembali memeluk istrinya.
Mischa meneteskan air matanya dan memeluk erat suaminya.
"Aku juga mencintaimu!"ucapnya lirih.
"Jika kamu berkata jujur mungkin salah paham ini tak terjadi,"ucap Reno."Aku sudah tahu alasanmu pergi ke luar negeri dan harta yang dijanjikan Ibu itu hanya akal-akalan kamu!"
"Kamu tahu semua?"tanya Mischa melepaskan pelukan suaminya.
Reno mengangguk.
"Maaf!"ucapnya menunduk."Kamu tidak marah denganku?"tanyanya lagi.
"Kita mulai dari awal lagi!"ucap Reno.
"Ada satu rahasia yang belum ku ceritakan,"ucap Mischa membatin.
"Kenapa diam?"
"Jika aku melakukan kesalahan lagi,apa kamu mau memaafkanku?"tanya Mischa dengan hati-hati.
"Tergantung kesalahannya apa,"ujar Reno.
"Apa aku harus cerita?"batinnya terus bertanya.
"Kamu sudah makan?"tanya Reno.
Mischa menggelengkan kepalanya.
"Ganti pakaianmu,kita makan di luar!"ajak Reno.
Mischa pun bergegas mengganti pakaiannya, suaminya sudah menunggu di mobil.
"Kita berangkat!"ucap Reno menghidupkan mesin mobil.
"Kita mau makan siang di mana?"tanya Mischa.
"Ada deh!"ujar Reno.
"Aku jadi serba salah begini,jujur atau tidak. Kalau jujur Rayyan yang kasihan, tidak jujur Arina yang kasihan,"ucapnya membatin.
Mereka memasuki sebuah restoran tempat di mana Mischa dan Reno dulu sering berkunjung.
"Kita di sini?"tanya Mischa senang.
__ADS_1
Reno menganggukkan kepalanya.
Mereka pun turun dan memesan makanan,tak sengaja mereka juga bertemu dengan Tio beserta keluarganya.
"Kalian di sini juga?"sapa Tio.
Reno pun menjawab pertanyaan Tio,"Iya !"
Mischa menjawab dengan senyuman.
"Gabung dengan kami saja!"ajak Tio menunjuk arah di mana istri,anak, orang tuanya dan adik perempuannya serta tak lupa ajudannya.
"Bagaimana kamu mau?"tanya Reno pada istrinya.
"Boleh juga,"jawab Mischa.
Mereka pun makan siang bersama.
...****************...
Mentari begitu cerah seperti hati Mischa juga. Hubungannya dengan Reno semakin membaik. Seulas senyuman terbit di bibir Mischa walau terselip kebohongan di hatinya.
Rasanya ia ingin berucap tetapi lidah ini terasa kaku,ia tak ingin kemesraan yang ia lakukan semalam berdua dengan sang suami berantakan karena masa lalu.
"Aku berharap ini tidak berhenti sampai di sini!"gumamnya.
Suara pintu terdengar dari arah kamar mandi,Reno yang baru saja keluar kamar mandi tersenyum melihat istrinya yang masih memeluk bantal.
"Kamu tidak bekerja?"tanyanya pada Mischa.
Mischa membuka matanya dan berkata,"Tubuhku masih lelah!"
Reno tersenyum lalu menghampiri istrinya dan mengangkat tubuh istrinya itu.
"Aku masih mau tidur,"ucapnya manja.
"Bukankah kamu sendiri yang bilang ada syuting?"tanya Reno.
Reno menunggu Mischa, mereka sarapan bersama.
"Aku antar kamu ke lokasi!"tawarnya.
Mischa mengiyakan kemudian mereka berangkat ke lokasi syuting.
"Kamu pulang jam berapa?"
"Tidak tahu, nanti aku kabari jika selesai syuting!"ujar Mischa.
"Baiklah!"
Sementara itu seminggu menjelang pernikahan, Rayyan lebih sering menghabiskan waktu di kantor. Dia tidak pernah menjemput Arina kerja. Komunikasi mereka pun terputus karena terlalu lelah,ia tak sempat memberi kabar atau menelepon Arina .
"Nak,mengapa melamun?"tanya Nana.
"Rayyan sulit sekali dihubungi,"keluhnya.
"Mungkin dia lagi sibuk kerja,"ucap Nana.
"Dua hari ini ia tak mengabariku,pesanku tak pernah dibalasnya. Aku jadi ragu menikah dengannya,"ucap Arina sedih.
"Huss..jangan bicara begitu,ujian menjelang pernikahan memang sering begitu,"ujar Nana.
"Aku harus bagaimana,Bu?"
"Sabar dan banyak berdoa,semoga diberikan kelancaran,"ucap Nana menasehati putrinya.
Setelah mendapatkan nasehat dari sang ibu,ia pun berangkat kerja.
Siang menjelang sore , proses syuting Mischa telah selesai. Reno pun menjemput istrinya .
"Reno,kita mampir ke rental. Aku ingin periksa laporan,"ujar Mischa.
__ADS_1
Suaminya Mischa pun melajukan kendaraannya ke tempat usaha rental mobil. Sesampainya di sana mereka menaiki tangga menuju ruangan di mana jadi ruang kerja Mischa. Salah satu karyawannya mengantar beberapa berkas. Kemudian ia meletakkan,berkas tersebut di atas meja kerja Mischa.
"Kamu di sini ,aku mau ke toilet!"ujar Mischa.
Reno pun mengangguk. Melihat beberapa berkas menumpuk,Reno pun mengambil dan perlahan membuka lembaran kertas-kertas itu.
Matanya tajam menyoroti sebuah nama penyewa dengan jenis mobil yang sama namun berbeda nomor plat tepat di hari dan tanggal yang sama dengan kecelakaan Arina.
Reno mengepalkan tangannya,"Apa mereka yang merencanakan ini?"tanyanya membatin.
"Reno!"panggil lembut Mischa.
Reno menoleh dan menatap Mischa sembari tersenyum.
"Kamu sedang apa?"tanya Mischa curiga.
"Oh,itu. Aku lagi lihat laporan bisnismu,maaf telah lancang!"ucap Reno berpura-pura bersalah.
"Oh, tidak apa-apa!"ucap Mischa.
Mischa memeriksa beberapa laporan , sesekali melirik suaminya yang sibuk dengan ponselnya.
"Apa dia melihat nama Rayyan sebagai penyewa?"tanya Mischa membatin.
"Masih lama?"tanya Reno.
"Sebentar lagi,"jawabnya.
"Aku nunggu kamu di mobil saja 'ya!"ucap Reno.
"Ya sudah,"ucap Mischa tersenyum.
Reno pun turun ke lantai bawah,ia kemudian bertanya dengan karyawan Mischa.
"Oh ya,saya mau tanya kalian kenal dengan orang ini?"tanya Reno menunjuk foto Rayyan.
"Oh,dia teman Nona Mischa."
"Dia sering ke sini?"
"Sudah dua bulan ini dia tidak pernah ke sini," jawabnya.
"Apa dia pernah menyewa mobil?"
"Cuma sekali atau dua kali begitu,Tuan."
"Apa mobilnya begini?"tanya Reno kembali menunjukkan foto mobil.
"Benar,Tuan!"
"Baiklah,terima kasih!"ucap Reno tersenyum kemudian ia berjalan memasuki mobil.
"Jadi,selama ini kalian pelakunya!"geram Reno memukul setirnya.
Tak lama Reno menunggu, Mischa membuka pintu mobil dan duduk disampingnya. Reno pun menjalankan kendaraannya menuju rumah dengan wajah yang sulit diartikan.
"Kamu kenapa?Apa kamu sakit?"tanya Mischa memegang kening Reno namun tangannya di hempaskan.
"Aku tidak apa-apa,"jawabnya ketus.
"Aku ada salah?"tanya Mischa lembut.
Reno menyeringai dan berkata,"Pikir saja sendiri!"
"Kamu kenapa 'sih? Tiba-tiba jadi aneh begini!"protes Mischa.
Bukannya menjawab ia malah memacu kecepatan kendaraannya.
"Reno, hati-hati. Nanti kita bisa celaka!" omel Mischa.
Reno pun menghentikan kendaraannya secara mendadak hingga membuat Mischa terbentur dashboard dan memegang kepalanya.
__ADS_1
"Ini belum seberapa!"ucap Reno dingin dan menatap tajam.