
"Sayang, aku rindu kamu!" Kesya mencium pipi Satria dan pria itu mendorongnya pelan.
"Ini kantor, Kesya. Aku sudah memperingatkan kamu jangan pernah ke sini pada jam kerja," ucapnya.
"Jadi aku harus menemui kamu di mana?"
"Kau bisa mengirimkan pesan atau menghubungiku," jawabnya.
"Aku sudah berkali-kali mengirimkan pesan tapi tak pernah kamu balas," Kesya dengan manjanya.
"Permisi, Tuan. Maaf mengganggu!" Agnes membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Satria.
"Anda sudah ditunggu Tuan Wisnu di lobby kantor," jawab Agnes.
"Oh, ya. Aku lupa ada janji pada Kak Wisnu," ucapnya menepuk jidatnya. "Hem, Kesya kau pulanglah. Aku ada urusan."
Kesya berdecak kesal. "Nanti malam aku menunggumu ditempat biasa!"
"Iya, aku akan usahakan datang." Satria mencoba tersenyum.
"Ya, sudah. Jangan sampai tidak datang," Kesya mendaratkan kecupan di pipi Satria membuat pria itu mendelik. Ia pun berlalu melewati Agnes yang masih berdiri didepan pintu.
"Agnes!"
"Ya, Tuan!"
"Hem, tadi bukan aku yang minta!" Satria bingung harus menjelaskan apa tentang kecupan yang diberikan Kesya.
"Tapi, anda menikmatinya 'kan?" sindir Agnes.
"Jangan salah paham begitu dong!"
"Anda sudah di tunggu, silahkan ke bawah!" ucap Agnes ketus.
"Oh, iya. Terima kasih," ucap Satria.
"Ya."
Satria pun menemui Wisnu. "Ada apa, Kak?"
"Aku ingin mengajakmu bertemu Kak Tio."
"Ada apa Kak Tio ingin bertemu denganku?"
"Aku pun tidak tahu," jawab Wisnu.
Mereka menuju kediaman keluarga Tio, sesampainya di sana menuju balkon rumah kakak iparnya.
"Ada apa Kakak memanggilku?" Satria membuka percakapan diantara mereka.
"Santai, jangan terburu-buru!" Tio menyesap kopinya.
"Kakak buatku penasaran saja," ujar Satria.
Tio dan Wisnu saling tatap dan tersenyum.
Tio meletakkan cangkir kopinya. "Kakak mau kau yang pegang cabang kita di kota S."
"Aku tidak mau. Memangnya Kak Seno, ke mana?" tanya Satria.
"Seno akan menikah dengan Tari. Jadi, untuk sementara beberapa bulan ke depan kau yang memegangnya cabang kita di sana!" jawab Tio.
"Jadi yang di sini?" tanyanya lagi.
"Ada Wisnu dan Papa Setya," jawab Tio.
"Kak, aku di sini saja!" rengeknya.
"Papa yang memintamu, lagian kau dan Agnes juga tak pernah akur." Ucap Tio.
"Iya, Agnes juga merengek meminta Mayang untuk memindahkannya," sahut Wisnu.
"Hah!"
"Agnes sampai meminta begitu?" Tio sengaja bertanya menatap Wisnu sambil melirik adik iparnya itu.
"Iya, Tio." Jawab Wisnu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan sampai sekretarismu itu minta pindah?" tanya Tio.
"Tidak ada, Kak."
"Oh, ya. Aku baru ingat, kemarin kau sempat membuatnya pingsan," ucap Tio.
"Pasti Kak Sarah yang mengatakannya," tebak Satria.
"Ya, pasti. Dia istriku," ucap Tio bangga.
"Kak, jangan letakkan aku di sana!" pinta Satria.
"Kalau begitu, kita pindahkan saja Agnes ke sana!" usul Wisnu.
"Kak, jangan dia!" ucap Satria.
"Lalu, siapa yang di sana?" tanya Tio.
"Bagaimana kalau kau dan Agnes di sana?" Pertanyaan Wisnu membuat Satria terdiam.
"Hei, kenapa diam?" tanya Tio.
"Kau pasti senang jika berdua dengannya?" membuat Wisnu tersenyum.
"Terserah Kak Tio saja," ucapnya.
"Tapi, kami tak bisa mengirimkan kalian berdua," ungkap Tio.
*
Satria kembali lagi ke kantor dengan wajah ditekuk. Sapaan Agnes pun tak dihiraukan.
"Aneh," batin Agnes.
"Buatkan aku minuman yang segar!" pintanya.
"Eh, iya. Baik!"
Agnes pun membuatkan minuman untuk Satria, segelas jus jeruk. Ia membawanya ke ruangan atasannya itu.
"Ini pesanannya, Tuan!" Ia meletakkan segelas jus di meja kerjanya.
"Aku harus pindah," ucap Satria tanpa di tanya.
"Kota S."
"Ya, anda harus terima dengan senang hati," ujar Agnes.
Satria menatap tajam Agnes. "Kau yang menginginkan ini, kan?"
"Anda bicara apa?"
"Kau yang meminta agar kita dipisah, kan?"
"Anda bicara apa? Saya tidak mengerti," tutur Agnes.
"Kau yang meminta Mayang untuk memisahkan kita, karena tak menyukaiku."
"Bukan begitu?"
"Keluar dari ruangan ku, sekarang!" usir Satria menekankan kata-katanya tanpa menatap Agnes.
Agnes pun keluar ruangannya.
"Aaargghh...!"
*
*
Satria memenuhi janji bertemu dengan Kesya. Seperti biasanya wanita itu akan mendaratkan kecupan di pipi sang kekasih.
"Kita harus putus!" ucap Satria mengejutkan Kesya.
"Hei, aku salah apa?"
"Papa tidak mengizinkan hubungan kita," jawab Satria.
"Aku mencintaimu, Satria."
__ADS_1
"Maaf, Kesya. Hubungan kita sampai di sini, aku juga harus pindah ke Kota S."
"Kita bisa tetap berkomunikasi, sayang." Kesya mengenggam erat tangan Satria.
"Kau tidak akan mungkin bisa tahan dengan hubungan jarak jauh kita," ucap Satria.
"Aku akan tetap setia di sini," Kesya tersenyum.
"Tapi, aku tidak bisa memaafkan jika kau berani mendua," Satria sengaja agar Kesya mundur.
"Ayo, minum!" Kesya menyodorkan minuman beralkohol.
"Tidak, Kesya!" Satria mendorong gelas.
"Sayang, anggap saja ini sebagai malam perpisahan kita. Karena besok kau akan pindah," Kesya lagi-lagi menawarkan minuman.
"Ayo, aku antar pulang!"
"Tidak, Satria. Minumlah sedikit kita nikmati malam ini berdua," Kesya menarik tangan kekasihnya.
"Kau mau aku tinggal di sini atau diantar pulang?"
"Baiklah, aku pulang!"
Di perjalanan pulang Kesya merangkul tangan Satria. "Sayang, menginaplah malam ini di rumahku?"
"Kesya, lepaskan tanganmu aku sedang menyetir," ucap Satria.
"Sayang, kamu kenapa 'sih? Biasanya tidak pernah menolak," protes Kesya melepaskan dekapannya.
"Sayang, bukan begitu ini sudah malam." Satria memberikan alasan.
"Kamu sekarang beda banget, sikapmu berubah," Kesya merenggut.
"Hei, aku tetap seperti yang dulu. Senyum dong!" bujuk Satria.
"Ku tidak mau senyum, sebelum kamu belikan aku tas!" rengek Kesya.
"Aku tidak bisa terus menerus membelikan kamu tas atau pakaian, Papa mengawasi pergerakan keluar masuk uang perusahaan," ucap Satria.
"Aku tidak bisa belanja lagi dong?" batin Kesya.
"Hei, kau masih mau tetap bersamaku, kan?"
"Tentunya, sayang."
"Kalau kau mau meninggalkan aku, itu tidak masalah. Mungkin pria itu yang terbaik untukmu dan bisa membahagiakanmu," ujar Satria.
"Aku tidak seperti itu," ucapnya berbohong.
"Iya, aku percaya kamu!"
Setelah mengantar Kesya pulang, Satria melajukan kendaraannya ke rumah Agnes. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.
Sesampainya, Satria menekan bel berulang kali.
"Siapa 'sih malam-malam begini bertamu? Ganggu orang tidur saja," Agnes mengintip dari jendela. "Satria," ucapnya lirih. Ia pun turun menemuinya.
Satria masih mondar-mandir di depan pagar.
"Satria, kau tidak punya jam?" sindirnya sambil membuka pintu pagar.
"Aku tahu ini jam berapa," jawabnya.
"Jadi, ada apa kau ke sini?"
"Aku mau menginap di sini!" Satria masuk ke halaman rumah Agnes dan membiarkan mobilnya di luar pagar.
"Apa kau sudah gila?" Agnes mulai kesal.
"Iya, aku gila karena kamu!"
"Jangan aneh-aneh, di rumah tidak ada siapa-siapa," Agnes segera menutup mulutnya.
"Wah, kebetulan sekali. Kau sendirian di rumah," ucap Satria.
"Jangan macam-macam," Agnes bersikap tegas.
"Aku tidak akan melakukan apapun di rumahmu," ucap Satria santai.
__ADS_1
"Tapi, ini sudah malam. Kita tidak memiliki ikatan," ujarnya.
"Kau mau kita memiliki ikatan?" Satria menatap Agnes.