Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
SJC2-bag.12


__ADS_3

"Sementara kita akan tinggal di rumah papa, kamu tidak masalah, kan?"


"Tidak, Satria."


"Jika kamu, ku bawa ke apartemen mereka akan terus meneror," ucap Satria.


"Aku ikut saja yang menurutmu terbaik," Agnes tersenyum.


Mereka pindah ke rumah Papa Setya pada malam hari, barang-barang milik Agnes tetap di tinggal hanya pakaian saja yang di bawa.


Sesampainya di sana, Papa Setya sudah menunggu. Pria paruh baya tersenyum menyambut putra dan menantunya.


"Kamu istirahat di kamar, Papa ingin bicara dengan Satria," ucapnya pada Agnes.


"Baik, Pa."


Agnes pun ke kamar yang ditunjuk asisten rumah tangga keluarga suaminya.


"Apa mereka masih mengikuti kamu?"


"Beberapa hari ini mereka tidak datang ke rumah, Pa!"


"Jika ada sesuatu yang mencurigakan, kamu segera minta bantuan pada Tio atau Wisnu," ucap Setya.


"Iya, Pa."


...****************...


"Aku dan Papa akan ke kantor, kamu jangan ke mana-mana tanpa bersamaku. Walau itu, sangat membuatmu bosan," ucap Satria sesat sebelum berangkat kerja.


"Iya, aku takkan ke mana-mana.


Satria dan Papa Setya berangkat ke kantor bersama, sebuah mobil hitam mengikuti mereka dan menyalipnya. Dua orang pria turun dengan membawa sebatang kayu di tangan masing-masing dengan brutal mereka merusak mobil Satria.


"Papa di sini saja!" Satria bergegas membuka pintu dan turun.


"Hentikan!" teriak Satria.


Mereka menghentikan aksinya, salah satu pria mencengkeram kerah baju Satria. "Kau harus bertanggung jawab kepada Nona kami!"


"Siapa Nona kalian?" tanya Satria dengan lantang.


"Kau pasti tahu!" Ia mendorong Satria hingga membuat pria itu memegang lehernya dan batuk.

__ADS_1


Mereka pun meninggalkan Satria dan mobilnya. Setya melihat dua pria itu pergi bergegas turun. "Apa yang mereka katakan?"


"Tidak ada, Pa!"


"Jangan berbohong Satria, mereka pasti mengatakan sesuatu," ucap Setya tak percaya.


"Biar mereka jadi urusanku, Pa!"


Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke kantor. Sesampainya di ruangan, Satria tampak berpikir. "Apa mereka orang suruhan Kesya?" gumamnya.


Ponsel Satria berdering, tertera nomor tidak di kenal. Ia pun mengangkatnya.


"Halo, ini siapa?"


Suara wanita tertawa terdengar di telinga Satria.


"Siapa kamu?"


"Secepat itu kau melupakanku Satria Putra Setyara," jawabnya.


"Kau!"


"Sudah ingat?"


"Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa Jadi, ku mohon jangan ganggu hidupku lagi!"


"Kesya, aku sudah menikah."


"Kau pembohong dan pengkhianat. Aku tidak akan membiarkan apa yang menjadi milikku menjadi milik orang lain," ucapnya.


"Kesya, berhentilah menyakiti dirimu!"


"Kau yang membuatku sakit begini!" teriaknya dari ujung telepon.


"Kesya, aku minta maaf. Jadi, tolong jangan membuat hal gila," ujar Satria.


Kesya semakin tertawa. "Kejadian tadi pagi belum seberapa, kamu tunggu saja kejutan lainnya dariku!" Ia menutup teleponnya.


"Kesya, Halo!" Satria terus memanggil nama wanita itu. "Sial!" gumamnya.


Satria segera menekan nomor telepon sang istri. Namun, Agnes tak mengangkatnya. "Di mana dia?" Rasa khawatir menyelimutinya.


Ia pun menelepon ke rumahnya, seorang pelayan mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo, Ini siapa?"


"Saya Lola, Tuan."


"Nona Agnes di mana?"


"Dia lagi di taman belakang, Tuan!"


"Oh, apakah ada paket yang datang ke rumah?"


"Setahu saya tidak ada, Tuan!"


"Ya, sudah. Jika ada paket yang mencurigakan segera beri tahu saya," ucap Satria.


"Baik, Tuan!"


Akhirnya Satria bisa bernafas lega, Kesya tidak melakukan aksinya.


Makan siang, Satria sengaja pergi ke kantor kakak iparnya.


Sesampainya di sana, Wisnu dan Seno juga ada. "Kebetulan kalian di sini," ucap Satria.


"Pasti kau butuh sesuatu?" Tio langsung menebak.


"Kakak tahu saja pikiranku," jawabnya.


"Kau 'kan hanya mau datang atau nelepon jika butuh bantuan," sindir Tio.


"Iya, maafin aku!"


"Cepat katakan ada perlu apa? Mereka mengikuti kau lagi?" tanya Tio.


"Dia mengancamku!"


"Dia?" tanya Tio.


"Kesya."


"Kesya, kekasihmu itu," sahut Wisnu.


"Mantan," Satria menekankan kata-katanya.


"Iya, mantan atau apalah," ucap Wisnu.

__ADS_1


"Jadi, dia dalangnya?" cecar Tio.


"Iya, Kak."


__ADS_2