Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
SJC2-bag.14


__ADS_3

"Besok kalau menemani saya ke mana-mana, pakaian kamu jangan seperti ini," ucap Agnes saat perjalanan pulang.


"Baik, Nona!"


"Terus cobalah tersenyum, jangan kaku seperti tadi!"


"Baik, Nona!"


"Apa kau punya kekasih?"


"Nona, kita mau ke rumah atau singgah ke mana?"


"Aku tadi bertanya!"


"Nona, saya digaji untuk melindungi anda," jelasnya.


"Iya, tapi sikapmu harusnya biasa saja. Punya teman, kan?"


"Punya, Nona!"


"Bicaralah padaku selayaknya kamu bicara dengan teman," ucap Agnes.


"Baik, Nona!"


Mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah keluarga besar Setya. Tampak Sarah dan dua putranya datang berkunjung. Agnes pun menyapa kakak iparnya dan dua keponakannya.


"Selamat sore, Nona Sarah!" sapa Felicia pada istri atasannya itu.


"Sore juga, Feli!"


"Kamu sudah boleh pulang," Agnes memberikan izin pengawalnya untuk beristirahat.


"Baik, Nona. Terima kasih, saya permisi," ucapnya dan dijawab oleh anggukan Agnes dan Sarah.


"Selama diperjalanan tadi tidak ada gangguan, kan?" tanya Sarah pada adik iparnya.

__ADS_1


"Tidak ada, Kak!"


"Syukurlah," ucap Sarah lega.


Agnes begitu senang bermain dengan dua keponakannya itu, Sarah seperti biasa ketika berkunjung ke rumah papanya dia akan memasak.


Selang, dua jam kemudian Satria dan Papa Setya pulang dari kantor. Suami Agnes menyapa kedua keponakannya. "Hei, jagoan sini!" keduanya berlari ke arahnya dan memeluknya.


"Kapan kita main balapan lagi?" tanya Rangga.


"Balapan di mana?" tanya Sarah sedari tadi mendengar adik dan putranya mengobrol.


"Kemarin itu, Om Satria ngajak Rangga naik motor terus dia balap!" ucap jujur anak laki-laki usia 5 tahun.


"Benar itu, Satria?" tatapan Sarah tertuju pada adiknya.


"Iya, Kak!" ia tersenyum nyengir.


"Kelakuanmu tak pernah berubah, bawa motor dan mobil selalu ngebut!" omel Sarah.


Agnes yang melihat suaminya mendapatkan nasehat dari sang kakak hanya tersenyum.


"Aku mau mandi, Kak!" ia segera kabur dari hadapan kakaknya agar tidak dapat luapan kekesalannya.


Agnes mengikuti suaminya dari belakang menuju kamarnya. "Ternyata dari sekolah sampai sekarang tak pernah berubah, ya!"


"Biar terlihat keren aja!" ucap Satria santai.


"Apa yang keren yang ada jantungan dibuatnya," celetuk Agnes.


"Sekarang aku akan hati-hati jika membawanya apalagi bersama kamu pujaan hatiku!" goda Satria pada istrinya yang sedang memilih pakaian suaminya.


"Hmm.."


"Apa acaranya tadi lancar?" tanyanya.

__ADS_1


"Lancar," jawabnya. "Sat, pengawal yang dikirimkan Kak Tio itu bisa tidak kalau besok-besok dia pakai baju biasa saja gitu," usulnya.


"Biasa kayak mana?"


"Ya, kayak aku. Bukan serba hitam begitu, pakai kacamata lagi. Teman-temanku pada bertanya dia siapa," jawab Agnes.


"Lalu kamu jawab apa?"


"Aku bilang dia sepupuku."


"Apa kamu juga sudah menyuruhnya tidak akan memakai pakaian serba hitam?"


"Sudah, tapi entah diterimanya atau tidak."


"Biar nanti aku bicarakan pada Kak Tio," ucapnya.


"Jika dia memakai pakaian begitu, ku takut orang-orang di sekitarku akan menjauh," jelas Agnes.


"Nanti kita bicarakan ini dengan Kak Tio," ujarnya.


Makan malam pun tiba, hari ini anak dan menantunya serta cucunya menikmati makan malam bersama.


Selesai makan malam bersama, mereka mengobrol di ruang keluarga, Rangga dan Rasya asyik bermain yang memang disediakan di rumah kakeknya.


"Kakak, apa bisa bantu katakan pada Felicia untuk tidak memakai pakaian serba hitam?" Satria memberanikan diri memberi usulan.


"Memangnya kenapa dia berpakaian begitu?"


"Teman-teman Agnes menanyakannya, mereka tak leluasa mengobrol karena pakaian dia begitu," jawab Satria.


"Aku akan mengirimkan pesan kepada Seno untuk memberitahunya," ucap Tio.


"Terima kasih, Kak."


"Kamu juga mau pengawal pribadi?" tanyanya pada Sarah.

__ADS_1


"Aku 'kan tidak pernah kemana-mana hanya pergi ke kantor mengunjungimu dan ke rumah orang tua kita saja," jawab Sarah. "Lagian juga dirimu selalu ada kemana aku pergi," lanjutnya.


__ADS_2