Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
Menolak Kenyataan 2


__ADS_3

"Ini lucu,"ujar Marni menunjuk baju bayi berwarna merah muda .


"Semua cantik,Bu. Aku jadi gemes,"ucapnya tersenyum.


"Ibu yang akan bayar semua belanjaan untuk bayi kamu,"ucap Marni dengan senang.


"Tidak usah,Bu. Biar Mischa saja,"tolaknya.


"Aku calon Oma dia,tentu akan memberikan terbaik untuknya, apalagi calon bayimu perempuan,"ujar Marni membanggakan dirinya. Karena Minggu lalu ia menemani menantunya USG.


"Jadi kalau bayinya laki-laki,Ibu tidak suka?"pancing Mischa.


"Ya,suka. Anak Rasti keduanya laki-laki jadi aku ingin anak Reno perempuan,"ucap Marni.


Mischa menundukkan kepalanya dan wajahnya berubah.


"Ibu akan bicara dengan tuh anak,kalau dia tetap tak mau menerima biar aku yang urus anak kamu,"ucap Marni.


"Sekali lagi terima kasih ,Bu!"


"Dari tadi kamu bilang terima kasih saja!"ucap Marni.


"Hanya itu yang mampu aku lakukan,Bu!"ucap Mischa tersenyum.


"Cepat pilih mana yang kamu suka,hari sudah mau sore,"titah Marni.


"Siap, Ibu mertua!"Mischa mengangkat kedua tangannya di pelipis matanya.


Selesai memilih dan mencari beberapa pakaian buat bayi, mereka pun pulang. Reno yang melihat Mischa dan Marni pulang dengan membawa beberapa belanjaan yang banyak.


"Letakkan semua barang di kamar tamu saja!"perintah Marni pada sopir dan dua orang pelayan rumah Reno.


"Kalian belanja sebanyak ini?"tanya Reno.


"Biarkan saja ,itu semua pakai uang Ibu bukan kamu,"ucap Marni menyindir.


Mischa berjalan ia meninggalkan ibu dan anak yang mengobrol.


"Kenapa 'sih Bu, repot harus membeli sebanyak itu?"


"Anak yang dikandung Mischa cucuku,jadi tidak masalah aku membelinya,"jawab Marni ketus. "Kalau kamu tidak mau menerimanya,aku masih mampu mengurusnya,"ucap lagi dengan menekan kata-katanya.


"Bu, belum tentu itu anakku!"protes Reno.


"Aku percaya pada menantuku,"ucap Marni berlalu menuju mobilnya dan pulang.


Malam harinya, Mischa memberanikan diri menyapa dan berbicara dengan suaminya. Kebetulan suaminya ada di ruangan kerja.


Mischa mengetuk pintu yang sedikit terbuka lalu berucap,"Boleh aku masuk!"


"Hem!"


Mischa pun masuk ia duduk berhadapan dengan suaminya itu. Kemudian tersenyum dan mengenggam tangan Reno walaupun ditepisnya.


"Maaf mengganggu waktumu!"ucap Mischa lirih.


"Apa yang mau dibicarakan?"tanya Reno dingin tanpa menoleh dan sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Aku minta maaf selama ini untuk mendapatkanmu caraku salah. Harusnya dari awal aku bicara semuanya,"ungkap Mischa.


"Harusnya memang begitu,"sahut Reno ketus.


"Jika bayi ini lahir aku siap pergi dari kehidupanmu selamanya,"ucap Mischa tulus.


"Jadi kamu sekarang mengaku jika anak itu bukan anakku?"tanya Reno menatap tajam istrinya.


"Aku tidak memintamu mengakuinya sampai kapanpun dia tetap anakku. Kamu tenang jika anak ini lahir ia tidak akan mengusikmu,"ujar Mischa lagi.


"Aku tetap akan membiayai anak itu jika kamu memilih tetap bersamaku tapi aku tidak bisa berjanji menyayanginya. Namun, kalau kamu pergi aku akan menyuruhmu membawa anak itu,"jelas Reno.


"Kamu tidak perlu menyayanginya akan ada orang yang tulus menyayanginya selain aku,"ucap Mischa mengelus perutnya yang semakin membesar. Dia kemudian bangkit lalu berkata,"Cepat atau lambat kamu akan menyesal!"


Mischa keluar ruangan dengan berjalan perlahan,ia terus mengelus perutnya seakan menguatkan dirinya dan calon bayinya.


...****************...


Dua bulan berlalu..


Marni datang ke rumah anaknya pagi-pagi sekali,ia ingin mengajak menantunya berjalan-jalan pagi.


"Ibu!"sapa Reno ramah.


"Mana menantuku?"tanya Marni tanpa menoleh wajahnya putranya itu.


"Dia ada di.."


"Hai,Bu!"sapa Mischa memotong ucapan Reno.


"Siap,Bu!"ucap Mischa semangat.


Mereka pun berjalan berdua keliling rumah , mertua dan menantu itu terlihat akrab dan sesekali tertawa bersama. Selesai berolahraga kecil, mereka menikmati sarapan pagi bersama walaupun ada Reno, mereka berdua tidak menghiraukan keberadaannya.


Marni begitu sibuk menyuruh pelayan rumah menyiapkan makanan dan jus buah buat Mischa.


Marni menyuapin Mischa bagai anak sendiri.


"Kamu,lahiran tinggal nunggu hari. Kalau bisa jangan kemana-mana,"Nasehat Marni.


"Tapi,Bu. Bagaimana dengan bisnisku?"tanya Mischa.


"Untuk sementara biar Ibu dan Rayyan yang mengurusnya,"ucap Marni.


Mendengar nama Rayyan,suami Mischa segera menoleh dengan cepat.


"Ibu kenal dengan Rayyan?"tanya Reno.


"Iya,Ibu kenal dengan dia. Kami sempat bertemu,"jawab Ibu ketus.


Marni kembali mengobrol dengan menantunya. Mischa hanya melihatnya kemudian menundukkan pandangannya karena mendapat tatapan tajam dari suaminya.


"Aku pergi kerja ,Bu!" ucap Reno pamit.


"Ya!"jawab Marni singkat.


Sore harinya Marni kembali ke rumah anaknya itu dengan membawa koper besar. Sesampainya di rumah Reno, putranya itu kebetulan juga baru pulang kerja.

__ADS_1


"Mengapa Ibu bawa koper sebesar itu?"tanya Reno heran.


"Ibu mau tinggal di sini sampai Mischa melahirkan,"jawab Marni.


"Mischa masih lama melahirkan,Bu!"protes Reno.


"Aku cuma memastikan bahwa menantuku baik-baik saja, kalau ia tiba-tiba melahirkan bagaimana?Apa mau dirimu menolongnya?"tanya Marni.


Pertanyaan yang sulit di jawab Reno ia pun memilih diam.


Makan malam bersama dengan penuh perhatian Marni menyediakan dan memilih makanan yang pantas untuk ibu hamil.


"Kamu harus banyak makan buah dan sayur!"perintah Marni.


"Iya,Bu!"ucap Mischa.


"Anak Ibu itu aku bukan dia!"protes Reno yang melihat ibunya lebih sayang dengan Mischa.


"Dia mengandung cucuku dan Mischa selalu ada untuk Ibu,"ujar Marni ketus.


"Bu, sudahlah!"ucap Mischa menenangkan.Kemudian menoleh ke arah suaminya dan bangkit lalu berkata,"Kamu mau aku sediakan apa?"


"Tidak perlu, tidak usah sok baik!"ucap Reno meninggalkan meja makan.


"Reno!"panggil Marni dengan geram.


"Bu!"Mischa memegang tangan mertuanya itu.


Mereka pun kembali duduk menikmati makan malam tanpa Reno. Selesai makan Mischa duduk santai di ruang tamu. Ia pun menjerit kesakitan. Pelayan yang mendengarnya bergegas memanggil Marni dan Reno yang saat itu sedang berada di tempat berbeda di dalam rumah.


"Tuan!"panggil pelayan mengetuk pintu kamar.


"Ada apa?"


"Nona Mischa kesakitan sepertinya mau melahirkan,"ucap pelayan dengan terburu-buru.


Reno segera mengambil kunci mobil dan berlari ke bawah menghampiri istrinya .Ibunya sudah berada disampingnya.


"Sakit,Bu!"ucap Mischa menangis.


"Tenang sayang!"ucap Marni.


Reno yang panik pun mengendong tubuh istrinya dan membawanya ke mobil. Di sepanjang perjalanan Mischa terus merintih kesakitan,ia duduk di kursi belakang bersama dengan Marni sedangkan Reno berada di samping kursi pengemudi.


Sesekali ia melihat wanita itu berteriak,ada rasa iba dan sesak di dadanya telah menyakiti hatinya.


Sesampainya di rumah sakit, Mischa segera di bawa ke dalam ruangan bersalin.


"Ibu Marni diminta memasuki ruangan bersalin,"ucap perawat.


"Mengapa saya,Dok?"tanya Marni melirik putranya.


"Nona Mischa yang memintanya,"jawab perawat.


Reno hanya memandangi punggung badan ibunya yang masuk kedalam ruangan dengan hati kecewa.


"Dia benar-benar membenciku!"ucap Reno membatin.

__ADS_1


__ADS_2