Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
Undangan


__ADS_3

Mischa sibuk mempersiapkan pernikahannya di bantu calon ibu mertuanya. Jangan tanya Reno di mana, pastinya dia sibuk kerja karena tak mau repot mengurus acara pernikahan yang tidak diinginkannya.


Marni dan Mischa datang ke kantor Reno hanya untuk bertanya tentang desain undangan.


"Aku sudah bilang,aku tak mau ikut campur urusan ini. Kalian saja yang urus!"ucap Reno tegas.


"Nak, ini pernikahan pertama dan terakhirmu!"ucap Marni.


"Tante, biar aku saja yang milih. Sama saja kalau aku atau Reno yang pilih,"ucap Mischa lembut.


Marni pun mengiyakan ucapan Mischa. Mereka pun pulang.


...****************...


Seminggu kemudian persiapan acara pernikahan Mischa dan Reno hampir rampung. Mischa pun menelepon Rayyan.


"Rayyan aku cuma mau kasih undangan buat kamu!"ujar Mischa tanpa semangat.


Rayyan tersenyum tipis dan nyeletuk,"Bukannya senang malah sedih begitu?"


"Entahlah,Ray. Keinginanku terwujud tapi hatiku terasa hampa,"jelasnya.


Rayyan mengenggam tangan Mischa dan berkata,"Aku merelakanmu bersama dia untuk bahagia, jadi kamu harus semangat dan tersenyum. Aku menyayangimu!"


Mischa melepaskan genggaman Rayyan dan berujar,"Mengapa kamu baru bicara sekarang,kalau kamu menyayangiku?


"Itu salahku tak pernah mengatakan dari awal, mungkin memang dia jodohmu,"ucap Rayyan.


"Aku benar-benar bingung,Ray!"Mischa menundukkan kepalanya di meja restoran dan kedua tangannya sebagai bantalnya.


"Jalankan saja! Kita terlanjur memisahkan mereka,"ujar Rayyan.


"Aku merasa bersalah sekali, wanita itu lumpuh. Dia di mana pun aku tak tahu,"ucapnya lirih.


"Dia bersamaku,"ucap Rayyan membatin. "Aku janji akan datang tapi ingat jangan katakan pada suamimu kalau kita berteman!"ucapnya pada wanita di depannya.


"Mengapa aku tak boleh memberitahunya?"


"Lakukan saja yang ku minta!"ucap Rayyan kesal.


Sore harinya Arina kedatangan seorang kurir yang mengantarnya undangan pernikahan. Ia membuka undangan tersebut tertera nama kekasih hatinya yang akan bersanding dengan wanita lain. Tanpa ia sadari air matanya lolos begitu saja. Nana yang melihat putrinya menangis mendekatinya dan melihat undangan yang di pegangnya lalu ia memeluk Arina dan ikut menangis.


"Maafkan ,Ibu! Tak merestui kalian!"ucapnya terisak.


Arina menggelengkan kepalanya.


"Kamu harus ikhlas,Nak!"ucapnya menguatkan.


"Aku ikhlas,Bu!"ucap Arina menghapus air matanya.


Ketukan pintu terdengar menghentikan tangisan kesedihannya.


"Nak Rayyan, silahkan masuk!"ucap Nana.


"Ada Arina ,Tante? Saya mau mengajaknya jalan,"ucapnya padahal ia ingin memastikan Arina mendapatkan undangan dari mantannya atau tidak.


"Ada,bentar. Saya panggilkan!"


Tak lama Arina keluar dengan mata sembab dan menggenggam undangan.


"Jalan,yuk!"ajak Rayyan yang tak mau bertanya tentang mata Arina merah,ia yakin wanita itu sedih karena mendapat undangan dari mantan.

__ADS_1


"Bentar aku ganti pakaian,"ucap Arina kemudian ia membalikkan badannya menghadap Rayyan."Oh ya, hari Sabtu nanti temani aku kondangan!"ucapnya mengajak.


"Ini bakalan seru,"batin Rayyan.


"Kamu yakin akan pergi?"tanya Nana.


"Iya,Bu. Aku yakin !"jawab Arina tegas.


"Kenapa gak yakin,Tante? Memangnya ada apa?"tanya Rayyan yang pura-pura tidak tahu.


"Nama lelaki di dalam undangan ini,mantan kekasih Arina,"celetuk Nana.


"Ih.. Ibu kenapa dia di kasih tahu?'protes Arina.


"Memangnya kenapa?"


"Dia bakal mengejekku!"gerutunya.


Rayyan dan Nana tertawa.


"Sudah sana jalan-jalan ntar keburu malam!"ucap Nana.


"Aku mau tanya,kamu kenapa bisa seperti ini?"tanyanya pada Arina sambil menyetir.


"Kita udah kenal 2 bln lebih tapi mengapa baru bertanya seperti itu?"ujar Arina .


"Hmm...aku takut aja kamu marah jika ku singgung masalah ini!"tutur Rayyan mencari alasan.


"Aku di tabrak orang di depan restoran saat akan menyebrang,"jelas Arina berusaha tersenyum.


"Kamu sudah melapor?"


"Perusahaan tempat bekerja sudah membuat laporan,namun sulit mendapatkan pelakunya. Akhirnya aku memutuskan untuk mencabut laporan,"ungkapnya.


"Aku gak mau repot harus bolak-balik menjawab berbagai pertanyaan dan percuma aku udah cacat begini. Apa dengan dia di tahan bisa mengembalikan aku seperti dulu? Tidak 'kan?"ujarnya.


"Jika seandainya orang itu datang dan meminta maaf kepadamu. Apa kamu akan memaafkannya?"


"Tidak,aku tidak pernah memaafkannya dan aku tak ingin bertemu dengannya!"ucap Arina tegas.


Glekk.. Rasanya sakit sekali mendengar wanita di sampingnya berbicara seperti itu.


Rayyan terdiam dan tidak bertanya lagi.


"Kenapa diam? Apa jangan-jangan kamu orangnya yang sudah menabrakku?"tanya Arina asal menuduh.


Rayyan berusaha tertawa."Untuk apa aku ingin menabrakmu?"balik bertanya.


"Mana tahu aja, tiba-tiba aja kamu datang dan selalu ada di sampingku!"celetuknya.


"Itu hanya kebetulan saja!"tutur Rayyan tersenyum nyengir.


"Tapi saat aku di rawat,kiriman seperti bunga,coklat , kue, buah ada inisial namanya."Arina menatap wajah Rayyan.


"Mungkin itu mantan kekasihmu?"


"Kata dia bukan,"jawabnya.


"Lalu?"


"Entahlah,"jawabnya menaiki kedua bahunya."Kita mau ke mana?"tanyanya kembali.

__ADS_1


"Kita muter-muter aja sampai pegal!"sahut Rayyan bercanda.


"Capek dong, keliling aja!"


"Aku ajak makan bakso,kamu mau?"


"Mau dong,udah lama gak makan bakso."Ungkap Arina semangat.


Rayyan menghentikan laju kendaraannya dan berhenti di sebuah warung bakso,ia pun memapah Arina.


"Pak ,pesan 2 mangkok !"


"Baik,Tuan!"


Tak lama kemudian pesanan mereka datang,Arina pun semangat mencicipi bakso ia meletakkan sambal cukup banyak.


"Kamu tak salah ,beri sambal segitu banyaknya?"tanya Rayyan.


"Makan bakso kalau gak pedas, tidak enak!"jelasnya.


"Tapi tidak segitu banyaknya juga,"ujar Rayyan."Ntar sakit perut, bagaimana?"tanyanya lagi.


"Semoga saja tidak,"jawab Arina tersenyum manis.


"Kamu suka dengan baksonya? Biar aku pesan buat di bungkus,"ucap Rayyan.


"Suka banget,boleh kalau kamu mau belikan." Balas Arina.


"Tunggu di sini,aku akan pesankan!"ujar Rayyan.


Tak lama kemudian Rayyan datang,bakso di mangkok Arina telah ludes.


"Kamu sering ke sini?"


"Tidak terlalu sering juga, cepat sekali kamu makan?"Rayyan melirik mangkok Arina.


"Enak !"Arina memuji dengan mengacungkan dua jempol tangan.


"Enak atau lapar?"


"Dua-duanya,"jawab Arina tersenyum nyengir.


Selesai makan mereka segera pulang,"Ayo, pulang ntar anak gadis dicari ibunya!"ajak Rayyan.


...Di lain tempat, kediaman Reno. Adik kandungnya Reno dan Marni sedang sibuk memilih warna baju yang akan digunakan saat resepsi salah satu keluarganya....


"Cepat pilih yang mana? Waktu kita seminggu lagi!"protes Marni.


"Bentar dong,Bu. Aku bingung semua cantik!"ujar Rasti.


"Sore!"sapa Reno.


"Kakak!"sahut Rasti memeluk kakaknya."Selamat ya,Kakak akan segera menikah!"ucapnya.


"Terima kasih,"jawab Reno tersenyum tipis."Rado mana?"tanyanya mencari keponakannya itu.


"Rado sedang bermain dengan papanya di taman belakang,"ujar Rasti.


"Ya sudah,Kakak mau ke kamar!"ujar Reno berlalu.


"Kakak mau menikah,kenapa tak semangat?"tanya Rasti pada ibunya.

__ADS_1


"Ibu juga tak tahu,"ucap Marni berbohong padahal ia tahu Reno begitu.


__ADS_2