
Arina mencoba latihan jalan tanpa tongkat selain orang tuanya ada Rayyan yang selalu setia berada disampingnya. Seperti balita semua melihat kemajuan yang dilaluinya.
"Ayo,Nak kamu bisa! Jangan takut ada kami di sini!"ucap Nana.
Arina memberanikan diri membuang tongkat dengan memegang tangan Rayyan lalu pria itu melepaskannya . Selangkah demi selangkah kaki itu melangkah. Ari dan Nana tersenyum. Begitu juga dengan Rayyan. Akhirnya Arina bisa berjalan tanpa tongkat .
"Aku bisa jalan,Bu!"teriaknya semangat.
Nana memeluk erat tubuh putrinya. Seulas senyuman terpancar di wajah Rayyan.
"Tanggung jawabku selesai,maafkan selama ini membuatmu menderita!"batin Rayyan.
Sore hari Rayyan kembali ke rumah orang tuanya.
"Akhirnya kamu pulang juga ,ke mana saja kamu 3 bulan ini?"tanya Mama Hanum.
"Aku lagi bertanggung jawab atas apa yang kulakukan,"ujar Rayyan.
"Ternyata kamu sudah tumbuh menjadi pria dewasa,"ucapnya.
"Aku tak mau hidup susah aja ,Mah!"jawab Rayyan ketus.
"Sifat manja dari dirimu tidak pernah berubah,"ucap Hanum."Mama tidak yakin kamu bisa menjalankan usaha mendiang papa!"sindirnya.
"Aku belum terjun secara langsung jadi Mama belum tahu saja kemampuanku,"ucap Rayyan.
"Lalu Bagaimana dengan wanita itu?"tanya Mama Hanum.
"Dia sudah bisa berjalan,"tutur Rayyan.
"Apa sekarang kamu menyesal telah membuat wanita itu begitu?"
"Aku menyesal ,Mah!"ucap Rayyan sendu.
"Selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?"tanya Mama Hanum penasaran.
"Melakukan apa Mah?"tanya Rayyan balik.
"Apa kamu akan meninggalkan wanita itu?"
Rayyan terdiam sejenak da berkata,"Iya aku akan meninggalkannya!"
"Mama rasa kamu cocok dengan wanita itu,"celetuk Hanum.
"Mama tahu wanita itu?"
"Apa 'sih yang tidak Mama ketahui tentang kamu!"ucap Mama Hanum santai.
Rayyan tersenyum tipis dan berkata,"Aku tidak mencintainya,Mah!"
"Jadi kamu masih mengharapkan Mischa?"
Rayyan menoleh ke arah Hanum yang sedang menyeruput tehnya.
"Mana mungkin aku suka dengan calon istri orang,"tutur Rayyan.
Hanum tertawa kecil , meletakkan cangkir di meja dan berkata,"Mama tahu kamu mencintai wanita itu!"
"Mama sok tahu!"ujar Rayyan.
"Dari perhatian dan tatapan matamu melihat wanita itu berbicara, begitu telaten merawat dan selalu siaga ke mana wanita itu pergi!"ungkap Hanum.
__ADS_1
"Jadi selama ini Mama memata-matai aku?"tanya Rayyan kesal.
"Kamu anak satu-satunya jadi Mama cuma ingin dirimu menjadi lelaki yang dewasa dan bertanggung jawab,"ucap Hanum."Ya sudah sana mandi,kita makan malam bersama. Mama rindu makan berdua dengan kamu!"ucapnya lagi menepuk pundak Rayyan lembut.
...****************...
"Rayyan ke mana 'sih?gumam Arina yang bersiap akan ke kantor.
"Ayo,Ayah antar saja!"ajak Ari.
"Aku dengan Rayyan saja ,Yah!"
"Kamu yakin? Nanti terlambat jika harus menunggunya,"ujar Ayah Arina.
"Ya sudah,aku di antar ayah saja!"tutur Arina.
Di perjalanan ke kantor Arina melihat gawainya, tidak ada pesan atau panggilan yang masuk dari tadi malam. Tadi malam ia juga sudah mendatangi unit apartemennya tapi nihil.
"Nak,kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa,Yah. Hanya gugup saja kembali bekerja!"ucap Arina berbohong.
"Kamu kayak karyawan baru saja!"ucap Ari tersenyum.
Hari ini Arina kembali bekerja setelah 3 bulan pasca kecelakaan. Dua puluh menit kemudian Arina tiba di kantor walau ia tidak masuk kerja di awal pekan melainkan memilih hari Kamis. Alasannya karena sudah terlalu lama cuti.
"Pagi Arina!"sapa teman-teman kantornya.
"Pagi juga"sahut Arina tersenyum.
"Arina apa kabar?"tanya Viko yang sudah berdiri di belakang pintu lift.
"Hei,iya. Baik!"jawab Arina gugup.
"Iya, saya sudah sehat!"jawabnya. "Duluan, 'ya!" pamitnya.
Viko tersenyum dan menggangukkan kepalanya.
"Selamat kembali bekerja!"ucap Seno memberikan semangat.
"Terima kasih,Tuan!"ucapnya.
Lain tempat di kediaman Rayyan.
"Kamu tidak kembali ke apartemen?"tanya Hanum.
"Tidak,Mah. Aku hanya menyewa di sana."
"Kamu tidak ingin mengucapkan salam perpisahan begitu dengan wanita itu atau menjelaskan siapa kamu sebenarnya?"tanya Hanum lagi.
"Aku belum siap mengatakannya, Mah!" ujar Rayyan lemas.
Hanum tertawa melihat wajah Rayyan.
"Kamu bisa memberikan dia uang yang banyak setelah mengatakan pengakuan dosa,"tutur Hanum memberi ide.
"Aku rasa dia tidak seperti itu, Mah!"
"Udah dicoba?"
Rayyan menggelengkan kepalanya lalu berkata,"Aku akan mengatakannya setelah acara pernikahan Mischa."
__ADS_1
"Apa hubungannya dengan Mischa?"
"Calon suami Mischa,kekasih dari wanita itu!"
"Apa!" Hanum terkejut. "Jadi kalian sengaja melakukan ini?"
"Tapi aku saja,Mah!"ucap Rayyan."Mischa mencintai pria itu,aku gak sanggup terus melihat dia merengek dan bercerita tentang lelaki itu!"ungkapnya.
"Bodoh!"sentak Hanum."Kamu berkorban untuk wanita yang tidak mencintaimu,itu sama saja menjerumuskan ke jalan yang salah!"ucap Hanum marah.
"Aku memang bodoh,Mah!"ucap Rayyan menyesal.
"Mama tak menyangka kamu melakukan ini karena cinta ,"ujar Hanum. "Kamu harus menikahinya!" ucapnya lagi.
"Aku tak mencintainya,"ucap Rayyan tak terima.
"Kamu bisa melakukan hal bodoh demi wanita yang tidak mencintaimu,kenapa kamu tidak bisa mengorbankan perasaan demi wanita lain yang telah kalian rebut kebahagiannya!"ungkap Hanum.
"Aku tak bisa!"tolak Rayyan.
"Mama tidak akan memberikan harta warisan sebelum menikahinya,"ancam Mama Hanum lagi.
"Mah,aku sudah bertanggung jawab dengan membawanya terapi dan mengeluarkan seluruh biaya,"ujar Rayyan memberi alasan.
"Mama tidak mau tahu!"ucap Hanum dengan tegas.
"Oh,sial ! Mengapa masalahnya tambah rumit?"gumam Rayyan menjambak rambutnya.
Malam harinya Rayyan kembali ke apartemennya karena masa sewanya belum habis. Dia juga ingin bertemu dengan Arina.
"Malam,Om!"sapanya pada Ayah Arina yang membukakan pintu.
"Ya,mau cari Arina?"
"Iya,Om."Jawab Rayyan tersenyum.
"Silahkan masuk,saya akan panggilkan dia!"ujar Ari.
Rayyan menunggu di ruang tamu,tak lama Arina keluar dari kamar menggunakan pakaian tidur, rambut acak-acakan dan terlihat menguap.
"Bangun tidur aja cantik!"batin Rayyan memuji.
"Ada apa?"
"Saya mau ngajak kamu makan di luar,"ucap Rayyan.
"Aku mengantuk sekali,"ujar Arina.
"Oh,ya sudah. Lain waktu aja aku ajak kamu!"sahut Rayyan tersenyum.
"Maaf ya,hari ini aku capek sekali,"ucap Arina jujur.
"Tidak masalah,tapi besok aku akan mengantarmu kerja,"ucap Rayyan menawarkan diri.
"Tidak perlu,aku terlalu banyak merepotkan. Kamu sering membantuku. Aku berhutang padamu,"ujar Arina.
"Seandainya kamu tahu bahwa aku yang menyebabkan ini semua. Apakah kamu akan memaafkanku , apakah kamu akan mengucapkan terima kasih berulang kali ?"batin Rayyan.
"Hei,kamu dengar aku atau tidak!"ucap Arina.
"Iya aku dengar,kamu terlalu sering berkata begitu!"ujar Rayyan.
__ADS_1
Arina tersenyum dan berkata,"Hanya itu yang bisa ku lakukan, untuk mengganti biaya yang kamu keluarkan aku belum mampu. Tapi tenang nanti aku akan menyicilnya."
"Tidak usah,aku ikhlas kok!"ujar Rayyan. "Ya sudah, aku pamit!"ucapnya kemudian berpamitan pada kedua orang tua Arina.