Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
BAB 16


__ADS_3

Iren akhirnya sadar, Rudi memutar balik mobilnya dan mengarah ke rumahnya bukan melanjutkan perjalanan ke Pantai Marina, dimana keluarganya berkumpul bersama.


"Mas.. Ini bukannya kita mutar balik yah?" tanya Iren penasaran, memandang Rudi.


"Iya. Kita ke rumah aku dulu, koper Ayah sama Ibu aku ketinggalan." jawab Rudi agar Iren percaya.


"Memangnya kenapa mau bawa koper, Mas?" tanya Iren kembali


"Ayah sama Ibu aku habis dari Pantai mau langsung berangkat ke Malaysia lagi. Ayah aku mau selesaikan pekerjaan yang dia tunda." jawab Rudi semakin meyakinkan Iren.


"Oh yasudah Mas." sahut Iren percaya.


Sesampainya di rumah Rudi, Iren meminta untuk tetap menunggu di mobil saja karena Rudi hanya ingin mengambil koper. Apalagi, rumahnya tampak sunyi. Saudara Rudi juga ada di Pantai Marina, karena sebelumnya sudah menitipkan cafenya pada Widi dan teman-teman Iren yang kebetulan akan kesana untuk mengerjakan tugas kelompoknya.


***


Rudi akhirnya turun dari mobilnya terlebih dahulu lalu membuka pintu mobil sebelah, dimana Iren duduk.


"Kamu turun dulu, masa mau nunggu disini!" pinta Rudi pada Iren.


"Enggak usah Mas.. Aku disini aja. Kamu masuk aja ambil koper lalu kita berangkat. Sudah jam berapa, pasti kamu sudah ditunggu Mas!" jawab Iren mencoba untuk menolak permintaan Rudi dengan halus, karena takut jika Rudi nekat lagi berbuat macam - macam padanya. Terlebih lagi rumah Rudi tidak ada siapa - siapa.


"Kamu kok gitu sih? Ayo turun dulu aja! Aku enggak akan apa-apain kamu kok. Kamu kenapa takut sama aku? Memangnya aku orang jahat?" kata Rudi bernada kesal.

__ADS_1


"Yasudah mas, aku turun." Iren menuruti Rudi yang sudah mulai kesal, Iren tidak mau Rudi marah karena ia tidak mendengarkan kemauannya. Iren tidak mau bertengkar lagi dengan Rudi.


Iren membuang pikiran buruknya dan percaya bahwa Rudi hanya ingin mengambil koper, tetapi tidak mau melihat Iren menunggu di mobil sendirian.


Rudi dan Iren masuk ke rumah Rudi yang tampak sangat sunyi. Bahkan satpam yang biasanya ada saat rumahnya kosong pun tidak terlihat sama sekali. Iren tetap berpikir positif, Rudi yang melihat Iren berjalan sangat hati-hati, sadar bahwa Iren tampak ketakutan.


"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Rudi cengengesan, mengagetkan Iren yang sejak tadi menata pikirannya agar tidak berpikiran negatif terus pada Rudi.


"Ah.. Enggak mas, enggak apa-apa kok." ucap Iren terbata - bata.


"Yasudah kamu duduk dulu yah, aku mau ke kamar Ayah ambil kopernya." kata Rudi. Iren hanya membalas ucapannya dengan senyuman.


Iren duduk di sofa ruang tamu Rudi, kemudian Rudi keluar tanpa membawa koper. Rudi akhirnya duduk disamping Iren dan memperlihatkan wajah bersalahnya.


"Kopernya ternyata sudah dibawa sama Pak Dodi (nama satpam). Makanya enggak ada orang di rumah, Pak Dodi juga ikut nyusul ke Pantai Marina." kata Rudi meyakinkan Iren.


"Yasudah Mas Enggak apa-apa, jangan pasang muka begitu dong." ucap Iren sambil tersenyum manis, mencoba menenangkan Rudi yang tampak merasa bersalah padanya.


"Kamu enggak marah kan?" rayu Rudi memandang Iren.


"Enggaklah Mas Rudi, kenapa harus marah? Hehehe. Yasudah ayo kita berangkat Mas, sudah jam berapa ini!" kata Iren memaksa Rudi untuk segera pergi.


Iren pun berdiri dari sofa, tetapi Rudi menarik tangan Iren dan akhirnya Iren kembali terduduk di sofa. Rudi membelai wajah Iren dengan lembut, membisikkan pada Iren kata - kata yang manis. Iren merasa risih dan takut, ia terus mundur dan memalingkan wajahnya saat akan disentuh oleh Rudi.

__ADS_1


"Kamu percaya kan sama aku? Aku sayang banget sama kamu Ren." bisik Rudi pada Iren.


"Kamu jangan macam - macam Mas Rudi! Aku enggak suka kamu seenaknya gini!" tegas Iren.


"Aku mohon kamu mau melakukan itu sama aku, supaya aku yakin kalau kamu itu sudah jadi punya aku seutuhnya." rayu Rudi kembali sambil memegang dagu Iren.


"Aku itu masih sekolah Mas Rudi! Kamu juga harus ingat kalau hubungan kita itu baru satu minggu, tapi kamu sudah berani melakukan itu! Aku benar - benar enggak menyangka Mas!" ucap Iren sangat emosi dengan perlakuan Iren.


Rudi mengepalkan tangannya. Ia sangat emosi karena penolakan Iren, tetapi ia tetap mengendalikan dirinya, karena tidak ingin jika Iren meninggalkannya.


"Yasudah sayang. Ayo aku antar kamu pulang, aku enggak jadi ke Pantai. Aku mau ke cafe aja!" ucap Rudi merasa tidak bergairah.


"Oh yasudah!" jawab Iren kesal.


Iren meninggalkan Rudi yang masih duduk di sofa, ia langsung berjalan keluar. Rudi akhirnya menyusul Iren dan segera mengantarkan Iren pulang.


***


Diperjalanan, Iren tidak lagi berbicara pada Rudi karena merasa sangat kesal. Batin Iren pun berkata "Apakah Rudi hanya alasan mengajak aku ke acara keluarganya di Pantai? Apakah dia memang hanya ingin membawaku ke rumahnya saja karena tidak ada siapa - siapa disana? Apakah ini sudah direncanakan oleh Rudi?" Iren lalu menggelengkan kepalanya, tidak ingin terus berpikir buruk.


Rudi yang melihat Iren, juga tidak berkata apa-apa. Karena, ia tahu kalau Iren sangat marah padanya. Rudi membiarkan Iren tenang dulu. Ia tahu betul bagaimana cara meluluhkan hati Iren kembali.


***

__ADS_1


__ADS_2