Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
Masih Curiga


__ADS_3

Sebelum pergi ke kantor ,Arina berencana akan ke bengkel mengambil mobilnya. Saat akan membuka pintu, pria yang ia tunggu kabarnya muncul dihadapannya sembari tersenyum hangat dan membawa seikat bunga.


"Maafkan,aku!"ucapnya menyerahkan seikat bunga.


Arina mengambil bunganya kemudian menarik tangan Rayyan,"Temani aku ke bengkel!"ajaknya.


"Mobil kamu masuk bengkel?"


"Iya,semalam dia mogok. Untung saja ada.."ucap Arina terhenti.


"Ada siapa?"


Arina menghentikan langkahnya dan menatap wajah Rayyan,"Dia yang membantuku!"ucapnya lirih.


"Dia siapa?"


"Reno."


"Oh,"jawabnya santai.


"Kamu tidak marah?"


"Aku percaya kamu,"jawab Rayyan lagi.


"Terima kasih,"ucap Arina.


"Mobilmu biar aku saja yang ambil nanti sore,kamu langsung ke kantor saja!"ujarnya.


"Baiklah,kalau begitu!"


Rayyan mengantar calon istrinya itu ke kantor. Di perjalanan mereka kembali mengobrol.


"Kemarin aku hubungi kamu mengapa tidak aktif?"


"Ponselku mati dan saat itu aku buru-buru pulang,maaf buat kamu khawatir!"ucap Rayyan.


"Jelas aku khawatir,kita mau menikah. Kalau tidak jadi 'kan aku malu,"ucapnya tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


"Oh,jadi karena itu!"ucap Rayyan."Memangnya kamu tidak menginginkan pernikahan ini?"tanyanya lagi.


"Ya ,mau. Kalau tidak mau,aku sudah menolakmu sampai jatuh,"ucap Arina tertawa.


Rayyan mengacak rambut calon istrinya itu.


Di rumah kediaman Reno, aktivitas pagi tetap seperti biasa. Suasana sepi terasa hanya aktivitas pelayan rumah yang bersuara. Pemilik rumah dan istrinya hanya diam dan membisu tak ada percakapan sama sekali di meja makan. Mischa mengirimkan pesan kepada Rayyan saat Reno tak lagi di rumah.


Mereka akhirnya bertemu , sebuah mobil mengikuti Mischa. Sesampainya di sana, Rayyan sudah memesankan minuman buat Mischa.


"Reno mulai curiga pada kita!"ucap Mischa.


"Semalam Reno membantu membawakan mobil Arina ke bengkel, mungkin dia mengatakan bahwa kita berteman pada Arina,"ucap Rayyan.


"Kemungkinan,"sahut Mischa.

__ADS_1


"Aku tak mau dia mengetahui semua ini sebelum aku menikah dengan Arina,"ucap Rayyan dingin.


"Kamu mau menikah dengan dia?"


"Iya,kami dijodohkan. Kedua orang tua kami saling mengenal dan aku menerimanya begitu juga dia,"jelasnya.


"Kamu bilang dia dijodohkan dengan orang lain,"ucap Mischa.


"Aku pikir begitu,tapi orang tua kami yang membuat skenario ini!"


"Apa kamu jatuh cinta padanya?"


"Iya,aku jatuh cinta dengannya!"ucap Rayyan tersenyum bahagia.


"Aku akan berusaha menutup rapat masalah ini,"ucap Mischa percaya diri.


"Aku percaya kamu bisa melakukan ini,"ujar Rayyan.


"Kamu tenang saja,bagiku kamu bahagia itu cukup!"ucap tulus Mischa.


Setelah bertemu dengan Mischa, Rayyan pergi ke bengkel mengambil mobil Arina kemudian menjemputnya.


Malam harinya Mischa kembali ke rumah, setelah bertemu Rayyan ia tak langsung pulang. Ia pergi ke tempat rental mobil miliknya yang ia bangun dari hasil sebagai bintang iklan dan model. Tidak ada yang tahu jika ia memiliki bisnis ini termasuk Reno. Walaupun bisnisnya tidak sebesar milik suaminya.


Mischa pulang lebih awal dari biasanya,ia tak tahu jika Reno sudah pulang juga. Mischa melangkah ke kamar ,namun panggilan namanya membuat dia berpaling mencari asal suara. Suaminya memanggil dengan wajah yang sulit diartikan.


"Akhir-akhir ini kamu sering keluar rumah dan pulang larut malam,"ucap Reno dengan nada dinginnya.


"Kamu tahu profesi aku sebelum menikah, jadi harap maklum jika sering pulang malam bahkan tidak pulang ke rumah,"Mischa menjelaskan dengan santai.


"Seorang istri!"Mischa memotong pembicaraan.


Reno geram mendengar jawaban dari Mischa,lalu ia membuka ponsel dan memperlihatkan video percakapan antara istrinya dan Rayyan. Mischa mendengarnya dan mendelikkan matanya tak menyangka.


"Kamu mengikutiku!"sentak Mischa.


"Iya,aku mengikutimu. Rahasia apa yang kalian sembunyikan hingga Arina tak boleh mengetahuinya?" tanya Reno mulai marah.


Mischa tersenyum tipis lalu berkata,"Aku tidak akan memberitahumu!"


"Cepat katakan!"bentak Reno.


Mischa tak menjawab,ia memilih mengambil pakaian dan bergegas ke kamar mandi.


"Kamu mau pria itu sendiri yang menjawabnya!"


ucapnya dingin.


"Dia tidak akan berbicara dan tentunya Arina akan membelanya,"sahut Mischa dengan santai melangkah ke kamar mandi.


"Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan?"batin Reno berkata.


Reno masih menunggu Mischa keluar dari kamar mandi, hampir sebulan menikah tidak membuat Reno tertarik dengan tubuh istrinya itu. Mungkin luka yang diberikan oleh wanita yang sempat mengisi hatinya itu membuat ia menolak kebaikannya.

__ADS_1


Mischa pun keluar,ia melihat suaminya masih berdiri menatap langit di balkon kamarnya.


Mischa menghela nafasnya dan memilih merebahkan tubuhnya di ranjang daripada mengajak mengobrol suaminya.Namun, dirinya tak bisa tidur padahal perutnya telah terisi . Apalagi sekarang ia mendapatkan tatapan mematikan dari suaminya.


"Lebih baik aku pura-pura tidur,"ucapnya membantin kemudian memejamkan matanya.


"Jangan pura-pura tidur!"ucap Reno dingin.


Mischa membuka kembali matanya, perasaannya campur aduk lalu ia membatin,"Bagaimana ini?"


Ia pun memilih bangkit dan keluar kamar menuju dapur, Mischa menuangkan segelas air dingin di gelasnya dan menenggaknya. Baginya malam ini terasa panas padahal rumah suaminya memiliki pendingin ruangan.


"Kenapa gugup?"tanya Reno, membuat Mischa terkejut .


"Aku hanya haus,"jawabnya berkelit.


"Yakin?"tanyanya lagi.


"Kamu sudah kayak penyidik,"protes Mischa.


"Jika tidak ada yang kalian sembunyikan,kenapa takut?"


"Aku lelah ,mau tidur!"ucap Mischa berjalan melewati suaminya.


Reno memegang lengan Mischa dan berkata,"Cepat katakan?Kamu mau karir yang dibangun hancur!"


"Aku tidak peduli dengan semua itu, percuma aku punya suami kaya raya seperti kamu!"ungkapnya dengan santai.


"Kamu pikir bisa menikmati hartaku!"ancam Reno.


Mischa tersenyum menyeringai dan berkata,"Ibu menjanjikan akan memberikan separuh hartamu jika kamu berani meninggalkanku!"


Reno melepaskan genggamannya dengan kasar,"Jadi kamu mau menikah denganku karena harta!"


Mischa tertawa jahat lalu berkata,"Kamu pikir aku tulus mencintaimu!"


"Kamu!"ucap Reno menunjuk wajah istrinya.


Mischa hanya diam dengan tatapan menantang. Reno menjambak rambutnya dan berteriak kesal.


"Maafkanku, jujur aku mencintaimu!"ucapnya membatin dengan mata berkaca-kaca. Ia pun membiarkan Reno sendirian dan berlalu menuju kamarnya.


Di kamar Mischa membenamkan wajahnya di bantal,ia menangis terisak."Aku menyesal!"gumamnya.


Ia menyesali pernah mengeluh pada Rayyan yang mengakibatkan wanita itu celaka dan perkataan tentang separuh harta Reno semua bohong. Ibu Marni hanya membantunya melunasi utang dengan Tante Lidya yang mengambil rumah orang tuanya.


Reno memilih menikmati malam di balkon ruang kerjanya,ia menghisap sebatang rokok dengan wajah lusuh.


"Aarrghhhhh... brengsek!"teriaknya mencampakkan gelas yang ada di meja dihadapannya."Rasanya sakit sekali mendengar dia hanya mengincar hartaku!"batinnya menjerit.


Mischa yang mendengar suara pecahan, berlari keluar kamar begitu juga dengan dua orang pelayan rumah beserta penjaga keamanan rumah . Ikut terbangun mendengarnya.


Pelayan berusaha mencari asal suara begitu juga dengan Mischa ia mendekati kamar Reno dan melihatnya ruangan kerja suaminya berantakan dan dirinya terduduk santai menikmati rokok.

__ADS_1


Kemudian mengisyaratkan pada pelayannya untuk kembali ke kamar masing-masing. Mischa pun masuk ke dalam dan melihat sekelilingnya.


"Keluar!"


__ADS_2