
Pukul 14.00 hari sudah siang. Bel sekolah berbunyi pertanda sudah jam pulang sekolah. Iren mendiskusikan rencananya dengan teman-temannya, mereka pun berkumpul sebelum pulang.
“Aku pulang sebentar yah, aku mau izin sama ibuku dulu,” Ucap Iren pada teman-temannya.
“Iya enggak apa-apa pulang aja dulu, nanti kita ngumpul di rumah Iren aja biar berangkatnya sama-sama. Gimana?,” Ujar Widi kepada teman-temannya.
Semua mengangguk setuju..
***
Sesampainya di rumah, Iren mandi dan mengganti pakaiannya. Iren berjalan menuju meja makan karena merasa sangat lapar.
“Ibu masak apa hari ini? Aku laper banget bu.” ucap Iren pada Ibu, sambil memegang perutnya menunjukkan rasa lapar.
“Kamu enggak makan tadi di sekolah nak?” tanya Ibu Nadia
“Tadi enggak istirahat bu, gurunya gak kasih waktu istirahat makanya pulangnya cepat.” jawab Iren.
“Ya sudah, ibu tadi buat nasi goreng kesukaan kamu, makan dulu nak lalu sholat yah.” ucap Ibu, mengambilkan nasi goreng ke piring Iren.
“Oh iya bu.. setelah ini Iren mau pergi sama teman-teman, ada tugas akhir sekolah. Iren disuruh meneliti di tempat usaha gitu bu. Sebentar lagi teman-teman aku datang buat jemput aku,” kata Iren pada ibu.
“Ya sudah nak. Hati-hati dan jangan pulang terlalu malam yah,” ucap Ibu
***
Tiba-tiba ponsel Iren berbunyi, tanda pesan masuk.
“Bro gimana, jadi ke cafe kan? Aku tungguin yah,” isi pesannya.
__ADS_1
“Iya mas, Widi dan teman-teman jadi kok kesana. Btw ini temannya Widi hehehe,” balas Iren sambil tersenyum karena dikira cowok sama temannya Widi.
“ok bro ditunggu!" balas Rudi kembali.
Iren hanya tersenyum dan tidak membalasnya lagi. Beberapa menit kemudian Arindi, Melda, Widi dan Arsya datang bersamaan menggunakan mobil Arsya. Iren lalu masuk ke kamar ibunya untuk meminta izin, teman-teman Iren ikut pamitan kepada Ibu Iren.
“Hati-hati yah nak, pulangnya jangan terlalu malam,” ucap Ibunya Iren.
Mereka berangkat bersama ke cafe kakaknya Rudi, tempat dimana mereka akan melakukan penelitian. Di perjalanan mereke mendiskusikan hal apa saja yang akan dilakukan masing-masing anggota kelompok. Mereka tidak hanya meneliti tapi juga membantu melayani di cafe tersebut.
***
Sesampainya di cafe tersebut, mereka bertemu dengan Rudi yang sudah lama menunggu kedatangan Widi dan teman-teman yang akan mengerjakan tugas akhir sekolahnya disana.
“Wah bro, makasih banget nih dibolehin kesini,”ucap Widi kepada Rudi saling berjabat tangan.
“Oh iya. Saya Rudi.” menjabat tangan Arsya, Arindi dan Melda bergantian.
Karena Iren sibuk bermain ponsel, dia tidak melihat uluran tangan Rudi. Lalu Melda menepuk lengan Iren.
“kamu cuekin pemilik cafe ini yah. Benar-benar kamu Ren,” ucap Melda tersenyum meledek.
“Oh iya maaf mas, saya Iren” Ucap Iren pada Rudi sambil menjabat berjabat tangan.
“Eh tadi itu nomor ponselnya Arsya yah Di?,” tanya Rudi pada Widi.
“Bukan bro, itu nomor ketua kelompok aku yang cuekin kamu tadi. Itu nomor Iren,” jawab Widi sambil menunjuk Iren.
“Oalah.. udah aku panggil bro juga lagi, sorry yah Iren,” ucap Rudi pada Iren, tersenyum malu.
__ADS_1
Mereka hanya berbincang santai, belum memulai penelitiannya. Mereka membicarakan tugas mereka masing-masing. mereka berencana memulai penelitiannya pada hari minggu pagi agar waktu mereka luang karena tidak harus ke sekolah dulu.
Tanpa Iren sadari ternyata Rudi memperhatikannya terus menerus, hanya Melda dan Arindi yang memperhatikan Rudi. Perbincangan mereka semakin cair karena Iren orangnya sangat ceria dan bisa mencairkan suasana. Senyumnya yang manis dan matanya yang indah membuat Rudi sulit mengalihkan pandangannya.
Pukul 18.00 Iren ditelepon oleh ibunya karena Ibunya harus datang di acara pernikahan anak dari temannya. Tetapi temannya berencana untuk pergi ke gramedia dulu untuk membeli buku panduan penelitian. Iren memutuskan pulang naik ojek online, tetapi bagi Rudi ini adalah kesempatannya mengenal Iren lebih jauh lagi.
“Aku pulang duluan yah, Ibuku menelepon katanya ada kondangan. Sorry yah enggak bisa ikut beli buku sama kalian." ucap Iren pada teman-temannya.
“Kamu enggak apa-apa pulang sendiri kan Ren?” tanya Arindi.
“Nggak kok. Malah aku yang enggak enak sama kalian karena harus pulang duluan.'' jawab Iren.
“Biar aku yang antar Iren pulang!" ucap Rudi memberi tawaran.
"Enggak usah kali mas Rudi, kok malah double merepotkannya sih.” jawab Iren menolak halus.
“Enggak apa-apa lagi, sekalian aku ada tujuan keluar juga kok. Bareng aja!" sahut Rudi kembali.
“Ya sudah deh mas, makasih lagi kalau gitu,” jawan Iren tersenyum polos.
Akhirnya Rudi berhasil mengajak Iren untuk diantar pulang, diperjalanan Iren merasa biasa saja karena memang belum mengenal Rudi dengan baik. Beda halnya dengan Rudi yang sejak diperjalanan sudah merasa sangat canggung. Jantungnya berdebar kencang, Rudi berkata dalam hatinya,”apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?”. Iren sambil menunjukkan jalan menuju rumahnya pada Rudi. Rudi mengikuti isyarat yang diberi oleh Iren. Tidak ada perbincangan sama sekali selain Iren yang mengarahkan jalan kepada Rudi. Tidak terasa, sudah sampai di rumah Iren. Iren melepas helm Rudi yang dipakainya.
“Terima kasih banyak mas Rudi,” ucap Iren.
“Sama-sama manis,” jawab Rudi menatap Iren dengan tatapan yang membuat Iren tersipu malu.
“Ya sudah mas, aku masuk dulu. Ibu pasti udah nungguin aku, sekali lagi makasih banyak yah." ucap Iren kembali tanpa menoleh kebelakang lagi. Padahal Rudi masih menatapnya hingga masuk ke dalam rumah.
***
__ADS_1