Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
SJC2- bag. 2


__ADS_3

"Pagi, Tuan!" sapa Agnes


Satria tidak menjawab sapaan sekretarisnya itu.


"Huh, sombong banget!"


"Kamu temani saya rapat dengan klien hari ini!" perintah Satria.


"Tapi biasanya Tuan dengan Pak Handoko," jawab Agnes.


"Saya maunya sama kamu, jangan membantah!" hardiknya.


"Baik, Tuan!"


"Siapkan berkas-berkasnya, saya tidak mau ada kesalahan," perintahnya lagi.


*


"Tuan, apakah kita akan rapat dengan perusahaan HK Group?" tanya Agnes.


"Apa kamu belum membaca berkas-berkas itu?"


"Belum, Tuan!"


"Makanya dibaca!" sentak Satria.


"Iya, maaf!" Agnes menunjukkan wajah salahnya.


Sesampainya di perusahaan HK Group, Agnes berjalan dibelakang Satria.


"Silahkan, Tuan!" sekretaris HK Group mempersilakan Satria masuk ke dalam ruangan rapat.


"Apa kabar, Agnes?" tanya Reno. Pria itu bukannya menyapa Satria malah sekretarisnya.


"Baik, Tuan. Bagaimana kabar Rania?" tanyanya.


"Dia sehat dan makin pintar," jawab Reno.


"Saya senang mendengarnya," ucap Agnes.


"Eheem... apa kita bisa mulai rapatnya?" tanya Satria.


"Iya, Satria. Mari kita mulai rapatnya," jawab Reno.


*


"Sepertinya kau kenal lama dengan Kak Reno," ucap Satria sambil mengemudikan mobilnya.


"Kami kenal saat perusahaan Mayang bekerja sama," jelas Agnes.


"Oh, aku kira kau mencoba menggaetnya," sindirnya.


"Maksudnya anda apa?" Agnes menoleh kesamping kanannya dengan tatapan tidak suka.


"Ya, kemarin itu kamu mau ikutan menjebak Kak Sarah karena mengincar suaminya 'kan?" tanya Satria sinis.


"Tuan, itu masa lalu. Hubungan saya dan Nona Sarah juga baik-baik saja, tidak ada yang dimasalahkan. Kenapa anda yang sewot? Seakan-akan paling tersakiti," ungkap Agnes.


"Tapi asal kau tahu, karena itu aku hampir saja berhenti kuliah," ucap Satria.


"Oke, saya minta maaf!" ucap Agnes. "Apa anda sudah puas?" Ia segera membuang wajahnya.


Satria pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


"Tuan, apa anda sudah gila?" tanya Agnes.


Satria hanya diam tak menghiraukan ketakutan wanita disampingnya itu.


"Tuan, ini cukup berbahaya! Jalanan licin, bisa tidak kurangi kecepatannya!" Agnes terus mengomeli Satria.


"Kau takut?" tanya Satria tetap fokus melihat jalan.


"Jangan ajak saya dalam kegilaan anda!" ucap Agnes mulai berteriak.


Bukannya mengurangi kecepatan, tapi Satria tetap melajukan kendaraannya dengan kencang.


"Cukup, Tuan!" teriak Agnes.


"Bukankah kau senang balapan, Agnes?"


"Tuan, tolong hentikan!" perintah Agnes dengan lantang.


Satria pun menghentikan laju kendaraannya secara mendadak. Beruntung, Agnes menggunakan tali sabuk pengaman hingga ia tidak tercampak.


"Saya turun di sini saja," ucapnya.


"Silahkan," jawab Satria santai.


Agnes pun turun, ia membanting pintu mobil Satria dengan kasar.


Bukannya marah, Satria malah menaiki sudut bibirnya dan tersenyum senang membuat Agnes kesal.


"Dasar, pria aneh!" gerutu Agnes. Ia melihat cuaca masih mendung walaupun jalanan tadi sempat diguyur hujan.


...****************...

__ADS_1


"Mana laporan yang tadi malam saya minta?" Satria menengadahkan tangan tanpa melihat sekretarisnya itu.


"Maaf, Tuan. Belum siap," jawabnya.


"Kamu bisa tidak bekerja dengan baik?"


"Semalam saya kurang sehat, Tuan."


"Aku tidak peduli, kerjakan sekarang setelah itu antar keruangan. Satu lagi buatkan kopi untukku," perintah Satria.


Agnes pun berjalan ke pantry dan membuatkan kopi pesanan Satria. Ia pun membawa secangkir kopi ke dalam ruangan atasannya itu dengan tersenyum ia meletakannya di atas meja kerja.


"Tunggu!" panggil Satria saat Agnes akan membuka pintu.


"Ada apa lagi, Tuan?" Agnes membalikkan tubuhnya.


"Tolong kamu bersihkan ruangan saya ini," ucap Satria.


"Bukankah tadi OB sudah membersihkannya," ujar Agnes.


"Tidak ada bantahan," ucap Satria dingin.


"Tuan, saya ingin mengerjakan laporan yang anda minta," ujar Agnes.


"Itu nanti bisa, sekarang kamu bersihkan ruangan saya!" titahnya.


Agnes melangkah malas mengambil peralatan kebersihan. "Tugasku sebenarnya apa?" batinnya bertanya.


Satria mengawasi Agnes menyapu dan mengelap barang-barang yang ada di ruangan kerjanya. Pria itu sengaja merobek kertas menjadi potongan kecil-kecil lalu ditaburkannya di lantai.


"Ini belum bersih," ucap Satria memerintah. Agnes pun terpaksa mengikuti perintah atasannya.


Selain itu, ia sengaja menumpahkan air putih ke lantai.


"Ini juga," jari Satria menunjuk arah genangan air di lantai.


Dengan wajah cemberut, Agnes mengelap lantai.


"Kalau kerja itu harus tersenyum," ledek Satria.


Agnes malas menunjukkan wajah yang tersenyum.


"Apa masih lama kau membersihkan ruangan ini?" Satria sengaja bertanya untuk memancing amarah sekretarisnya itu.


"Bagaimana mau cepat selesai, kalau anda sendiri yang menambah pekerjaan saya!" protes Agnes.


"Kenapa kau marah?" tanya Satria santai.


Kepala Agnes terasa pusing, pandangannya gelap. Tanpa ia sadari tubuhnya ambruk.


"Kenapa dia pingsan?" Satria mulai panik. Ia mengangkat tubuh Agnes dan membaringkannya di sofa


"Kalau ketahuan aku menyuruhnya membersihkan ruangan ini, bisa-bisa Papa bakalan marah," batinnya.


Satria menepuk pelan pipi Agnes, namun wanita itu belum juga sadar.


Ia pun duduk disampingnya, ia mengangkat kepala Agnes dan memangkunya.


"Agnes, ayo dong bangun!" Satria berulang kali menepuk pipi wanita itu.


Suara ketukan pintu terdengar, menambah kepanikan Satria. Ia pun hanya bisa mondar-mandir.


Suara ketukan pintu semakin kuat, Satria segera membukakan pintu.


"Papa!" ucapnya terkejut.


"Kenapa kau terkejut begitu?" Setya masuk ke dalam ruangan, namun matanya tertuju pada seorang wanita yang tergeletak di sofa.


"Hem.. tidak ada, Pa!"


Setya melangkah melihat wanita yang ada di sofa. "Agnes!"


"Pa, aku bisa jelaskan!" Satria tambah panik.


"Kenapa dia bisa ada di ruangan mu dalam keadaan pingsan?" cecar Setya.


"Tadi dia ke ruangan ku tiba-tiba saja terjatuh dan tak sadarkan diri," ucap Satria berbohong.


"Kenapa kancing bajunya terlepas? Apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Setya dengan tatapan marah.


"Papa, lama sekali...." Sarah tiba-tiba muncul. "Ada apa ini?" tanyanya. Ia melihat Agnes di sofa. "Kenapa dia?" lanjutnya bertanya.


"Tanyakan kepadanya?" Setya menunjuk putranya.


"Dia pingsan," jawab Satria.


"Kamu hanya membiarkan begitu, cepat panggil dokter!" perintah Sarah.


"Iya, Kak." Jawab Satria cepat. Ia menelepon dokter pribadi keluarga.


Sarah mendekati Agnes yang belum sadarkan diri, ia memegang tubuhnya yang panas. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan, Satria?"


"A..aku tidak melakukan apapun, Kak!" ucapnya gugup.


"Bagaimana mungkin dia pingsan di ruangan mu?" tanya Setya.

__ADS_1


"Satria benar, Pa." Ucapnya berkelit.


"Jika berbohong, kau harus menikahinya!" ancam Setya.


"Loh, kenapa harus menikahinya? Kami tidak melakukan apa-apa," protes Satria.


"Papa akan memeriksa CCTV," ucap Setya.


Sarah masih mengusap rambut Agnes dengan lembut, ia berusaha mengompres kepalanya dengan handuk kecil basah.


"Kak Sarah, kenapa begitu perhatian dengan dia? Padahal wanita itu pernah jahat kepadanya," batin Satria.


Sebelum Dokter datang, Agnes mengerjapkan matanya. Ia segera beranjak bangun saat melihat wajah Sarah dan Setya.


"Maafkan saya, Tuan, Nona!" ia berdiri menundukkan kepalanya.


"Hei, jangan berdiri. Kamu duduk kembali, dokter sebentar lagi datang," ucap Sarah.


"Saya tidak apa-apa, Nona." Agnes berusaha menolak.


"Lihatlah, Pa. Dia tidak apa-apa, biarkan dia melanjutkan pekerjaannya," sahut Satria.


"Dokter akan memeriksa kondisi kesehatanmu," ucap Setya pada Agnes.


Dokter pun datang, karyawan kantor mulai panik saat mendengar Agnes pingsan di ruangan Satria.


"Siapa yang sakit?" tanya Dokter pada semuanya.


"Dia, Dok!" tunjuk Sarah ke arah Agnes.


"Mari, Nona. Saya periksa," ucap Dokter. "Apa keluhan anda?" tanyanya.


"Sebelum berangkat kerja, kepala saya sedikit pusing."


"Apa tadi pagi sudah sarapan?"


Agnes menggeleng. "Belum sempat, Dok. Tadi terburu-buru karena sudah terlambat," ujarnya.


"Sebaiknya anda mengajukan cuti," usul Dokter.


"Kenapa harus cuti, Dok?" tanya Satria.


"Nona Agnes butuh istirahat, Tuan. Saya rasa pekerjaannya membuat ia kelelahan dan drop seperti ini," jelas Dokter.


Setya menatap tajam putranya itu dan berjalan mendekatinya. "Papa, perlu bicara padamu!"


"Saya akan menuliskan resep untuk anda," ucap Dokter. Pria tua itu pun memberikan selembar kertas kepada Agnes.


"Terima kasih, Dok!" ucap Agnes.


Dokter pun tersenyum lalu ia pamit kepada semuanya ada di ruangan Satria.


"Biar sopir perusahaan yang mengantarkan kamu pulang," tawar Sarah.


"Tidak, Nona. Saya bawa mobil sendiri," ucap Agnes.


"Kamu masih lemah begini, biar di antar saja." Sarah pun menyuruh Satria menelepon sopir untuk mengantarkan Agnes pulang.


Satria pun mengiyakan.


"Kamu boleh masuk, jika benar-benar sehat!" ucap Setya.


"Iya, Tuan. Terima kasih," ucapnya.


Agnes pun melangkah ke luar ruangan menuju parkiran kantor.


"Kenapa dia sampai pingsan?" Tatapan Setya mengarah Satria.


"Aku sudah bilang, Pa. Tidak tahu," jawabnya.


"Kalau tidak tahu, kenapa Dokter sampai menyuruhnya mengajukan cuti?"


"I..itu mungkin saja dia di rumah begadang atau apalah. Aku mana tahu, Pa." Satria mulai berkelit. Padahal selama menjadi sekretarisnya, wanita itu selalu mengerjai semua. Dia hanya santai terkadang keluar bersama Kesya saat jam kantor.


Setya melihat monitor CCTV yang ada di ruangan Satria.


"Kenapa dia membawa peralatan kebersihan ke ruangan mu?" tanya Setya.


"Itu karena ruangan ku kotor," jawabnya gugup.


"Itu bukan tugasnya, kenapa menyuruhnya?" tanya Sarah.


Satria mulai terpojok dan menunduk. "Maaf, Pa!"


Setya mengerutkan keningnya.


"Aku yang menyuruhnya melakukan semua pekerjaan kantor dan membersihkan ruangan ini," Satria akhirnya mengaku.


"Keterlaluan, kamu!" hardik Setya.


"Pa, aku minta maaf!" ucap Satria mengenggam tangan Setya.


"Setelah dia sehat, Papa akan memindahkannya kembali ke kantor Mayang," ancam Setya. "Kamu, akan bekerja tanpa sekretaris," lanjutnya lagi.


"Pa, jangan. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," rengek Satria.

__ADS_1


"Semua tergantung Agnes, apa dia menolak dipindahkan atau tidak," ucap Setya meninggalkan ruangan anaknya.


"Kamu harus minta maaf pada Agnes," ujar Sarah lalu ia menyusul papanya keluar.


__ADS_2