Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
SJC2-bag. 7


__ADS_3

"Agnes!"


"Eh, iya Nona."


"Apa kamu bersedia?" tanya Sarah.


"Saya dan Satria harus bicara terlebih dahulu," jawab Agnes.


"Kamu mau dipecat atau rumah yang sekarang kamu tempati kami ambil alih?" ancam Tio.


"Ambil alih, itu rumah Oma saya," ucap Agnes.


"Saya tahu, tapi Oma kamu memiliki utang di perusahaan kami," ungkap Tio.


"Bagaimana mungkin Oma bisa memiliki utang dengan Tuan?"


"Mayang yang menawarkannya," jawab Tio.


"Kenapa dia tak memberi tahu saya?"


Tio menaikkan kedua bahunya.


"Kabarin kedua orang tuamu, lusa kami akan datang menemui mereka," ucap Sarah.


"Baik, Nona." Agnes bangkit dari kursinya. "Kalau begitu saya permisi," pamitnya.


Setelah Agnes keluar dari ruangan, Sarah tersenyum pada suaminya.


"Ternyata, kamu punya ide yang cemerlang!" puji Tio.


"Siapa dulu istri Tio Mahendraya," ucap Sarah bangga.


Tio mendekap tubuh istrinya dan mencium pipinya.


"Mas, ini kantor!" Sarah mendorong pelan tubuh suaminya.


"Iya, aku tahu. Ingin cepat pulang," ucap Tio genit.


"Aku mau pulang, anak-anak menunggu di rumah," Sarah bangkit dari duduknya namun tangannya ditarik dan terjatuh di pangkuan suaminya.

__ADS_1


"Biarkan begini, jika di rumah mereka selalu mengganggu kita," Tio mengecup lembut bibir istrinya.


Sarah mendorong pelan tubuh Tio dan segera berdiri. "Aku pamit pulang, Mas!"


"Iya, sayang. Hati-hati!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tanpa sepengetahuan Satria, mereka melamar Agnes. Pertemuan mereka dilakukan disebuah hotel mewah dan tertutup. Hanya keluarga inti yang menghadirinya.


Tanggal pernikahan telah ditentukan dan persiapan acara akan diambil alih oleh keluarga besar Satria. Agnes hanya tinggal duduk diam dan mengikuti perintah saja.


"Bagaimana kalau Satria marah padaku, Nona?" tanyanya pada Sarah.


"Dia takkan melakukan itu, percaya padaku."


"Bagaimana dengan Kesya?"


"Wanita itu biar menjadi urusan kami," jawabnya tersenyum. "Oh, ya. Minggu depan acara pernikahan Seno dan Tari, jangan lupa datang," ucapnya.


"Baik, Nona."


"Hah!"


"Kalau begitu, saya permisi!" Sarah berjalan menuju mobil suaminya.


...----------------...


Seminggu kemudian...


Hari pernikahan Seno dan Tari dilaksanakan, keduanya juga dijodohkan. Awalnya memang menolak perjodohan ini, lama kelamaan timbul benih cinta dalam hati mereka.


Seno dan Tari selalu ditempatkan bersama. Di mana pun pria itu dipindahkan, maka sosok adik kandung Tio akan selalu mengikutinya.


Apalagi, Tari memang memiliki rasa dengan Seno. Maka ketika dijodohkan tidak sepenuhnya ia menolaknya.


Tari berjalan dengan anggun menuju panggung pelaminan, sesosok pria dengan gagah menyambutnya tersenyum. Mantan ajudan kakak kandungnya itu, telah membuat ia jatuh hati.


Seno mengulurkan tangannya, membantu sang istri menaiki panggung. "Kau sangat cantik!" pujinya.

__ADS_1


"Terima kasih," jawabnya.


Mereka membacakan ikrar janji dan menandatangani buku bukti pernikahan. Cincin yang tersemat di jemari Tari, ia angkat dan ditunjukkan pada khalayak ramai.


Semua orang mengabadikan momen pernikahan mereka melalui gawai masing-masing. Keluarga besar pun berkumpul mengambil foto bersama.


"Ayo, ikut kami!" Sarah menarik tangan Agnes.


"Tidak, Nona!"


"Kamu sekarang bagian keluarga kami," ucap Sarah.


Akhirnya Agnes pun menerima ajakan Sarah untuk foto bersama. Posisi ia berdiri paling kanan ujung, dia sedikit kikuk harus melakukan sesi pemotretan.


Semua tertawa dan tersenyum, saat fotografer mengarahkan mereka. "Tuan, yang paling pinggir sebelah kanan. Tolong, rapatkan tubuhnya," perintahnya.


Agnes segera melihat siapa yang di maksud fotografer, pria itu tersenyum manis padanya. "Hai!"


"Satria!" gumamnya.


"Semuanya, mata kemari!" fotografer memberikan aba-aba dan semua tersenyum. "Oke, bagus!" ia mengacungkan jempolnya.


Agnes tak percaya jika Satria akan pulang dan menghadiri acara pernikahan Seno karena Sarah mengatakan kalau pria itu takkan datang.


"Kau di sini juga?"


"Mereka keluargaku juga, tentunya ku datang. Apa lagi kau juga hadir," jawabnya tersenyum.


"Jadi, kau sengaja pulang hanya untuk menemui ku?"


"Ih, perasaan. Siapa pula yang ingin bertemu denganmu?"


"Kau bilang tadi," jawabnya.


"Oh, itu. Aku memang rindu denganmu!"


"Benarkah?"


"Serius."

__ADS_1


__ADS_2