Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
BAB 1


__ADS_3

Hari itu adalah hari yang sangat dingin, angin berhembus terasa sangat dingin menusuk hingga ke tulang yang berselimut kulit. Iren terbangunkan oleh alarmnya yang setiap pagi membangunkannya sebagai pertanda bahwa telah subuh dan waktunya Iren untuk sholat.


Iren kemudian bersiap-siap untuk melaksanakan sholat subuh. Kemudian Iren duduk sebentar di teras rumahnya untuk menghirup udara yang segar karna belum bercampur dengan polusi kendaraan sebelum dia bersiap ke sekolah.


Iren menarik nafas berulang kali sambil memejamkan matanya karena merasa sangat tenang dengan udara yang berhembus di pagi itu, tanpa ia sadari ternyata ibunya sudah ada di sampingnya dan memperhatikan ia sejak tadi.


“Anak ibu sedang apa?,” Ucap Ibu Nadia sambil memegang kedua bahu Iren


“ Ya Allah Bu.. ngagetin aku aja,” kata Iren sambil memegang tangan ibunya.


“ Ibu memperhatikan kamu sangat menikmati udara di pagi ini nak.. sana gih siap-siap sekolah, sekarang sudah jam 6 nanti kamu telat,” ucap Ibu Nadia


“ Ibu kenapa enggak bilang dari tadi.. duh hari ini tuh guru aku galak banget bu,” ujar Iren sambil berlari mengambil handuk di lemari.


Iren pun berlari ke kamar mandi karena takut terlambat, hari ini gurunya tidak menerima alasan terlambat karena akan membagi kelompok di kelas, dimana itu menjadi kelompok untuk mengerjakan tugas akhir untuk kelulusan nanti.


Setelah mandi dan berpakaian hendak ke sekolah, Iren pun berjalan keluar rumah tanpa izin kepada ibunya.


“ Iren.. kamu tidak sarapan dulu nak?,” Ucap Ibu memanggil Iren


“ Enggak bu.. sudah setengah 7, nanti iren makan di kantin sekolah saja. Iren takut terlambat bu, Iren berangkat yah bu.. Assalamualaikum,” kata Iren menghampiri ibunya dan mencium tangannya.


“ Waalaikumsalam.. hati-hati nak, pelan-pelan saja bawa motornya,” Ucap Ibu.


Iren mengendarai motor sendiri ke sekolah, kalau dia naik angkot pasti dia terlambat karena angkot biasanya menunggu penumpang penuh dulu baru jalan. Sedangkan sudah hampir jam 7 pagi. Jarak rumah Iren ke sekolahnya kurang lebih 4 km.


***

__ADS_1


Sesampainya di sekolah, jam sudah menunjukkan pukul 07.10 pagi, benar saja gurunya yang super tegas itu sudah ada di kelas. Hal ini menandakan bahwa Iren terlambat 10 menit. Sedikit cerita tentang gurunya, namanya adalah Pak Erlan. Dia adalah guru ekonomi yang sangat ditakuti oleh murid-murid karena tidak menerima alasan apapun perihal TERLAMBAT.


Iren yang tahu dirinya terlambat tetap memberanikan dirinya untuk masuk. Ia mengetuk pintu kelasnya.


“Assalamualaikum pak, maaf saya terlambat,” Ucap Iren dengan suara pelan.


Pak Erlan menatap Iren dengan tatapan yang sangat tajam, Iren hanya tertunduk tak berani menatap Pak Erlan.


“Kamu memangnya siswa baru disini? Kamu tidak tahu kalau saya sangat tidak menerima alasan apapun. Kamu harusnya sudah tahu kan? Kamu sangat terlambat!,” Ucap Pak Erlan bersuara lantang


Suasana kelas hening.. Iren tidak menjawab pak Erlan, dia berdiri di depan pintu kelas.


“Kamu masuk! Ingat yah ini terakhir kali kamu terlambat,” ujar Pak Erlan


“Iya Pak,” jawab Iren singkat.


“Memangnya Pak Erlan masuknya jam berapa sih?,” ucap Iren pada Arindi sambil berbisik.


“Jam 6.50 ren, tadi pas Pak Erlan jalan ke kelas, aku juga baru nyampai sekolah. Aku lari ren karna takut Pak Erlan masuk duluan,” kata Arindi


“buseeettt dehhh.. Pak Erlan itu bukan tepat waktu lagi, tapi sebelum waktu banget heheh,” kata Iren, tertawa kecil.


Pak Erlan kemudian membagi mereka dalam beberapa kelompok, Iren ditunjuk menjadi ketua kelompok yang anggotanya adalah sahabat-sahabat dia sendiri yakni Arindi, Melda, Widi dan Arsya. Mereka diberi tugas untuk melakukan penelitian pada tempat usaha menengah. Mereka pun mengatur mejanya supaya berbentuk meja diskusi karena sudah diperintahkan oleh Pak Erlan untuk duduk bersama teman kelompok masing-masing.


Mereka kemudian berdiskusi dimana akan melakukan penelitian.


“Aku sih punya teman yang kakaknya tuh punya cafe gitu.. menurut kalian gimana?” ucap Widi kepada teman-temannya.

__ADS_1


“Dia setuju enggak kalau kita penelitian di tempatnya?” tanya Iren.


“Gampang sih, aku tinggal telepon dia kalau kalian mau,” jawab Widi.


“Aku sih mau aja,” ucap Arsya.


“Oke deh kalau gitu. Kamu telepon aja teman kamu kalau dia bolehin, pulang sekolah kita langsung kesana,” ucap Iren pada Widi.


“Iya aku sih kalau ketua udah mau, yah ikut aja kita,” ucap Arindi, menatap Iren sambil meledek.


“Aku enggak punya pulsa tapi,” ucap Widi cengengesan.


“Yaudah pakai ponsel aku aja,” Jawab Iren, memberikan ponselnya pada Widi.


“Kamu Loudspeaker aja biar kita semua dengar Di,” kata Melda.


Widi mengambil ponsel Iren dan mengetik nomor telfon temannya...


“Halo Rudi, ini Widi. Aku enggak punya pulsa buat nelepon kamu jadi aku pinjam ponsel temanku,” Ujar Rudi ditelepon.


“Oh iya, gimana bro?,” Tanya Rudi.


“Yang aku bilang ke kamu itu loh, aku dikasih tugas akhir sama guru ekonomi aku buat penelitian di tempat usaha gitu, gimana? Aku boleh enggak penelitian di cafe kakakmu?,” Tanya Widi panjang lebar.


“Iya bro aku udah bilang sama kakak aku, boleh sih katanya. Kamu datang aja ke cafe, aku juga ada disini kok,” ucap Rudi setuju.


“Wahh.. makasih banget nih bro. pulang sekolah aku ke cafe kakakmu yah,” ucap Widi

__ADS_1


“Iya siap bro santai aja..” ucap Rudi, mematikan telepon. Tutt..tuuutt..


__ADS_2