
"Tujuan kau ke sini untuk apa?"
"Berdua dengan kamu," jawab Satria asal. Ia berjalan memasuki rumah Agnes.
"Ini sudah malam, pulanglah!" usirnya.
"Aku akan menginap di sini, karena lusa ku pergi," ucap Satria.
"Hei, apa kau tidak punya rumah hingga harus menginap di rumahku?" protesnya.
"Aku punya, bahkan membelikan kamu rumah ku juga mampu," jawabnya.
Agnes menarik tangan Satria dan mendorongnya keluar pagar. "Aku tidak menerima tamu yang bukan keluarga atau saudara."
"Anggap saja kita keluarga," ucap Satria.
"Aku tidak mau," tolak Agnes.
"Oh, kalau begitu menikahlah denganku!"
"Kau sudah mengantuk, pulang dan tidurlah yang cukup agar perjalananmu tidak terganggu."
"Apa kau tidak merindukan aku?"
"Tidak."
"Hei, kau yakin. Aku cukup lama di sana," ucapnya.
"Apa kau sampai tua di sana?"
"Tidak juga," jawabnya.
"Ya, sudah sana."
"Apa kau tidak mengucapkan kata-kata perpisahan padaku?"
"Tuan Satria, kau di sana cuma dua bulan saja!" ceplosnya.
"Hei, dari mana kau tahu?"
"Eh..aku ..itu.."
"Kau sudah tahu dari Kak Wisnu, kan?"
"Tidak juga," jawabnya.
"Aku tidak menyangka kau akan mencari tahu tentang diriku."
"Satria, aku sudah mengantuk. Kau pulanglah!"Agnes mendorong tubuh Satria menuju mobilnya.
__ADS_1
"Iya, aku akan pulang. Setelah dari sana ku akan melamarmu!"
"Kekasihmu, bagaimana?"
"Sebentar lagi dia juga akan menyerah," jawab Satria.
"Terserah kau saja," ucap Agnes malas.
"Aku akan melamarmu dan kita menikah," Satria masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin dan meninggalkan rumah Agnes.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satria berangkat ke kota S untuk mengganti sementara Seno yang sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Tari.
Ia menuju kota itu bersama Wisnu, sementara Agnes bekerja seperti biasa sebagai sekretaris. Kini yang menggantikan posisi Satria adalah Tio.
"Agnes, silahkan ke ruangan saya!"
"Baik, Tuan!"
Agnes mengikuti Tio ke dalam ruangan yang beberapa bulan terakhir ditempati adik iparnya.
"Sebentar lagi istriku akan ke sini," ucap Tio.
"Ada apa Kak Sarah ke sini?" batinnya bertanya.
"Pagi juga, Nona!" Agnes berdiri.
"Duduklah!" titahnya pada sekretaris adiknya.
"Satria dipindahkan sementara, jadi kepemimpinannya saya yang pegang," ujar Tio. "Jadi, bekerja samalah dengan baik," lanjutnya lagi.
"Saya mau tanya kepadamu?" tanya Sarah.
"Tanya apa, Nona?"
"Selama bekerja dengan kamu, bagaimana dia?"
"Hmm.."
"Katakan saja sejujurnya," ucap Sarah.
"Dia pemimpin yang baik dan bijaksana," jawab Agnes berbohong.
"Saya tahu kamu berbohong," ucap Sarah.
"Hah!"
"Pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Bagaimana kamu tidak tahu?" cecar Sarah lagi.
__ADS_1
"Kami memindahkan Satria ke sana bukan karena Seno akan menikah tapi untuk melatihnya menjadi pemimpin yang bertanggung jawab," ungkap Tio.
"Dan menjauhkan dirinya dari kekasihnya itu," sambung Sarah.
Agnes hanya tertunduk tak bisa menjawab apa-apa.
"Apa kau punya kekasih?" tanya Sarah lagi.
"Hah!"
"Kau dengar apa yang ditanyakan istriku?" kali ini Tio yang bertanya.
"Dengar, Tuan!" jawabnya terbata. "Saya tidak memiliki kekasih," jawabnya lagi.
"Bagus kalau begitu," ucap Sarah.
"Kami ingin menjodohkan kamu dengan Satria," ujar Tio.
"Apa?"
"Iya, Agnes. Kalian sudah cukup lama mengenal," jawab Sarah.
"Tapi, Tuan Satria sudah memiliki kekasihnya."
"Iya, kami tahu. Tapi kamu tidak menolak perjodohan ini, kan?" cecar Tio lagi.
"Sebelum keberangkatan Satria ke Kota S, kami sempat mengobrol. Dia mengatakan setelah pulang dari sana ia akan melamar seseorang, tapi saya tidak tahu siapa wanita itu?" jelas Sarah.
"Haruskah aku bilang wanita itu diriku!" batin Agnes.
"Mungkin saja dia akan melamar kekasihnya, Nona!"
"Satria tidak mungkin mau menikah dengan wanita yang Papa Setya tak merestuinya," jelas Sarah lagi.
"Tuan Satria tidak menyukai saya?"
"Kamu pikir dulu kami menikah saling suka?" Sarah melirik suaminya.
"Sayang, kenapa bahas masa lalu kita?" protes Tio.
"Kenapa Nona Sarah jadi pemaksa seperti ini?" batin Agnes lagi.
"Di mana alamat kamu? Kami ingin bertemu dengan orang tuamu?" tanya Sarah.
"Saya belum mengatakan iya, Nona."
"Kamu pikir saya tidak tahu, Satria semalam ke mana. Ketika kamu sakit, dia sampai menginap di rumahmu 'kan?" ungkap Sarah.
"Wah, kenapa bisa tahu semua?" Agnes membatin.
__ADS_1