Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
Reno mulai curiga


__ADS_3

"Aku tak menyangka kalau kedua orang tua kita saling mengenal,"ucap Rayyan.


"Aku pun juga tak menyangka kalau kamu pria yang dijodohkan untukku,"ucap Arina tersenyum.


"Lamaran ku kemarin tak sia-sia,kamu menerima ku,"ujar Rayyan menatap Arina.


Arina terkekeh lalu berkata,"Harusnya kemarin aku tak perlu pusing dan galau memikirkan ini semua, ternyata pilihannya orang yang sama."


"Kamu galau? Apa kamu sebenarnya memilih aku?"tanyanya penasaran.


Arina tergelak lalu berkata,"Tidak juga!"


"Kamu tuh ya,kalau suka bilang suka,"ujar Rayyan mencubit pipi Arina.


Arina tertawa dan berkata,"Hentikan ,Ray. Sakit tahu?"


Rayyan melepaskan cubitannya,"Kita cari makanan,aku lapar!"ajaknya sembari memegang perut.


Arina menggangukkan kepalanya dan tersenyum. Mereka pun meninggalkan taman tempat pertama kali bertemu dengan bergandengan tangan mencari makanan di sore hari.


Sementara itu,kedua orang tua Arina dan Mama Hanum menikmati sore di rumahnya. Hanum sengaja mengundang temannya itu mengobrol sekaligus membicarakan pernikahan Arina dan Rayyan.


"Saya mau pernikahan mereka dilaksanakan bulan depan,"ucap Hanum.


"Kami ikut inginnya mereka saja,"ujar Nana.


"Lebih cepat akan semakin baik,saya menginginkan cucu,"ucap Hanum tersenyum.


"Kami pun juga,kita serahkan semua pada mereka!" ujar Ari.


...****************...


Pagi ini Rayyan dan Arina disibukkan dengan pekerjaan masing-masing hingga persiapan pernikahan yang diinginkan Hanum bulan depan semua diatur kedua orang tuanya. Mereka berdua hanya tinggal terima beres.


Karena sibuk dengan pekerjaan, komunikasi di antara keduanya sempat renggang. Rayyan harus pergi ke luar kota selama beberapa hari.


"Halo,Ray. Mama Hanum menyuruh kita mencoba pakaian yang akan digunakan pada pernikahan kita,"ucap Arina menelepon.


"Aku tak bisa ,hari ini tidak jadi pulang. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan,"jelasnya.


"Bagaimana 'sih?Kamu niat tidak menikah denganku,"hardik Arina.


"Sayang,aku niat menikah denganmu. Tapi ini tidak bisa ditinggalkan,"Rayyan berusaha menjelaskan.


"Selesaikan pekerjaanmu, biar aku saja ke sana!"ucapnya kesal lalu menutup teleponnya.


Baru saja menutup telepon Rayyan, Mama Hanum kembali menelepon.


"Halo,Nak. Mama lupa beri tahu kamu, Rayyan tidak bisa menemanimu ke butik ,"ucapnya.


"Ray sudah memberitahukannya,"jawab Arina malas.


"Oh,ya sudah. Sehabis dari sana ke rumah Mama,kamu harus pilih desain undangan,"ucap Hanum.


"Baik,Ma. Arina akan ke sana!"ujarnya lalu menutup teleponnya.


Arina pun melaju kendaraannya ke butik lalu ia ke rumah Hanum pada malam harinya karena semua ia lakukan sehabis pulang bekerja.


Hanum memberikan beberapa contoh undangan dan bertanya,"Kamu pilih yang mana?"


"Arina, bingung. Cuma desain cantik,"ujarnya.

__ADS_1


"Rayyan suka warna abu-abu dan Mama suka yang hijau tapi semua diserahkan kepadamu. Kamu yang tentukan,"ucap Hanum.


"Warna merah saja,Ma!"ucapnya.


Setelah memilih , Arina pamit pulang. Ia mengendarai mobilnya menuju apartemennya. Namun, di tengah perjalanan mobilnya mogok.Ia pun keluar melihat kondisi kendaraannya.


"Bagaimana ini?"gumamnya."Rayyan tak di sini, Ayah juga lagi pulang kampung,"lanjutnya.


Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan ia berdiri, seorang pria keluar dari kendaraan tersebut.


"Arina!"panggilnya.


Ia menoleh ke arah suara dan seketika jantungnya berhenti berdetak sesaat melihat wajah pria itu,"Reno!"ucapnya gugup.


"Mobil kamu kenapa?"


"Hm.. itu,aku gak tahu. Mobilku tiba-tiba mogok,"ucap Arina grogi.


"Biar aku lihat ,"Reno mengecek mobil Arina.


"Bagaimana?"tanyanya.


"Harus dibawa ke bengkel,"jawab Reno.


"Di mana cari bengkel malam begini,"ucap Arina.


"Aku telepon orang bengkel,besok pagi kamu ambil. Bagaimana?"tanya Reno kembali.


"Ya, sudah!"


Reno pun menghubungi bengkel kenalannya,tak lama mobil derek membawa mobil Arina.


"Aku naik taksi saja,"tolak Arina.


"Ini sudah malam,"ucap Reno melihat arlojinya jarum jam menunjukkan pukul 9 malam.


Arina mengangguk,ia menumpang mobil Reno menuju rumahnya. Di mobil Arina hanya diam.


"Rayyan calon suamimu?"tanya Reno membuka percakapan.


"Iya,kami akan menikah bulan depan,"ujarnya.


"Rayyan itu temannya Mischa,"ucap Reno.


Arina menoleh dan menatap Reno.


"Kamu serius?"tanyanya.


Reno mengangguk tanda mengiyakan.


"Tapi kenapa Rayyan tak pernah bilang?"batinnya.


"Kamu bingung 'kan?"


"Mungkin itu kebetulan saja mereka berteman,"ucap Arina.


"Semoga saja,"ucap Reno.


"Reno,aku turun di sini saja!"perintahnya.


"Ini masih di depan?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, biar aku jalan saja!"ucap Arina.


"Baiklah!"


"Terima kasih atas bantuannya,"ucap Arina.


"Besok aku antar kamu mengambil mobilnya,"tawar Reno lagi.


"Tidak usah,aku sudah merepotkan kamu. Sekali lagi terima kasih,"ucap Arina turun.


Reno masih melihat Arina dari kejauhan sampai menghilang dari pandangannya. Ia pun kembali ke rumahnya. Mischa juga belum pulang padahal jam menunjukkan pukul 11 malam.


Jarum jam terus bergerak tanda-tanda Mischa pulang pun belum tampak. Reno mulai terlihat gusar. Ia ingin menghubungi istrinya itu tapi gengsi.


Baru saja terlelap, suara derit pintu terbuka. Mischa tampak membuka pintu kamar,ia berjalan pelan agar Reno tak bangun.


"Kamu dari mana?"tanya Reno menghentikan langkahnya.


"A..aku kerja,"jawabnya.


"Kerja apa jam segini baru pulang?"


"Tadi keasyikan mengobrol dengan teman sampai lupa waktu,"ucap jujur Mischa.


Reno bangkit dan menghidupkan lampu kamar ,ia mendekati Mischa yang tampak memundurkan langkahnya.


"Teman yang mana? Rayyan?"tanya Reno.


Mischa menggeleng dengan cepat.


"Jadi ,teman yang mana?"bentaknya.


"Apa urusannya denganmu?"sentak Mischa.


"Aku suamimu!"ucap Reno lantang.


"Itu semua cuma status!"jawab Mischa menekankan kata-katanya.


"Tapi aku berhak bertanya!"


"Kamu tidak ada hak,Reno!"


Reno menarik lengan Mischa dan menatap wajah istrinya,"Aku curiga dengan kamu dan Rayyan, kalian tidak menyembunyikan sesuatu 'kan?"


"Apa dia tahu semua?"tanya Mischa membatin.


"Kenapa diam?"


"Aku dan Rayyan cuma teman biasa tidak lebih,kamu cemburu?"tanya Mischa menantang.


"Aku tidak cemburu, bahkan kau tidur dengan lelaki mana pun aku tidak peduli,"ucap Reno menghempaskan tubuh Mischa ke ranjang kemudian ia berlalu keluar kamar.


Mischa menghapus air matanya yang menetes.


"Bagaimana jika dia tahu kalau Rayyan yang membuat Arina celaka?"gumamnya.


Reno menenangkan diri di kamar tamu. Ia tak habis pikir kenapa bisa semarah ini dengan istrinya. Apalagi ia tahu jika Rayyan dan Mischa berteman. Lalu pria itu tiba-tiba muncul berada di samping Arina.


"Aku yakin Mischa menyembunyikan sesuatu, Arina juga tidak tahu kalau mereka berteman. Padahal ia hadir di acara pernikahanku,"ucapnya lirih.


Sementara itu Arina masih saja belum tertidur,ia terus memantau ponselnya yang sedari tadi ia menunggu pesan atau telepon dari Rayyan.Terakhir mereka saling berkomunikasi tadi siang. Berkali-kali Arina menghubunginya tetap saja tidak aktif.

__ADS_1


__ADS_2