
"Sayang,ayo bangun!"teriak Nana dari arah dapur.
Arina masih tidur dan enggan untuk bangkit. Ia mendengar ibunya memanggil tetapi tidak dihiraukannya.
"Ini anak sulit sekali dibangunkan!"gerutu Nana menggoyangkan tubuh putrinya.
"Ibu,aku masih ngantuk!"gumamnya menggeliatkan tubuhnya.
"Cepat mandi lalu sarapan!"titah Nana.
"Iya,Bu!" ucap Arina dengan malas mengambil handuknya menuju kamar mandi.
Lima belas menit kemudian Nana menarik tangan anaknya itu ke arah meja makan. Nana mulai menyuapinya.
"Ibu,aku bisa makan sendiri!"ucapnya.
"Biar Ibu suap saja,kamu lambat sekali makannya akhir-akhir ini!"omel Nana.
"Memangnya kita mau ke mana sampai terburu-buru begini?"tanyanya.
"Kamu mau di lamar!"ujar Nana.
Arina menyemburkan makanannya dan mengelap bibirnya lalu berucap,"Lamaran?Ibu bilang cuma mau dikenalkan."
"Tidak jadi, lebih baik kamu segera di lamar,"ucap Nana.
"Bu,aku belum kenal dia. Bagaimana mungkin aku menikah dengan orang yang tidak ku kenal?"
"Habis lamaran kalian bisa saling kenal,"celetuk Nana yang terus menyodorkan sendok berisi nasi ke mulut putrinya itu.
"Bu, pelan-pelan dong!"protesnya lembut.
"Kamu 'sih. Tinggal ngunyah aja payah!"omel Nana.
Tak lama kemudian beberapa orang datang,Ari membukakan pintu.
"Bu, pegawai butik dan salon sudah datang,"ucap Ayah Ari menghampiri istrinya.
"Tuh, mereka sudah datang. Cepat habiskan makanannya!"ucap Nana memerintah.
"Iya,Bu!"ucap Arina kesal.
Selesai sarapan Arina bersiap di dandan. Sejam kemudian dirinya telah terlihat cantik. Nana tersenyum melihat penampilan Arina.
"Ayo,kita berangkat!"ajak Ayah.
"Iya,Yah!"sahut Ibu.
Di dalam mobil, Arina hanya diam."Semoga ,pria itu menolak perjodohan ini!"ucapnya membatin.
"Sayang,senyum dong!"ucap Nana.
"Iya,Bu!"jawabnya tersenyum masam.
__ADS_1
Di lain tempat, kediaman Rayyan.Tampak terlihat ramai keluarga.
"Ray, cepat turun! Kita sudah terlambat!"teriak Hanum dari lantai bawah.
"Mama,kenapa teriak-teriak?"tanya Rayyan.
"Kamu lama sekali,liat keluarga yang lain sudah menunggumu!"omel Hanum.
"Mereka ngapain ikut?"tanyanya heran melihat sekitarnya ada 10 orang keluarga besar yang hadir.
"Kami ingin ikut saja!"celetuk Paman Rayyan.
Rayyan menarik lembut tangan Hanum dan berbisik,"Mama kita hanya berkenalan dengan mereka bukan melamar tapi kenapa ramai sekali yang ikut?"
"Mama,sengaja mengundang mereka,"ujar Hanum santai. "Kamu turuti saja mau Mama!"lanjutnya.
Rayyan menghela nafasnya dan memijit pelipisnya.
Sementara itu keluarga Arina tiba di sebuah gedung.
Beberapa keluarga Arina yang lainnya juga turut hadir.
Tampak Tio dan istrinya hadir di acara itu. Pasangan suami istri itu menghampirinya.Sarah tersenyum menyapa Arina.
"Nona dan Tuan di sini juga?"tanyanya mengernyitkan dahinya.
"Iya ,kami di undang untuk menghadiri acara kamu!"jelas Sarah.
"Tapi, saya tidak ada mengundang siapapun,"ucap Arina bingung.
"Benar,kalau tidak di undang kami mana mungkin datang!"celetuk Tio.
Arina duduk di kursi yang telah disediakan setelah menyapa atasannya dan istri, ia tampak anggun dan cantik. Matanya terus melihat ke kanan dan ke kiri,ia penasaran saja dengan sosok calon suaminya.
"Bu,mana mereka?"tanya Arina berbisik pada ibunya .
"Bentar lagi mereka datang,"jawab Nana.
Tak lama kemudian keluarga pihak pria datang, mendengar Ibunya berbicara calon suaminya sudah hadir,ia menundukkan kepalanya dan meremas tangannya.
Rayyan memasuki area gedung ia keheranan melihat banyak orang yang hadir termasuk atasannya Arina beserta istrinya. Hanum tampak tersenyum menyapa Tio.
"Terima kasih,Tuan dan Nyonya telah hadir di acara keluarga kami!"sapanya ramah.
"Saya senang ,kalian mengundang kami,"ucap Tio tersenyum begitu juga dengan istrinya.
Panitia pun memanggil Hanum dan Rayyan mereka di persilahkan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan orang tua dan calon istrinya. Rayyan tampak terkejut melihat dihadapannya kedua orang tua Arina namun wanita itu masih menunduk.
Nana menyenggol bahu Arina dan berbisik,"Naikkan kepalamu ,Nak!"
Arina mendongakkan kepalanya dan menatap lurus ke arah depan, seorang pria yang kemarin melamarnya tersenyum hangat kepadanya.
"Rayyan!"gumamnya.
__ADS_1
Keluarga pria pun menyampaikan maksud dan tujuan mereka hingga akhirnya Arina ditanya apakah ia bersedia menjadi istri dari Rayyan Prananda . Wanita itu menganggukan kepalanya dan berkata bahwa ia menerimanya.
Seulas senyuman manis terpancar di bibir Arina begitu juga dengan Rayyan yang tak hentinya tersenyum.
Acara lamaran pun selesai. Keluarga, kerabat dan rekan kerja memberikan selamat kepada calon pengantin.
"Selamat ya, semoga lancar sampai akad!"ucap Sarah tersenyum.
"Tuan,anda kenal dengan Mamanya Rayyan?"tanya Arina.
"Dia rekan kerja perusahaan kita,masa kamu tidak tahu!"ucapnya.
"Kemarin saya cuti cukup lama,mana saya tahu!"ucap Arina .
"Maaf,saya lupa!"ujar Tio.
"Aku bingung, Mengapa mereka saling kenal sedangkan kita tidak tahu?"tanya Rayyan.
Hanum pun menjelaskan bahwa Nana adalah adik kelasnya dulu satu tingkat di bawahnya.Sedangkan Tio adalah rekan bisnisnya.
"Mama mencari tahu kamu dekat dengan siapa sampai harus pindah ke apartemen dan akhirnya tahu jika Arina adalah sekretaris Tuan Tio, makanya kemarin Mama paksa kamu melamar dia tapi gagal. Akhirnya Mama dan orang tua Arina merencanakan ide kedua yaitu menjodohkan tanpa kalian ketahui,"jelasnya.
"Untung saja aku tidak kabur,"ucap Rayyan membuat lainnya tertawa.
...****************...
Mischa pagi ini berkutat di dapur,di hari libur ini ia sengaja memasak makanan kesukaan Reno. Informasi yang didapatnya semua dari Ibu Marni.Selesai memasak ia mengantarkan makanan ke ruangan kerja Reno, selama menikah suaminya senang menghabiskan waktunya di ruangan itu dan balkon rumah.
"Aku masakan makanan kesukaan kamu,"ujarnya membawa semangkok soto ayam dan meletakkannya di meja tamu dalam ruangan itu.
"Nanti aku akan memakannya,"ucap Reno tanpa melirik istrinya itu.
Mischa malah duduk dan menunggu suaminya bekerja.
"Mengapa masih di sini?"
"Aku mau menemani kamu makan,"jawab Mischa santai.
"Aku tidak perlu ditemani, kamu boleh keluar!"ujar Reno mengusir dengan lembut.
"Apa salahnya seorang istri menemani suaminya makan?"
Reno menutup laptopnya dan berdiri ia berjalan ke meja tamu dan menatap hidangan yang dibuat oleh Mischa.Ia teringat Arina dengan makanan itu lalu tersenyum.
Mischa yang melihatnya merasa senang lalu berkata,"Ini makanan favorit kamu!"
Tanpa menjawab Reno mencicipi kuah soto buatan Mischa,lalu ia melirik istrinya itu kemudian menyeruput kembali kuahnya .Ia pun memakannya dengan lahap.
"Bagaimana dengan rasanya? Apa kamu suka?Aku sengaja telepon Ibu untuk tanyakan ini dan aku juga belajar dari aplikasi,"ucapnya beruntun.
"Kamu bisa lihat sendiri!"sahut Reno ketus menunjuk mangkok yang isinya ludes.
Mischa tersenyum lalu berkata,"Terima kasih ,kamu mau makan masakanku!"
__ADS_1
"Ya!"jawabnya seadanya.
Mischa pun bangkit dan berlalu meninggalkan ruangan kerja suaminya dengan hati riang.