Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
BAB 8


__ADS_3

Iren merasa sangat aneh karena Widi tidak berbicara padanya, tidak seperti biasanya. Iren merasa sedih karena dia dan Widi bersahabat sangat dekat bahkan lebih dekat daripada Arindi. Iren bertanya-tanya apa sebenarnya yang disembunyikan oleh Widi, mengapa dia tidak mau berterus terang padanya. Tidak terasa air matanya menetes dipipinya. Widi yang melihatnya merasa sangat bersalah dan mendekati Iren.


“Kamu kenapa menangis?” Tanya Widi memegang pundak Iren.


“Kamu kenapa sih tiba-tiba berubah gitu? Aku enggak suka kamu yang seperti ini Di. Kamu harus jujur sama aku.” Jawab Iren terisak sambil memegang tangan Widi.


“Aku peduli sama kamu, tolong jangan minta penjelasan sama aku. Dengar apa yang aku bilang ke kamu Ren.” Kata Widi memohon pada Iren sambil menggenggam punggung tangan Iren.


“Aku akan memikirkan semua Di.” kata Iren, mengusap air mata di pipinya.


Widi hanya membalas ucapan Iren dengan senyuman.


Iren berjalan menuju toilet, untuk membasuh matanya yang sembab karena menangis. Dia tidak mau Rudi bertanya kenapa dia menangis. Rudi pun menyusul Iren ke toilet, dia melihat Iren membasuh matanya.


“Kamu kenapa? Kenapa membasuh matamu?” tanya Rudi pada Iren.


“Aku merasa ngantuk saja mas.” jawab Iren meyakinkan Rudi.


“Yasudah, aku antar kamu pulang yah sekarang. biar aku yang bilang sama Widi.” kata Rudi.


“Aku enggak apa-apa mas, enggak enak juga sama teman-teman aku. Waktu itu aku juga pulang duluan kan.” jawab Iren menolak ajakan Rudi.


Rudi mendekat menghampiri Iren, tangannya bersentuhan. “ini lebih indah, lebih berharga daripada benda apa pun di dunia.” batin Iren. Mereka perlahan-lahan saling mendekat. Rudi semakin mendekat sehingga bibirnya menyentuh bibir Iren. “Ciumannya menggetarkan seluruh sel darahku padahal sifat, sikap mas Rudi sama sekali belum kukenal. Ini adalah pengalaman rahasia yang suci sehingga aku juga heran bahwa sekarang ini, setelah perasaanku yang kacau-balau dengan Widi teratasi oleh mas Rudi.” batin Iren.


Ciuman itu ciuman kecil yang tenang, lembut dan cepat karena di sekitar cafe banyak mata yang berkeliaran. Tetapi, tetap saja merupakan pengalaman yang akan selalu teringat dengan getaran indah sepanjang hidup.


Iren meninggalkan Rudi, untuk kembali ke meja kasir.

__ADS_1


"Kamu dari mana aja Ren?" tanya Widi menatap Iren yang tersenyum bahagia.


"Dari toilet Di." jawab Iren singkat.


"Eh kamu pulangnya sama aku aja yah. Ada yang mau aku omongin sama kamu Ren." kata Widi memohon.


"Makasih Di. Tapi, aku pulangnya sama mas Rudi. Nanti dia marah kalau aku nolak diantar pulang sama dia." jawab Iren menolak halus karena merasa tidak enak pada Widi


"Oh gitu? Yasudah deh terserah kamu aja." kata Widi kecewa.


"Ini anak kenapa enggak mau ngerti juga sih? Aku pikir dia bakalan dengar ucapan aku." batinnya merasa kesal.


****


Pukul 9 malam. Mereka bersiap-siap untuk pulang. Arindi dan Melda pulang bersama. Sedangkan Arsya dan Widi memutuskan untuk masih tetap tinggal di cafe untuk menyusun gambar yang diambil selama kegiatan tadi. Rudi yang sejak tadi menunggu Iren, memanggil Iren untuk pulang.


"Iya kalian hati-hati. Aku sama Widi masih tinggal disini mau salin foto-foto tadi ke laptop." kata Arsya.


"Ren.. Kamu pulang sama Mas Rudi kan?" tanya Melda pada Iren.


"Iya Mel." jawab Iren tersipu malu.


"Yasudah kita duluan yah." ucap Arindi.


Iren mengambil tasnya di meja kasir. Dan kembali ke meja dimana Widi dan Arsya menyusun foto hasil dokumentasi mereka.


"Aku juga pulang duluan yah. Kalian semangat kerjanyaa hehe." ucap Iren bersemangat.

__ADS_1


"Siap nyonya Rudi hahaha." jawab Arsya meledek Iren sambil tertawa.


Widi sama sekali tidak merespon Iren. Dia terdiam dan mengepalkan tangannya. Widi terus menahan dirinya agar tidak emosi apalagi sampai mengucapkan hal yang dia rahasiakan dari Iren.


Iren dan Rudi berjalan menuju area parkir sambil berpegangan tangan.


Rudi akhirnya mengantar Iren untuk pulang, tanpa disuruh pun Iren sudah mengerti keinginan Rudi untuk dipeluk sampai tiba di rumah. Di perjalanan mereka mengobrol dan bercanda.


Rudi tidak membawa Iren berjalan-jalan karena dia harus segera pulang untuk menemui ayahnya yang baru saja pulang dari luar kota.


***


CAST PEMERAN LAIN


WIDIAR PRATAMA (WIDI)



ARSYA



ARINDI



MELDA

__ADS_1



__ADS_2