
Siang harinya mereka pulang ke rumah orang tuanya Rayyan. Selain rumahnya besar,Mama Hanum sengaja meminta agar anak semata wayangnya dan menantunya tinggal bersamanya .
"Kalian sudah pulang?"tanya Hanum heran.
Rayyan menghampiri Hanum dan berbisik,"Dia lagi libur!"
Hanum tersenyum dan geleng kepala mendengar bisikan Rayyan.
Arina yang berada di belakang suaminya hanya tersenyum nyengir.
Hanum memerintahkan pelayan rumah untuk membantu Rayyan dan Arina membawa koper mereka ke lantai atas. Pelayan pun membawanya disusul oleh Arina dan Rayyan.
Arina pun menyusun pakaian di samping pakaian suaminya dalam satu lemari.
"Besok kita beli lemari pakaian yang lebih besar,"ujar Rayyan.
"Ini juga sudah cukup,"ucap istrinya.
"Tidak mungkin, ini cukup. Pakaianmu saja baru satu koper ini belum lagi yang ada di apartemen dan belum lagi pakaian calon bayi kita,"ucap Rayyan tanpa henti kemudian mendapatkan tatapan tajam istrinya.
"Belum saja hamil, sudah cerita bayi. Kalau aku belum mendapatkan keturunan, bagaimana?"tanya Arina kesal.
Rayyan jongkok di sebelah istrinya yang masih menyusun pakaian dan berkata sembari tersenyum,"Kita akan terus mencoba sampai dapat!"
"Iyalah, suamiku tercinta!"ucap Arina tersenyum kecut.
"Kita berdamai 'kan?"tanyanya tersenyum penuh semangat.
"Belum!"ucap Arina tegas.
Ketukan pintu menghentikan perdebatan mereka. Pelayan menyampaikan bahwa Hanum menyuruh mereka turun untuk makan siang bersama.
Sepasang suami istri itu pun turun setelah membereskan pakaiannya.
"Ibu,Ayah!"sapa Arina menyalim tangan kedua orang tuanya yang juga hadir . Diikuti oleh Rayyan juga.
"Mama sengaja mengundang sebelum mereka pulang kampung,"ujar Hanum.
"Ayah dan Ibu mau kampung?"tanya Arina sedih.
"Iya,Nak!"jawab Ari.
"Lalu bagaimana dengan apartemen Arina?"tanya Rayyan.
"Kami akan mengembalikannya pada Tuan Tio,"ucap Nana.
"Mengapa?"tanya Rayyan penasaran.
"Tidak ada,cuma perusahaan meminjamkannya pada karyawan,"ucap Arina memotong pembicaraan dan menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Oh, begitu!"ucap Rayyan.
Selesai makan siang bersama, orang tuanya Arina pamit dan mereka berdua kembali masuk ke kamar.
"Aku mau tanya sesuatu padamu,"ucap Rayyan."Apa benar apartemen itu milik perusahaan Tio Mahendraya?"
"Apa kurang jelas penjelasan tadi?"
"Tapi mengapa kamu tidak pernah bilang?"
"Kamu tidak bertanya,"jawab Arina.
"Ayah juga bilang kamu memiliki apartemen pribadi?"tanya Rayyan.
"Iya,tapi sekarang aku sewakan!"
"Mengapa?"
"Banyak sekali pertanyaanmu,"ucap Arina ketus.
"Apa ini ada hubungannya dengan Reno Hadinata Kusuma?"
Arina menatap kesal suaminya dan berkata,"Tolong, jangan ingatkan aku kepadanya?"
__ADS_1
"Maaf!"
"Kamu tidak perlu membahas masa lalu aku,"ucap Arina.
"Itu artinya kamu tidak perlu membahas lagi tentang kecelakaan itu,"ucap Rayyan.
Arina melempar bantal ke arah suaminya dan berucap,"Kamu tuh orang yang paling menyebalkan yang aku kenal!"
Rayyan mengelak dari lemparan bantal istrinya.
"Dan paling kamu rindukan!"sambung Rayyan tersenyum.
"Idiih..ogah!"
Rayyan tergelak melihat istrinya mengerucutkan bibirnya.
"Kamu begitu makin cantik,"Rayyan menggoda.
"Memang aku cantik,makanya kamu tergila-gila padaku,"ucap Arina dengan napas terengah-engah.
Rayyan semakin kencang tertawanya.
"Ternyata tingkat percaya dirimu tinggi,"ucap Rayyan.
...****************...
Pagi itu di kediaman keluarga Tio, disibukkan oleh tingkah Rangga yang mulai berjalan dan aktif bergerak. Ditambah repotnya Tio karena sang istri dari tadi muntah.
"Aku panggil dokter,ya? tawar Tio.
"Tidak usah,Mas. Mungkin hanya masuk angin,"ucap Sarah.
"Baiklah, memang itu mau kamu!"
"Kamu berangkat ke kantor saja!"ucap Sarah.
"Aku tidak mau, sebelum kamu sehat!"tolaknya.
"Aku tetap akan menjaga kamu!"ucap Tio tegas.
Sarah kembali muntah dan kelihatan lemas tak lama kemudian ia pingsan.
"Sayang!"teriak Tio kemudian mengangkat tubuh istrinya ke dalam kamar. Ia pun menelepon tetangganya yang juga seorang dokter.
Tak lama kemudian, Dokter Rino datang dan memeriksa Sarah.
"Apa yang terjadi dengan istri saya,Dok?"
"Kemungkinan istri anda hamil,"ucap Rino.
"Apa? Istriku hamil,"tanya Tio bahagia.
"Saya mau tanya kapan terakhir menstruasi?"tanya Rino.
"Saya kurang tahu,Dok!"jawab Tio.
"Ternyata, saya salah nanya orang,"batin Rino berucap. "Kalau begitu bawa istri anda Dokter kandungan,anda akan mendapatkan penjelasan lebih detail dari beliau,"ucapnya menjelaskan.
"Baiklah,Dok. Terima kasih!"ucap Tio.
Tak lama Dokter Rino pergi, Sarah terbangun dan memijit pelipisnya.
"Sayang!"peluk Tio."Kita ke rumah sakit sekarang!"ajaknya.
"Aku tidak sakit, Mas!"ucap Sarah.
"Kata Dokter Rino kamu hamil,"ujar Tio.
"Apa?"Sarah terkejut.
"Mengapa terkejut?Kamu tidak senang kalau hamil,"ucap Tio .
"Rangga masih kecil,Mas!"
__ADS_1
"Namanya juga rejeki, tidak mungkin kita tolak."
"Iya juga, maaf Mas!"ucap Sarah lirih.
"Ganti pakaianmu,kita ke Dokter Monica."
Sarah pun bergegas mengganti pakaiannya dan pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana mereka harus menunggu karena Dokter Monica harus menangani pasien melahirkan.
Setengah jam menunggu akhirnya mereka bisa berkonsultasi dengan Dokter Monica.
"Usia kandungan Nona Sarah 7 minggu,"ucapnya.
"Harus libur lagi,"gumam Tio lesu.
"Libur apa ,Tuan?"tanya Dokter Monica.
"Hm..bukan apa-apa,Dok!"ucap Sarah tersenyum nyengir.
"Oh,kalau begitu. Jangan terlalu lelah dan stres!"ucap Dokter Monica lagi.
"Oh,iya. Terima kasih,Dok!"
"Sama-sama,Nona!"
Mereka pun pulang dengan hati senang. Di perjalanan pulang Tio selalu menanyakan keinginan istrinya itu.
"Kamu yakin tidak ingin sesuatu?"tanya Tio.
"Tidak,Mas! Aku lagi tidak ingin apa-apa,"ucap Sarah lembut.
"Oh,ya sudah kalau begitu!"ucap Tio.
Sarah tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Tidak sia-sia juga kita menabung bibit,"ujar Tio.
Sarah mendongakkan kepalanya dan memukul pelan dada suaminya. "Memangnya,anak kita tanaman!"protesnya.
Tio tersenyum lalu menoel hidung istrinya.
"Kamu tidak lapar?"tanya Tio.
"Tidak, Mas!"
"Dari tadi pagi kamu belum sarapan,"ucap Tio.
"Tapi aku tidak selera makan,Mas!"
"Kamu mau ayam bakar Mama Maya?"
Sarah menggelengkan kepalanya.
"Lalu kamu mau makan apa?"
"Aku ingin minum jus mangga,Mas!"
"Aku akan telepon Bik Da untuk buatkan jus mangga,"ucap Tio. Ia pun menelepon salah satu pelayan rumahnya.
"Bagaimana ?"
"Aku sudah telepon, mereka akan mencari buah mangga,"ujar Tio.
"Tapi kalau tidak ada, bagaimana?"
"Biarkan saja mereka mencarinya,"jawab Tio santai.
Sesampainya di rumah Bik Da sudah menyiapkan segelas jus mangga. Sarah pun menyedot jus namun perutnya kembali bergejolak ia memuntahkan jus yang baru saja diminumnya.
"Makanya kamu makan, jangan minum jus!"omel Tio.
"Aku cuma mau minum jus saja, Mas!"ucapnya lirih.
"Kamu harus makan setelah itu boleh minum jus,"omel Tio lagi.
__ADS_1