Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
SJC2-bag. 4


__ADS_3

"Kamu dari mana? Pagi-pagi begini baru pulang," panggil Setya saat putranya baru memasuki rumah.


"Aku dari rumah Agnes, Pa."


"Kenapa baru pulang pagi ini?"


"Dia tak membukakan pintu, jadi aku menunggunya di mobil. Sampai akhirnya ia mengizinkanku masuk," jelasnya.


"Apa dia sudah memaafkanmu?"


"Papa bisa tanyakan langsung pada Agnes," jawabnya.


"Baiklah, Papa akan menanyakannya."


Di kantor, Agnes belum bisa kembali bekerja. Jadi Satria mengerjakan tugas-tugasnya sendiri walaupun dibantu beberapa karyawan yang lainnya.


Satria melirik meja sekretarisnya itu. "Sepi juga tidak ada dia," gumamnya.


Ia tersenyum mengingat kejadian semalam bersama wanita di rumahnya. Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


"Satria, kamu harus ke luar kota hari ini juga," titah Setya.


"Hari ini, Pa?"


"Iya, bersama Wisnu. Ada masalah di kantor cabang," jawab Setya.


"Baiklah, Pa."


Setelah mendapatkan perintah dari papanya, ia mengirimkan pesan kepada Agnes.


'Hari ini aku mau ke luar kota, cepat sehat '


Agnes yang menerima pesan menautkan kedua alisnya. "Satria?" gumamnya. Lalu ia tersenyum.


...****************...


Beberapa hari kemudian, Agnes telah kembali ke kantor. Pesan yang dikirim Satria sekali itu saja.


Agnes melakukan rutinitasnya seperti biasa. Lagi fokus dengan pekerjaannya, Kesya datang menemui Agnes.


"Di mana Satria?"


"Anda kekasihnya, masa tidak tahu dia ke mana," jawab Agnes ketus


"Kalau tahu, tidak mungkin aku ke sini. Menghabiskan waktu saja," Kesya mulai ngedumel.


"Dia lagi di luar kota bersama Tuan Wisnu," jelas Agnes tanpa menatap.


"Oh, makasih." Jawab Kesya singkat, ia pun membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan kantor kekasihnya.


Sebuah pesan, masuk ke ponselnya.


"Satria," gumamnya. Agnes membaca isi pesan yang dikirim atasannya itu. 'Jangan lupa makan siang, aku merindukanmu.


"Kenapa dia mengirimkan pesan kepadaku seperti ini? Harusnya Kesya, dia 'kan kekasihnya," gumamnya lagi.


*


*


"Bagaimana Kak Wisnu? Apa kita bisa pulang hari ini?" tanya Satria.


"Sebentar lagi kita pulang. Kenapa kau jadi tidak sabaran begini?"


"Tidak apa, Kak."


"Kamu harus bisa menjelaskan hasil rapat kita tadi," ucap Wisnu.


"Iya nanti, aku akan menjelaskannya pada Papa," tutur Satria.


"Baiklah, kita pulang. Apa kau merindukan sekretarismu itu hingga jadi gelisah begini?" tanyanya menyindir.

__ADS_1


"Tidak, mana mungkin aku merindukannya. Ada Kesya di hatiku," ucap Satria salah tingkah.


"Oh, ya. Berarti aku boleh dong jodohin Agnes dengan temanku," ungkap Wisnu.


"Ya, itu kalau Agnes mau," ujar Satria.


"Kenapa kau yakin sekali dia menolak pilihanku?"


"Tebak aja."


"Semoga saja tebakan kau benar," celetuk Wisnu.


...****************...


"Satria, ini Raka yang akan menggantikan Tuan Derry." Ucap Wisnu memperkenalkan temannya. Posisinya di bagian keuangan.


"Ini teman yang kakak maksud?" tanya Satria.


"Pagi, Tuan. Saya Raka, senang mengenal anda," ucap pria itu tersenyum ramah.


"Pagi juga. Pastinya kau sudah tahu siapa namaku," ujar Satria dingin.


"Iya, usianya lebih muda 3 tahun dariku. Ku harap kalian bisa bekerja sama," jelasnya


"Ya, semoga saja dia profesional dalam bekerja." Ceplos Satria.


"Di mana Agnes?" tanya Wisnu.


"Untuk apa Kakak mencarinya?"


"Aku ingin mengenalkannya pada dia," jawab Wisnu.


"Tidak perlu, nanti saja mereka berkenalan." Ujar Satria.


"Baiklah, kalau begitu aku harus kembali. Raka bekerjalah dengan baik, Agnes itu orangnya cantik," Ucap Wisnu melirik anak mantan majikannya.


Satria berdecak kesal. "Silahkan ke ruanganmu!"


"Baik, Tuan!"


"Sepertinya dia selangkah lebih maju dariku. Sial!" gumamnya.


"Agnes!" panggil Satria.


"Iya, Tuan."


"Kau mau ke mana?"


"Aku mau makan siang dengan Raka. Dia baru di sini jadi belum mengenal yang lainnya," jawab Agnes.


"Dia bisa makan siang sendiri, kamu temani aku. Ada beberapa laporan yang belum selesai, ke ruangan aku sekarang!" titahnya.


Agnes menoleh ke arah Raka. "Maaf aku tidak bisa menemani kamu makan siang!"


"Tidak masalah, Agnes. Lain waktu kita bisa makan bareng," ucap Raka.


"Eheem.. sudah siap bicaranya?" tanya Satria.


"Sudah, Tuan. Saya permisi," pamit Raka meninggalkan mereka berdua.


Satria berjalan ke ruangannya disusul Agnes. "Kalian cepat akrab, ya?" tanyanya menyindir.


"Ya, karena mungkin karyawan yang ia kenal di sini baru cuma saya," jawab Agnes.


"Oh, sebelumnya kalian sudah kenal?"


"Sudah di rumah Mayang," jawabnya.


"Sepertinya dia sainganku," gumamnya.


"Apa, Tuan?"

__ADS_1


"Oh, tidak ada."


"Mana laporan yang akan saya kerjakan?" tanya Agnes.


"Tidak ada, aku hanya ingin berdua saja denganmu."


"Jangan aneh. Ini kantor!"


"Oh, jadi kamu mau di mana?" tanya Satria tersenyum.


"Kalau tidak ada, lebih baik aku keluar dan makan siang," jawab Agnes bersiap keluar ruangan


"Eh, tunggu." Satria menarik tangan Agnes. "Kita makan di sini saja, aku sudah memesan makanan." Ucap Satria lalu melepaskan genggamannya.


"Aku segan harus makan berdua denganmu," ucap Agnes.


"Tak perlu segan, santai saja." Ujar Satria. Suara ketukan pintu terdengar. "Pasti itu OB yang mengantarkan makanan untuk kita. Biar aku yang buka!" ucapnya.


"Ini pesanan Bapak," Office Boy kantor menyodorkan satu kantong kertas coklat berisi makanan.


"Oh, ya. Terima kasih, kembalian untuk kamu saja," ucap Satria.


"Terima kasih, Tuan."


"Ya, sama-sama."


Satria pun menghampiri Agnes yang duduk di sofa tamu. "Ayo, kita makan!" ia membuka isi kantong terdapat dua wadah plastik berisi makanan. Ia menyerahkan seporsi untuk sekretarisnya itu. "Silahkan," ucapnya.


"Aku akan ambilkan air putih," Agnes beranjak berdiri dan berjalan ke arah dispenser ia menuangkan air ke dalam dua gelas kaca dan membawanya ke meja.


"Terima kasih," ucap Satria tersenyum.


Agnes menjawabnya dengan tersenyum.


"Ini makanan kesukaan kamu," ucap Satria.


"Kau tahu saja makanan favoritku," sahut Agnes.


"Ya, tahu dong. Aku sering melihatmu makan dengan lauk begini," Satria menunjuk ayam sambal ijo.


"Sebegitu perhatiannya dirimu padaku?"


Satria tersenyum. "Aku 'kan penggemar rahasiamu," ucapnya.


"Oh, ya. Aku jadi merasa tersanjung," ujar Agnes tersenyum.


"Kau tersenyum makin cantik," ucap Satria.


"Kemarin kekasihmu datang ke sini?"


"Terus?"


"Dia mencarimu. Apa kamu tidak mengabarinya jika lagi di luar kota?" tanya Agnes.


"Tidak, aku sengaja tak mengabarinya.


"Kenapa?"


"Aku ingin putus darinya."


"Bukankah kamu begitu mencintainya?" selidik Agnes.


"Kau berkata begitu, apa tidak cemburu?" Satria menarik sudut bibirnya.


Agnes tertawa kecil. "Apa aku kelihatan cemburu? Kita tak punya hubungan apa-apa, hanya sebagai atasan dan bawahan tidak lebih," ujarnya.


"Kalau aku menganggap lebih. Bagaimana?"


"Kau sengaja, ya. Ingin aku menderita dengan harapan palsu cintamu," jawabnya.


"Seburuk itukah aku di matamu?" tanya Satria.

__ADS_1


"Kau mau Kesya, marah-marah padaku dan ia akan menuduhku sebagai perusak hubungan orang," jawab Agnes menenggak air putih.


"Jika dia menyakitimu atau menyentuhmu. Hal yang sama ia akan rasakan juga," ujar Satria.


__ADS_2