Salah Jatuh Cinta

Salah Jatuh Cinta
Kehilangan


__ADS_3

Tio memegang erat tangan Sarah menyusuri lorong rumah sakit, saat sarapan pagi mereka mendapatkan kabar dari Papa Hendra bahwa Kakek Jayana masuk rumah sakit dan kondisinya drop.


"Papa,"panggil Tio menghampiri Hendra."Bagaimana kondisi kakek?"tanyanya.


"Kondisi Kakek semakin drop,"jawab Hendra lesu.


Tante Citra terlihat meneteskan air mata dan Celin yang di sebelahnya terus merangkul ibunya.


Ayah Ryan dan Ibu Lena pun juga datang.


Tak lama kemudian Dokter keluar ruangan pemeriksaan lalu berkata,"Maaf !"


"Bagaimana dengan Kakek saya ,Dok?"desak Tio.


"Dia sudah meninggal!"jawab Dokter mengelus bahu Tio. Dokter yang menangani Jayana adalah dokter pribadi keluarga selama 20 tahun, kebetulan ia bertugas pagi ini .


Jerit tangis Citra begitu kencang di susul Celin. Sarah yang berada di dekat Tio memeluknya. Hendra dan Ryan masuk ke dalam ruangan melihat jasad Jayana.


Pemakaman jasad Jayana akan dilakukan hari ini juga,Mama Maya dan Tari datang melayat di rumah keluarga Hendra. Citra terus menangis di depan tubuh kaku lelaki yang menjadi ayahnya.


Mama Maya memeluk mantan adik iparnya itu."Ikhlaskan,kamu harus kuat!"ucapnya.


"Aku banyak salah padanya,aku belum bisa menjadi anak diharapkannya!"ucapnya terisak, sebelum kepergiannya. Citra yang merawat ayahnya selama sepekan karena Hendra sibuk menjalankan perusahaan.


Sore hari Jayana dimakamkan dekat dengan istrinya.


Hendra dan Tio tak mampu berkata hanya mata berkaca-kaca mewakili perasaan mereka. Sarah setia berada di dekat suaminya. Selesai pemakaman mereka kembali ke rumah masing-masing kecuali Citra dan Celin yang kembali ke rumah utama.


...****************...


Seminggu sudah kepergian Jayana, mereka kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Tio kembali ke kantornya, kerja sama dengan perusahaan Reno akan segera dilaksanakan. Tio mengundangnya makan malam di kafe .


"Saya turut berduka atas kepergian Tuan Jayana,maaf saya tidak bisa datang,"ungkap Reno.


"Terima kasih, tidak apa-apa Reno!"ucap Tio tersenyum."Silahkan, duduk!"tawarnya.


Reno pun duduk selain Tio ada juga Seno dan Arina . Tio yang tahu Arina bisa bernyanyi menyuruh asistennya itu untuk mengatakan kepada penyanyi kafe agar memanggil nama Arina . Seno pun menurutinya. Ketika asyik mengobrol , penyanyi kafe memanggil nama Arina membuat ia sedari tadi diam menoleh ke arah suara dan melirik ke kanan dan ke kiri.


"Arina kamu di panggil !"celetuk Tio.


"Saya,Tuan!"menunjuk dirinya.


"Iya,kamu!"sahut Seno.


"Tapi saya tidak bisa menyanyi,"tolak Arina.


"Bukankah kamu sering menyanyi di acara kantor?"tanya Tio.


Penyanyi kafe terus memanggil namanya.


"Sudah sana !"celetuk Tio."Kamu mau saya pecat!"ancamnya.


Arina mengerucutkan bibirnya lalu menggerutu,"Dasar bos,sesuka hatinya saja!"


Reno dari tadi hanya melihat perdebatan kecil antara bos,asisten dan sekretarisnya itu. Ia tersenyum tipis saat Arina menaiki panggung kecil.


Arina terlihat gugup apalagi harus menyanyi di depan orang yang sudah membuatnya terluka. Ia akhirnya menyanyikan sebuah lagu dari band Vagetoz.


Kau telah tancapkan luka di hatiku


Membekas perih masih terasa

__ADS_1


Kucoba meredam semua yang terjadi


Namun tetap saja 'ku tak bisa


Mungkin terlalu dalam sakit yang kini kurasa


'Ku menyesal telah mencintaimu


Semua ini bukanlah yang kuharapkan


Kau berikan cinta sesaat untukku


Ternyata 'ku salah menilai dirimu


Memang kau tak pantas menjadi milikku


Setelah kutahu siapa dirimu


Semakin besar kebencianku


Musnah sudah harapan 'tuk bersama


Tibalah akhir sebuah cerita


Mungkin terlalu dalam sakit yang kini kurasa


'Ku menyesal telah mencintaimu


Semua ini bukanlah yang kuharapkan


Kau berikan cinta sesaat untukku


Ternyata 'ku salah menilai dirimu


Memang kau tak pantas menjadi milikku


Memang kau tak pantas menjadi milikku


"Lihatlah mereka bertepuk tangan untukmu!"puji Tio.


"Kamu ternyata berbakat juga !"celetuk Reno yang sedari tadi hanya diam dan memandang Arina bernyanyi.


"Terima kasih,Tuan!"ucap Arina menunduk. Padahal hatinya menangis,sejak pertemuannya dengan Ibunya Reno ia sama sekali hilang komunikasi dengan pria yang hanya berpura-pura mencintainya.


"Saya izin kembali ke kantor, ada klien yang ingin bertemu!"ucap Reno."Terima kasih ajakan makan siangnya!"lanjutnya.


"Sama-sama !"jawab Tio.


Ia pun berpamitan,Arina hanya menatap nanar punggung Tio.


"Ayo, pulang!"ajak Seno pada Arina,namun ia masih melamun. "Arina,kamu mau di sini aja!"panggil Seno sekali lagi.


"Oh,tidak. Ayo,kita pulang Tuan!"ajak Arina.


"Saya memang dari tadi ngajak,kamu saja yang melamun!"gerutu Seno.


Malam harinya di apartemen Arina."Aku harus menghapus kontak teleponnya,aku harus benar-benar melupakan dia. Aku yakin dia tak pernah serius denganku!"celoteh Arina kesal.


Sementara itu Mischa menemui seorang temannya yang kemarin ia jumpai.


"Namanya Arina,ia bekerja di perusahaan Jaya Grup. Dia sekretaris Tio Mahendraya,"jelas Mischa.

__ADS_1


"Jadi Reno mencinta wanita itu!"sahut pria itu menyesap kopinya.


"Iya,apa 'sih istimewanya wanita itu di mata Reno?"celoteh Mischa.


Pria itu tersenyum sinis dan berkata,"Kamu bandingkan saja antara dirimu dan dirinya,mengapa Reno bisa jatuh cinta padanya?"


"Jelas aku lebih dari dia!"ucap Mischa sombong.


"Kamu mau aku berbuat apa?"tanyanya.


"Aku tak mau apa-apa,cuma sekedar curhat dengan kamu saja!"imbuhnya.


"Aku tahu maksudmu Mischa,kamu ingin menyingkirkan dia dari hidup Reno!"tebak pria itu.


"Aku ingin menyingkirkannya tapi aku tidak mau menyakitinya, jika aku buat dia begitu seakan aku wanita yang kejam!"ungkapnya dengan nada ragu.


"Serahkan semua padaku!"ucap pria itu.


"Kalau Reno tahu, bagaimana?"tanya Mischa.


"Aku pastikan,dia tidak akan tahu!"jawab pria itu.


"Aku percaya padamu!"ucap Mischa senang.


...****************...


Pagi ini terasa mendung seperti hati Arina yang mendung setelah pertemuannya dengan Reno.


Hari ini mereka akan pergi ke lokasi proyek.


"Maaf,Tuan. Saya bisa izin,"ucap Arina pada Tio setibanya di kantor.


"Izin untuk?"


"Saya lebih baik tidak usah ikut ke lokasi proyek,"jawab Arina.


"Kenapa? kamu sedang sakit atau apa gitu?"tanya Tio.


"Jawab apa ini aku? kalau ku bilang sakit nanti aku benaran jadi sakit,"batinnya.


"Malah ngelamun,"sentak Tio.


"Oh,maaf Tuan. Saya ingin di pindahkan ke lokasi proyek lain saja,"pintanya.


"Di proyek lain sudah ada Seno biarkan saja dia yang mengurus itu,kamu ikut saya saja!"ujar Tio.


Arina berusaha ingin menghindar dari Reno. Berbagai alasan ia kemukakan agar Tio memindahkannya.


"Saya bilang tidak,lagian tempatnya terlalu jauh,"jelas Tio.


Akhirnya Arina tidak dapat menolak permintaan atasannya itu. Sejam perjalanan mereka menuju lokasi, Reno lebih awal sampai di tujuan.


"Maaf, saya terlambat membuat anda menunggu!"ujar Tio.


"Tidak masalah,saya juga baru sampai!"ujar Reno.


"Ayo, kita keliling!"ajak Tio.


Arina mengekori dua pria yang berjalan beriringan di depannya. Ia hanya mendengar percakapan keduanya dan Tio menjelaskan secara tepat pada Reno. Cuaca di lokasi proyek terasa sangat panas, hingga ia berkali-kali menghapus keringatnya.


Baru separuh perjalanan mengelilingi lokasi, telepon Tio berdering."Maaf ,saya tinggal angkat telepon dari istri,"ucap Tio pada dua orang di dekatnya.

__ADS_1


"Silahkan!"sahut Reno.


__ADS_2